Tampilkan postingan dengan label KISAH INSPIRATIF ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH INSPIRATIF ISLAM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Desember 2012

ARTI ORANG TUA

Pada ujian akhir penerimaan raport di sebuah pesantren, tampak seorang santri putra tak henti-hentinya senyum terkulum di bibir mungilnya. Wajah imutnya menghiasi panggung kehormatan haflah (acara perpisahan) karena menyabet predikat santri teladan tahun ini. Anak 10 tahunan ini mampu melampaui nilai-nilai akumulasi kepribadian kakak-kakak kelasnya.

"Apa yang menyebabkan Adik bisa terpilih sebagai santri teladan tahun ini?" tanya MC kepadanya.
"Saya tidak tahu, tapi ini adalah hadiah dari Allah swt untuk saya." jawabnya polos
"Apa yang membuat dewan Asatid memilihmu, bahkan kamu bisa mengalahkan kakak-kakak kelasmu?"
"Ya.. Tugas saya cuma belajar, jadi gak ada yang istimewa dalam diri saya!"
"Ada laporan bahwa kamu sangat rajin dalam belajar dalam mengulang-ulang pelajaran, betul?"
"Betul!"
"Apa yang membuat kamu begitu rajin belajar?"
"Ibu saya!"
"Kenapa dengan Ibumu?"
"Karena ibu selalu mendoakan saya jadi anak shalih, berguna dan bermanfaat bagi lainnya!"
"Jadi kamu terpilih jadi santri teladan karena ibumu?"
"Ya!"
"Apa yang menjadikan ibumu sebagai sosok penting dalam hidupmu?"
"Karena ibu saya seorang wanita shalihah."
"Apa yang ibu ajarkan kepadamu?"
"Banyak!"
"Salah satunya apa?"
"Beliau Selalu berterima kasih pada pemberian ayah saya, walau sekecil apapun. Dan juga tak lupa ibu menyuruhku tersenyum meski sesusah apapun!"
"Bagaimana ibumu bisa sehebat itu?"
"Karena ayah saya selalu memberi contoh untuk selalu bersyukur dengan ikhlas dalam setiap perbuatan."

Jawaban anak kecil itu benar-benar menyentuh hati para hadirin. Isak tangis pun terdengar dimana mana. Sang kyai dengan bangga dan terharu memeluk anak didiknya.

"Anakku, mana ibu bapakmu, suruh mereka naik ke atas panggung. Berkat mereka kamu jadi anak yang shalih!" kata sang kyai.
Santri belia itu hanya terdiam, kemudian menjawab, "Maaf pak kyai, saya tidak berani memanggil Bapak ibu saya untuk bisa hadir."
"Kenapa, nak?"
"Karena mereka sudah dipanggil oleh Allah swt!"

(Sumber: CAP Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)

IBLIS MAU TOBAT ?

Satu ketika nenek moyangnya setan yang bernama Iblis mendatangi Nabi Musa AS.
Ia berkata:
"Wahai Musa, Engkau adalah manusia yang diutus oleh Allah, dan Dia telah berfirman kepadamu secara langsung."

Melihat gelagat yang kurang enak maka Nabi Musa alaihi salam menjawab:
"Ya, benar. Apa yang kamu inginkan dan kamu ini siapa?"

Jawab Iblis:
"Aku iblis, wahai Musa! Dan katakan kepada Tuhanmu, ada diantara makhluk-Mu yang mau bertobat."

Nabi Musa sangat hati-hati dalam menghadapi Musuh para nabi ini. Kemudian Diapun berkata pada Allah apa yang dikatakan iblis kepadanya, dia tak ingin berbuat sesuatu tanpa perintah dari Allah.

Kemudian, setelah munajat, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS:
"Katakan padanya bahwa Aku menerima permohonannya. Dan sekarang perintahkan dia untuk sujud perhormatan kepada kuburannya Nabi Adam AS. Kalau dia mau bersujud (penghormatan) kepada Adam, Aku mau menerima tobatnya."

Setelah mendapat wahyu, nabi Musa AS segera memberitahukan berita ini kepada iblis.
"Kalau kamu pengin taubat, datangilah kuburan Adam alaihi salam, dan berilah sujud penghormatan kepada beliau!"

Tapi apa, iblis justru marah-marah dan dengan congkak mengumpat-umpat (misuh-misuh) pada nabi musa as.

Iblis membantah:
"Wahai Musa, aku sudah tidak sujud ketika Adam masih di surga, lalu bagaimana mungkin aku sujud padanya yang sudah mati. Diperintah oleh Allah untuk sujud saja aku menolak, apalagi yang memerintah adalah kamu yang hanya seorang nabi."

Sambil berlalu, iblis tetap mengumpat-umpat dan berjalan sambil terkentut-kentut, karena itulah salah satu kebiasaan iblis.

(Sumber: Majalisus Saniyah)

SANTRI DAN SEMUT

Namanya Az Zamakhsyari. Ia seorang ulama terkenal, ahli dalam banyak ilmu pengetahuan agama. Namun, ia lebih terkenal sebagai tokoh ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab).

Menjadi ahli dalam ilmu bahasa bagi Az Zamakhsyari adalah keberhasilan yang boleh dibilang sebagai prestasi dan kesuksesan luar biasa dalam menghadapi rintangan. Betapa tidak, sejak kecil ia telah mempelajari ilmu nahwu, tetapi hingga menginjak remaja ia tak kunjung paham dengan ilmu yang dipelajarinya.

Bayangkan, selama bertahun-tahun belajar untuk membedakan antara subyek (mubtada) dan obyek (khabar) saja ia tidak bisa. Tak paham mana kata benda (isim) dan mana kata kerja (fi'il). Sementara teman-temannya, hampir semuanya telah mengusai ilmu itu. Bahkan ada di antara mereka yang diberi tugas untuk mengajar adik-adik kelas mereka.

Kenyataan ini nyaris membuat Az-Zamakhsyari putus asa. Ia merasa malu dengan usianya yang semakin tua tetapi belum tahu apa-apa, apalagi ia harus duduk dan belajar bersama anak-anak yang jauh di bawah usianya.

Di tengah kegalauannya, ia pun meninggalkan pesantren di mana sekarang ia diami, pergi merantau untuk mencari ilmu di tempat lain. Tanpa pamit pada sang kyai. Karena jelas nantinya pak kyai tak akan memberinya izin.

Setelah cukup jauh berjalan, ia mampir berteduh di sebuah rumah. Ketika sedang beristirahat sambil menyandarkan punggungnya di tembok, ia melihat seekor semut kecil sedang menggigit sisa kulit korma. Semut itu berusaha menarik kulit korma yang ukurannya lima kali lipat lebih besar dari tubuhnya, ia tarik dengan mulutnya ke lubang di tembok itu. Berkali-kali ia melakukannya namun selalu gagal, kulit korma selalu jatuh ke tanah.

Az-Zamakhsyari terpaku melihat kelakuan semut itu, yang mempunyai keuletan dan kegigihan yang mengagumkan. Setelah berkali-kali gagal, ternyata sang semut akhirnya berhasil membawa naik kulit korma itu dengan cara dipotong kecil-kecil seukuran mulut mungilnya.

Saat itu muncullah pemikiran dalam benak Az-Zamakhsyari,
“Seandainya aku melakukan seperti yang dilakukan semut ini, niscaya aku juga akan berhasil.”

Setelah mengucapkan itu, ia pun menyesal perbuatannya lari dari pesantren. Dia memutuskan untuk kembali ke pesantrennya dan membatalkan niatnya untuk merantau. Ia pun menyesali perbuatannya di hadapan pak kyai. Dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Ia bertekad tak akan kembali ke rumah sebelum menguasai ilmu-ilmunya pak kyai.

Hasilnya, dalam waktu tak lebih dari 3 bulan, ia pahami ilmu di pesantren itu sedikit demi sedikit hingga sang kyai pun akhirnya menunjuknya sebagai wakilnya (badal) menggantikan sang kyai ketika sang kyai udzur. Inilah ilmu, seperti semut membawa kulit kurma. Az-Zamakhsyari akhirnya benar-benar meraih impiannya. Ia menguasai ilmunya sedemikian rupa. Bahkan, ia menjadi tokoh nahwu yang sangat disegani.

Cita-cita yang luhur, yang di dalamnya terkandung tekad, semangat dan kerja keras, memang seringkali membuat orang tidak mau berhenti. Bahkan, seekor semut pun, menghayati semangat ini. Apalagi kita, manusia yang telah dimodali akal, pikiran dan perasaan. Harusnya lebih dari semut yang mengandalkan insting belaka.

(Sumber : CAP Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)

Rabu, 17 Oktober 2012

TENTARA MASUK PESANTREN

Tak sengaja, sampailah Ibrahim bin Adham pada sebuah pasar di tengah kota Bashrah. Pasar yang begitu becek akibat terguyur hujan malam tadi. Pedagang-pedagang sangat berterima kasih atas kehadirannya di tengah-tengah mereka. Semua saling berkeroyokan berebut menyalaminya. Bagaimana tidak bangga, Ulama agung yang selama ini menjadi panutan hadir dan mau bertemu bermasyarakat, bertutur sapa dan duduk bersama.

Di tengah-tengah keasyikan mereka, sekumpulan tentara berjalan tegap dan berbaris rapi di atas tanah yang sedikit tergenang air. Para pedagangpun segera minggir supaya tidak tertabrak tentara-tentara muda itu. Tangan serempak yang terayun menimbulkan bunyi yang selaras. Sang komandan begitu antusias sekali menunjukkan kegagahan mereka di tengah pasar.

Hap.. Hap kiri kanan
Hap.. Hap kiri kanan

Tak peduli, Crat.. Crat air jalanan becek injakan kaki mereka muncrat kesana kemari mengenai baju, pakaian dan makanan yang dijajakan oleh para pedagang kota bashrah. Para pedagang dengan dongkol hanya bisa memadangi mereka dilambari rasa jengkel pada tentara pengaman itu. Merasa dipandangi, sang komandan memberhentikan pasukannya.
"Pasukan.. Berhentiii... Grak!"

Tanpa lama sang komandan muda itu segera mendekati kaum pedagang yang bajunya pada belepotan tanah liat becek yang terciprat.

"Apa kamu melotot saja! Gak terima kena cipratan tanah becek hah? Kalau gak terima, sana... Pergi saja dari sini, jangan jualan di kota bashrah."

Plak.. PLak

Dua pukulan tangan komandan itu melayang di pipi salah seorang yang bergerombol di pinggir jalan. Ia hanya diam saja sambil memandangi sang tentara muda dengan senyum. Dengan ramah orang tua itu berkata,
"Tuan seharusnya sebagai pelindung para pedagang bukan malah menakut-nakuti. Tuan seharusnya memberikan keuntungan bagi para pedagang dengan tugas anda sebagai tentara pengaman, bukan memberi kerugian dengan mengotori dagangan mereka. Bayangkan siapa yang mau membeli makanan yang berlumuran dengan lumpur?
Betapa banyak kerugian mereka karena dagangan tak laku dan terbuang percuma. Bayangkan kalau diri anda adalah pedagang, atau bayangkan bahwa diri anda adalah putra dari pedagang seperti mereka. Apa yang ada dalam pikiran anda, Anda susah apa senang?"

Setelah berucap demikian orang tua itu segera berlalu. Ucapan itu begitu menghujam dalam hati komandan muda. Ia pun kemudian bertanya pada salah seorang pedagang.
"Hai fulan, kamu tahu siapakah orang tua itu?"
Dengan rasa tak senang pedagang itu menjawab, "Dia adalah Tuan Ibrahim!"
"Ibrahim siapa? Di bashrah ini ratusan bahkan ribuan orang bernama Ibrahim!"
"Ibrahim bin Adham!"

Para pedagangpun segera bubar. Kini tinggal ia dan pasukannya terbengong-bengong. Tak menyangka bahwa ia bisa bertemu dengan ulama besar daerahnya. Namun apa yang dilakukan bukan malah menghormati dan menyalami tapi menampar muka orang yang selama ini menjadi penerang hidupnya melalui teladan dan petunjuknya.

"Siapa diantara kalian yang mengetahui rumah Tuan Ibrahim bin adham?" tanya sang komandan pada pasukannya.
"Saya tahu pak!" jawab salah seorang tentara.
"Di mana?"
"Pinggiran kota pak!"
"Bisa antarkan saya ke rumahnya?"
"Siap pak!"

Esok harinya, dua tentara muda mendatangi ibrahim. Mereka duduk bersila di depan gerbang pesantren dengan berpakaian lengkap ala tentara. Rambut cepat. Dari pagi hingga dzuhur dua tentara itu tak beringsut dari duduknya. Salah seorang santri yang kebetulan tahu segera melapor. Ibrahim bin adham bangkit dari duduk dan menghampiri pintu gerbang dan terjadilah dialog komandan dan ibrahim bin adham.
"Gerbang kami tak berpintu, kenapa tuan tidak masuk saja? Pesantren dan masjid ini milik semua muslim jadi tuan tak usah sungkan-sungkan di sini. Anggap saja di rumah sendiri."
"Kami akan terus bersila di sini sampai tuan memaafkan kami!"
"Bangkitlah kalian berdua, aku sudah memaafkan sebelum kalian datang kemari."
"Kenapa tuan begitu mudah memaafkan, padahal kami berbuat biadap kepadamu?"
"Karena Mukmin tak baik jadi pemarah dan pendendam. Pemaaf adalah kekasih Tuhan, hati tentram dan hidup pun dapat dilalui dalam kedamaian menuju surga dunia dan akherat. Sedangkan Pemarah dan pendendam adalah kekasih setan, hidupnya tak akan nyaman dan hanya ada permusuhan yang akan membawa ke neraka. Ayo bangkitlah kalian berdua, nanti tubuh kalian kotor."
"Kami belum akan bangkit, sebelum tuan guru menerima kami sebagai santri tuan."
Aku bisa saja menerima kalian, tapi bagaimana dengan tugas kalian sebagai tentara?"
"Izinkan kami tinggal di pesantren yang tuan asuh. Pagi kami berangkat tugas sebagai tentara, malam hari kami mengaji."
Baiklah kalau itu kemauan tuan-tuan, kami dengan bangga menyambut kalian sebagai keluarga baru di sini. Semoga betah dan krasan."

Demikianlah sikap dan sifat ulama salafus shalih terhadap umat, semoga kita bisa meneladani dan mengambil hikmah.

(Sumber CAP: Cerita Anak Pesantren, karya Jun Haris)

SYUKUR DI ATAS PENDERITAAN ORANG LAIN

Sirri al-Saqothi adalah salah seorang Sufi, beliau pernah berkata, ”Sudah tiga puluh tahun aku beristighfar kepada Allah hanya karena ucapan al-hamdulillah yang keluar dari mulutku.”

Junaid Al Baghdad

y santri syeikh Sirri As Saqoty bercerita tentang gurunya. "Tentu saja banyak orang menjadi bingung dengan pernyataan guru sirri, lalu Akupun bertanya kepada beliau, ”Wahai Guru, Bagaimana itu bisa terjadi?”

Syeikh Sirri lalu berkata, ”Dulu kala, Saat itu aku memiliki sebuah toko di Baghdad. Suatu saat aku mendengar berita bahwa pasar Baghdad hangus dilalap si jago merah, aku pun tergopoh-gopoh mendengar, sebab tokoku berada tepat di tengah pasar tersebut. Aku bersegera pergi ke sana untuk memastikan apakah tokoku juga terbakar ataukah tidak?

Seseorang sesama pedagang bicara memberitahuku, ”Santai saja kang sirri, daganganmu selamat, api tidak sampai menjalar ke tokomu.”
Terbengong-bengong Aku pun mengucapkan,
”Alhamdulillah!”

Setelah itu banyak hari dan waktu hanya terpikir olehku, ”Apakah hanya engkau saja yang hidup dan berada di dunia ini? Walaupun tokomu tidak terbakar, bukankah toko-toko orang lain banyak yang terbakar. Ucapanmu: "Alhamdulilah" menunjukkan bahwa engkau bersyukur karena api tidak membakar tokomu.
Dengan demikian, engkau telah rela toko-toko orang lain terbakar asalkan tokomu tidak terbakar!"

Lalu aku pun berkata kepada diriku sendiri lagi, ”Tidak adakah barang sedikit perasaan sedih atas musibah yang menimpa banyak orang-orang dan teman-teman sesama pedagang di hatimu, wahai Sirri? Kau bersyukur di atas penderitaan orang lain!”

Junaid Al baghdady melanjutkan kisah kehidupan gurunya, "Dari kejadian kebakaran inilah kemudian syeikh Sirri mengambil dari hadits Nabi, ”Barang siapa melewatkan waktu paginya tanpa memperhatikan urusan kaum muslimin, niscaya bukanlah ia termasuk dari mereka (kaum muslimin).”
"Sudah 30 tahun saya beristighfar atas ucapan al-hamdulillah itu."

Junaid al baghdady berkata, "Akhirnya beliau keluarkan harta bendanya yang ada dan dibagikan kepada masyarakat yang terkena musibah kebakaran, terutama yatim dan fakir miskin. Beliau selalu menerima tamu dan orang-orang yang mengharap derma darinya. Banyak juga anak-anak telantar di jalanan yang hidup tak tentu arah dan tujuan, tanpa orang tua dan saudara. Mereka kemudian diasuh, diadopsi dan dibesarkannya dalam pesantren kami. Bahkan kebanyakan santri-santri di sini adalah anak-anak yatim piatu dan bekas-bekas anak jalanan yang diinsyafkan olehnya. Mereka semua di sini bagai saudara sendiri, makan, pakaian, semua fasilitas dan sarana gratis ia sediakan di pesantren ini asal mereka mau qonaah dan menerima apa adanya."

Subhanalloh...
Adakah di negeri kita yang kepeduliannya terhadap sesama menyamai Syekh Sirri Saqothi rahimahullah. Memberi makan ratusan santri tanpa harus mencari sumbangan kesana-kemari, tanpa yayasan dan akte notaris.
Jika tidak ada layaknya beliau, ada baiknya kita menjadikan sikap beliau sebagai suri tauladan.

(Sumber: CAP, Cerita Anak Pesantren, karya Jun Haris)

NIKAHKANLAH AKU......!

Seorang pemuda ganteng anak kyai yang biasa kami sebut GUS ILHAM menghabiskan banyak waktunya hanya untuk mengaji dan ibadah di pesantren kami, tak terpikir olehnya untuk menikah meski usia sudah 35 tahun. Satu ketika o
rang tua dan kerabatnya bermaksud menikahkannya, ia selalu saja menolak. Ia beranggapan bahwa kesibukannya mengurus istri dan anak-anak hanya akan mengganggu ibadahnya kepada Allah.

Gus ilham disukai banyak orang karena keshalihan dan kesosialannya pada masyarakat, dan banyak diantaranya yang ingin mengambilnya sebagai menantu. Di jaman itu, ukuran keutamaan seseorang di masyarakat adalah akhlak dan keshalehannya, tidak seperti sekarang ini meski shalih tapi tak berharta, tak punya gajian, tak punya profesi mapan maka kemana-mana akan dipandang sebelah mata. Seumpama ada yang shalih yang pekerjaannya hanya ‘sekedarnya’ mungkin hanya satu-dua orang yang berkeinginan menikahkan putrinya atas dasar KESHALIHAN.

Meski banyak sekali orang yang ingin ‘melamar’ gus ilham untuk
dinikahkan dengan putrinya, namun ia menolaknya dgn sopan dan Ia makin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya.

Suatu hari ketika bangun dari tidurnya, tiba-tiba saja pemuda itu berkata,
“Nikahkanlah aku, nikahkanlah aku!!”

Karena kayaknya gus ilham dilanda galau berat, Pak kyai dan para kerabatnya, saling berpandangan penuh keheranan. Ibu Nyai berkata pada anaknya,
“Mengapa tiba-tiba kamu minta menikah tho le, padahal selama ini kamu selalu menolaknya??”

Gus ilham menjawab,
“Dalem (saya, jawa) ingin mempunyai anak yang banyak Umi, dan ada diantara
mereka yang meninggal ketika masih kecil (belum baligh), dan saya akan bersabar karena kematiannya!!”

Sekali lagi Keluarga Ndalem dibuat kebingungan, Pak kyai dan Bu nyai berpandangan tidak mengerti, sepertinya janggal nian keinginan putranya ini. Gus ilham mengerti akan kebingungan abah dan uminya, dan ia menceritakan kalau ia baru saja bermimpi, seolah-olah kiamat telah tiba. Ia berdiri di padang Mahsyar dalam keadaan panas dan haus yang tidak terperikan, seolah-olah panas dan haus akan mematahkan lehernya. Tidak ada sesuatu yang bisa diminum untuk menghilangkan rasa haus dan panas itu, dan sepertinya ‘penderitaan’ itu akan berlangsung sangat lama.

Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ia melihat anak-anak yang berjalan dan bergerak diantara begitu banyak orang dengan membawa gelas-gelas perak yang ditutup dengan saputangan dari cahaya. Mereka itu tengak-tengok kiri kanan mencari-cari seseorang dan ketika menemukan seseorang, mereka berikan minuman dalam gelas tersebut.

Ketika beberapa anak melewatinya, ia mencoba mengulurkan tangan meminta gelas itu sambil berkata, “Berikanlah kepadaku karena aku juga sangat haus!!”

Anak-anak itu menghalangi maksudnya, mereka memandangi gus ilham beberapa saat, kemudian berkata, “Panjenengan (anda, jawa) tidak mempunyai anak diantara kami, dan kami hanya akan memberikan minuman kepada ayah dan ibu kami!!”
Gus ilham bertanya, “Siapakah sebenarnya kalian ini!!”
Mereka menjawab, “Kami adalah anak-anak dari kaum muslimin, dan kami meninggal sewaktu kami masih kecil dan belum baligh, sementara orang tua kami bersabar dengan musibah dari Allah berupa kematian kami!!”

Setelah menceritakan tentang mimpinya Gus ilham berkata kepada Pak kyai dan Ibu nyai beserta kerabat yang mengitarinya, “Saat itu (di padang mahsyar) aku sangat menyesal dan menangisi nasibku karena aku mati sebelum mau menikah. Mungkin itu hukumanku karena ‘tidak mengikuti’ sunnah Rasulullah SAW. Saat aku menangis, tiba-tiba aku terbangun dari mimpi dan semua peristiwa itu ternyata hanya dalam mimpi, walau sepertinya sangat jelas dan terasa nyata. Karena itulah aku berteriak minta segera dinikahkan!!”

(Sumber: CAP, Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)

MATEMATIKA SAHABAT

Seorang lelaki shalih yang mempunyai 3 orang anak lelaki, istrinya telah meninggal dunia. Suatu saat sang bapak memanggil anak-anaknya dan berkata,
“Wahai anak-anakku, kalau kelak aku meninggal, hendaknya kalian tetap ru
kun berkasih sayang dan saling membantu seperti saat ini. Harta peninggalanku, hendaknya engkau bagi sesuai pesanku. Engkau yang tertua, karena telah mapan dan mempunyai penghasilan yang mencukupi, maka memperoleh seper-sembilannya. Engkau yang nomor dua memperoleh seper-tiganya. Dan engkau terkecil memperoleh seper-duanya.
Tetapi ingatlah, kalian harus tetap rukun berkasih sayang dan saling menolong satu sama lainnya. Janganlah bermusuhan hanya karena berebut harta dunia, sesungguhnya kehidupan di dunia itu hanya sesaat…!!”

Beberapa waktu kemudian lelaki tersebut meninggal dunia. Karena anak-anaknya juga shalih sebagaimana didikan ayahnya, maka setelah pemakaman ayahnya, mereka menyelesaikan segala tanggungan orang tuanya tersebut. Setelah tidak ada lagi hutang dan tanggungan lainnya, tugas mereka selanjutnya adalah membagi harta sisa peninggalan (warisan) yang memang menjadi hak mereka bertiga, seperti wasiat ayahnya sebelum meninggal dunia.

Mereka menghitung dan ternyata harta yang masih tersisa berupa 17 (tujuh belas) ekor unta untuk mereka bertiga. Tentu saja mereka kesulitan untuk membaginya sesuai dengan wasiat ayahnya, sebab harta sisa bukan berupa uang yang mudah dibagi, melainkan berupa unta.

Mereka kesana-kemari mendatangi beberapa orang pintar dan bijaksana untuk bisa membagi sesuai wasiat ayahnya, tetapi mereka tetap menemui jalan buntu.

Sampai akhirnya seseorang menyarankan untuk meminta tolong kepada khalifah Ali bin Abu Thalib radiyallahu anhu. Mereka mengirim utusan kepada Khalifah Ali dan beliau bersedia membantu kesulitan saudaranya sesama kaum muslim. Didikan Rasulullah SAW sebagai orang yang zuhud dan tawadhu, membuat Khalifah Ali dengan senang hati mendatangi tempat tinggal mereka dengan menunggangi untanya.

Setibanya di sana, mereka menceritakan permasalahannya, dan Khalifah Ali dengan tersenyum berkata,
“Bawalah unta-unta itu kemari!!”

Setelah unta-unta dikumpulkan di hadapan Khalifah Ali, beliau berkata,
“Aku tambahkan untaku dalam harta warisan ini, sehingga jumlahnya menjadi 18 (delapan belas) ekor. Wahai engkau yang tertua, ambillah bagianmu, seper-sembilannya, berarti dua ekor unta!!”
Anak yang tertua pun kemudian mengambil bagiannya dua ekor unta dengan gembira.
Kemudian Khalifah Ali berkata lagi, “Wahai engkau anak yang nomor dua, ambillah bagianmu. Sepertiganya, berarti sebanyak enam ekor unta!!”
Anak kedua pun kemudian mengambil bagiannya sebanyak enam ekor unta dengan ikhlas dan terharu.

Dan beliau berkata lagi, “Dan engkau, wahai anak yang termuda, ambillah bagianmu seper-duanya, berarti kamu mendapatkan sembilan ekor unta!!”
Anak termuda pun kemudian mengambil bagiannya sebanyak sembilan ekor unta, dan ternyata masih tersisa satu ekor lagi, dan Khalifah Ali berkata,
“Masih tersisa satu ekor, dan ini memang unta milikku tadi, maka aku mengambilnya kembali!!’

Coba anda perhatikan,
18 x 1/9 = 2
18 x 1/3 = 6
18 x 1/2 = 9
Jumlah dari 2+6+9=17
Sahabat Ali meminjamkan 1 ekor untanya supaya berjumlah 18 dan memudahkan dalam pembagian tanpa harus menyembelih unta. Karena angka 17 tak bisa buat membagi pecahan 1/9, 1/3 dan 1/2, yang dalam pembagian unta hidup dan setelah dibagipun unta supaya tetap dalam keadaan hidup. Remeh memang, tapi itu benar-benar tindakan yang luar biasa, yang luput dari pemikiran manusia manapun.

Sungguh benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, “Ana madinatul ‘ilmi, wa aliyyun
baabuuha!!” (Sesungguhnya saya ini kotanya ilmu, dan Ali adalah pintu gerbangnya).

AKU TERPESONA KEJUJURANMU

“Wahai ibu, serahkanlah aku kepada Allah dan ijinkanlah aku pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu mukim di pesantren dan berziarah kepada orang-orang shalih di sana…!!” ungkap Abdul qadir kecil, yang kala itu berus
ia 9 tahunan.

Tentu saja sang ibu terkejut dengan sikap dan permintaan anaknya yang begitu tiba-tiba, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Sang ibu berkata,
“Wahai anakku, kamu masih kecil, kenapa engkau tiba-tiba berkata seperti itu!!”

Abdul qadir menjawab, "Ketika saya bermaksud untuk menggembala sapi kita, aku berjalan mengiringinya yang berjalan di depanku. Saat itu pagi hari tepat tanggal 9 Dzulhijjah, hari Arafah yang mulia di mana kaum muslimin sedang beribadah haji bersiap-siap untuk wuquf di Padang Arafah. Tanpa saya duga, tiba-tiba sapi itu menoleh kepadaku yang berjalan mengikutinya, dan berkata,
“Wahai Abdul Qadir, engkau tidak dijadikan untuk ini, dan engkau tidak diperintahkan untuk mengerjakan ini, kau harus menuntut ilmu dan beribadah kepada-Nya!!”

Sang ibu menangis penuh haru sekaligus pilu mendengarnya, tangisan bahagia dan sedih.
Bahagia, karena ia yakin anaknya akan memperoleh derajad yang mulia di sisi Allah, sebagaimana “isyarat” yang dikandung dari peristiwa yang diceritakan anaknyanya.
Sedih, karena ia harus berpisah dengan putra kesayangannya, dan belum tentu akan bertemu di kemudian hari.
Tetapi sebagai seorang ibu yang sholihah, ia merasa bahwa sudah merupakan kehendak Allah anaknya akan menjalani kehidupan terpisah dengan dirinya, karena itu ia harus merelakan dan meridhoinya.

Pada waktu yang ditentukan, sang ibu menitipkannya pada kafilah yang akan berangkat ke Baghdad, ibunya berpesan, "Anakku, selalu berkatalah benar dan berlaku jujurlah dalam keadaan
apapun dan kepada siapapun. Berangkatlah wahai anakku, aku telah menitipkan engkau kepada Allah. Mungkin wajahmu takkan pernah kulihat lagi hingga datangnya hari kiamat!!”

Sang ibu sebelumnya memberi bekal anaknya 40 dinar dan menaruhnya pada SAKU RAHASIA di bawah ketiak anaknya.

Di tengah perjalanan, sekelompok perampok berjumlah enam puluh orang mengepung kafilah tersebut. Tak ada seorangpun luput dari penjarahan kecuali diambil dan dikuras hartanya. Tetapi Abdul Qadir kecil dibiarkan begitu saja karena ia tampak miskin dan tidak membawa apa-apa. Ternyata ada salah seorang perampok yang secara iseng bertanya, “Wahai bocah miskin, apakah kamu membawa sesuatu?”

Abdul Qadir menjawab,
“Saya memiliki empat puluh dinar!!”
“Di mana?” Tanya perampok itu.
“Terjahit di dalam saku rahasia di bawah ketiakku!!”

Tampaknya perampok itu menganggap Abdul Qadir bergurau atau hanya mengejek, karena itu ia tidak menanggapinya secara serius. Beberapa orang perampok lain yang melihatnya sempat menanyakan hal yang sama, dan Abdul Qadir kecil tidak pernah merubah jawabannya.

Ketika para perampok berkumpul di depan pimpinannya, mengumpulkan hasil jarahannya, sang pemimpin berkata, “Apakah harta mereka sudah kalian ambil semuanya?”

“Sudah semua Boss, hanya saja ada bocah miskin yang mengaku memiliki empat puluh dinar, tetapi saya tidak mempercayainya!!”

Dengan penasaran, maka sang pemimpin memerintahkan agar mendatangkan bocah itu. Abdul Qadir dihadapkan kepada sang pemimpin perampok, ia langsung berkata, “Hai bocah.. Kamu punya apa?”

Abdul Qadir menjawab,
“Saya memiliki empat puluh dinar yang dijahit di dalam saku di bawah ketiakku!!”

Sang pemimpin segera menggeledah ketiak abdul qadir, dan menemukan uang 40 dinar di bawah ketiaknya. Tapi kemudian ia tampak tercenung tak percaya melihat anak kecil di depannya. Ia berkata,
“Wahai bocah, mengapa kamu mengakui memilikinya dan tidak berbohong agar hartamu tidak kami rampas?”

Abdul Qadir kecil berkata, “Ibuku berwasiat agar aku selalu berkata benar dan berlaku jujur dalam keadaan apapun dan siapapun, dan aku tidak akan pernah mengingkari janjiku kepada beliau!!”

Pemimpin perampok itu langsung menangis mendengar kejujuran Abdul Qadir, dan berkata sambil terisak-isak, “Hai bocah, kamu tidak pernah sekalipun mengingkari janjimu kepada ibumu, sedang aku telah bertahun-tahun ‘mengingkari’ Allah, selalu menyalahi dan melanggar laranganNya!! Mulai saat ini aku bertaubat kepada Allah dan tidak akan merampok lagi, aku akan ikut kamu saja!!”

Para anak buahnya yang ikut terperangah kagum dengan kejujuran Abdul Qadir berkata kepada pimpinannya, “Engkau adalah pemimpin kami dalam kejahatan, maka engkau adalah pemimpin kami pula dalam bertaubat, kalau engkau ikut bocah ini, kami pun akan turut serta mengikutinya!!”

Para perompak yang bertaubat itu mengembalikan hasil jarahannya kepada kafilah, dan mengakui Abdul Qadir yang masih kecil sebagai guru mereka, bahkan mereka ikut menuntut ilmu di pesantren yang sama dengan abdul qadir.

(Sumber : CAP Cerita Anak Pesantren, Jun Haris)

Kamis, 20 September 2012

SETEGUK OBAT PEMBAWA LAKNAT

Pada suatu ketika seorang ulama' besar periode Tabi'in keluar dari pesantrennya datang mengunjungi santrinya yang sedang menderita penyakit kronis yang kini ia dalam detik-detik akhir menghadapi sakarotul m
aut.

Pada saat itu si santri sudah tidak mampu untuk bangkit dan berdiri, bahkan santri itupun tak mampu lagi untuk duduk dan berucap sepatah katapun, bahkan mengucapkan syahadat pun ia sudah tak mampu. Sehingga sang kyai terpanggil hatinya untuk membantu meringankan beban santrinya di masa-masa injury time.

Beliau memulai menuntun dan mentalqininya membaca syahadat dengan pelan-pelan, namun lidah murid beliau sama sekali tidak dapat digerakkan untuk berucap syahadat, berulang-ulang kali Mbah kyai terus mengulangi talqinan, si santri tetap tak bergeming. Mulutnya menganga sementara matanya melotot mendelik ke atas dengan pandangan kosong tanpa arti.

Santrinya yang lain berkata:
"Maaf Mbah kyai, sebanyak tuan menuntunnya membaca syahadat, sebanyak itu pula tuan akan menemui kegagalan, ia tidak akan bisa mengucapkannya dan tidak akan mampu melafalkannya. Hal itu telah saya coba sebelum tuan tiba di sini. Saya sudah coba sekuat kemampuan saya, tapi saya tetap menemui kegagalan."

Tak lama kemudian ia meninggal dunia, Sang kyai pun keluar dari tempat santrinya sambil menangis sesenggukan tak kuasa meneteskan air mata karena merasa sedih melihat santrinya
meninggal dunia tanpa mengucapkan kalimat syahadat, mati tanpa iman dan islam di dadanya.

Selang beberapa hari setelah 40 hari kematian si santri, sang kyai bermimpi tentang muridnya, dalam mimpinya ia melihat bahwa si santri sedang tertarik menuju neraka. Sang guru terkejut, lalu beliau bertanya kepada si santri: "Wahai muridku mengapa kamu ketika hendak meninggal dunia tidak bisa mengucapkan syahadat?"

Ia menjawab: "Wahai guruku, dahulu semasa saya hidup, saya mengidap suatu penyakit kronis, kemudian saya berobat kepada seorang dokter, ia menyarankan saya untuk minum obat berupa khomer, aturan minum dan resepnya adalah saya dalam setahun saya harus meneguk satu guci khomer dan jika tidak saya menjalankan saran dan resep dokter, maka penyakit itu akan terus melekat pada diri saya, karena saya ingin segera sembuh, saya pun lakukan saran dokter, setiap setahun sekali saya menghabiskan minuman khomer satu guci."

"Setahun kemudian, karena kesehatan saya sedikit membaik ukuran obat saya setengah guci dalam setahun. Hingga tahun ketujuh ukuran obat saya tinggal satu sloki setahun. Tapi setelah masuk tahun kedelapan penyakit saya kembali kambuh dan waktu itu saya tahu guru datang menuntun saya membaca syahadat, tapi mulut dan lidah saya kelu tak bisa ucapkan yang guru ajarkan."

Sang kyai kemudian berkata, "Sebesar apapun penyakit pasti ada obatnya, kecuali penyakit tua. Allah menciptakan penyakit pasti pula menciptakan obat. Dan Allah tak pernah menciptakan obat dari perkara haram. Bila ada dokter memberi resep obat dari perkara haram, maka ia bukanlah mengobatimu tapi ia justru membunuhmu."

(Sumber: CAP, Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)

NAMAKU HUSAIN V

Aku berjanji dalam hatiku, apabila nanti telah menikah takkan pernah ku biarkan istriku lakukan pekerjaan berat. Wanita bukanlah pekerja tapi dia adalah guru bagi anak-anakku. Akan aku hormati dia sebagai layaknya gu
ru. Aku mulyakan dia seperti layaknya wali murid menghormati kepala sekolah anaknya. Guru anakku, hanya boleh mengajar dan mendidik, tak boleh mencuci pakaian ataupun memasak untuk wali murid, namun wali muridlah yang melakukan semua itu. Aku memandang istriku bukan atas dasar dia wanita, tapi atas dasar Guru Anak-anakku.

Aku di rumah mertua telah 3 hari lamanya. Namun tak pernah ku jumpai dia di rumah ini. Warga rumah inipun tak ku ketahui dan ku kenal kecuali pak gunawan. Hingga karena panik, akupun berinisiatif mencarinya. Kemana gerangan dia. Apakah dia malu menampakkan diri, ataukah ia grogi?
Tapi aku bingung tanya keberadaannya, tanya siapa. Sangat malu bila tanya pak gun.

Segera ku kumpulkan keberanian, ku buang ciutnya nyali untuk bertanya pada salah seorang perempuan yang menurutku adalah adiknya fatimah. Raut muka hampir mirip tapi beda warna kulit wajah dan fisiknya.
"Maaf dik, sejak saya di sini, saya belum bertemu fatimah, sampean tahu dimana dia?"
Dia hanya tersenyum, "Orangnya tiap hari ada di sini mas, gak kemana-mana?"
"Saya sudah mencarinya tapi tak ada."
"Mas saja yang kurang jeli."
"O ya sudah, nanti akan saya cari lagi, matur suwun ya."

Di hari ke 5, mbah kyai datang ke rumah. Ketika aku masuk rumah, beliau sedang asyik ngobrol dengan pak gun dan adiknya fatimah. Aku menyalaminya dan kemudian duduk di sebelah pak gun, mertuaku. Aku diam menunggu apa yang akan dikatakannya.
"Sin, anak ini bilang katanya kamu bingung nyari fatimah?" sambil menunjuk pada adiknya fatimah.
"Bukan begitu pak dhe, dia sendiri saja yang kurang jeli."

Aku diam. Memperhatikan kelakar mbah kyai dan adik fatimah. Kok bisa akrab banget ya..dia panggil mbah kyai dgn sebutan "pak dhe."

Ucapan mbah kyai segera membuyarkan diamku.
"Ya kamu itu nduk yang keterlaluan. Sana cepat minta maaf sama suamimu."
Adiknya fatimah segera mendekati dan bersimpuh di depanku. Ia ambil tanganku dengan kedua telapak tangannya. Aku langsung menolak dan menariknya. Namun terlambat ia sudah memegang tanganku begitu erat.
"Maafin Fatimah ya mas. Selama ini telah bersandiwara. Saya tak bermaksud apa-apa dengan semua ini, namun aku cuma ingin tahu sampai sejauh mana mas mau menerima aku. Akulah fatimah yang tempo hari sampean nikahi. Terus terang saja, waktu ta'aruf saya cuma eksen berkaki pincang, aslinya ya begini mas, kakiku sehat wal afiat. Wajahku memang sengaja ku lumuri sesuatu supaya kelihatan jelek di mata sampean. Fatimah minta maaf ya mas. Saya cuma menggoda saja kok. Aku dzohir batin dari sabang sampai merauke, ikhlas menjadi istrimu."

Akupun Tersenyum geli melihat fatimah menangis mencium tanganku. Ternyata pinter juga taktik cewek ini pikirku. Selain pinter wajahnya juga cantik. Kini baru ku tahu ia ingin sekedar mengujiku, apakah aku menikahinya berdasar NAFSU atau tidak. Berdasar kecantikan atau kejujuran hati. Dan akhirnya semua tahu, bahwa husain menikahi fatimah bukan karena kecantikan atau hal lain. Namun karena keikhlasan. Kecantikan bukan jaminan rumah tangga akan bahagia, namun suara hati dan tuntunan ilahi jua yang akan membawa keberkahan.

Mbah kyai kemudian juga memberi penjelasan, bahwa beliau tak lain adalah kakak kandung ibunya fatimah, dan fatimah adalah keponakannya.

Lengkap sudah kebahagiaan saat 2 tahun pernikahanku, seorang bayi mungil menjadi qurratul ain di tengah keluarga. Dan janjiku tetap ku tepati, fatimah aku larang memasak dan mencuci pakaian, aku sendiri yang mencuci dan memasak untuknya. Meski dia terkadang masih bandel diam-diam ke dapur untuk memasak sebagai penghilang kejenuhan sebagai pengajar TPA TPQ dan ustadzah pengajian ibu-ibu. Alhamdulillah, istriku bukanlah manja tapi dengan ini semua ia semakin patuh pada suami.

* Terima kasih buat, Ustadz Bahruddin, Ustadz Hasan, Ustadz Husain dan Ustadzah Fatimah yang telah sudi menjadi narasumber, memberikan sebuah cerita indah untuk kami (penulis). Semoga bermanfaat

Tamat

(Dikutib dari buku CAP, Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)

NAMAKU HUSAIN IV

Mbah kyai tersenyum melihat aku belingsatan serba salah.
"Kamu kenapa? Biasa aja lha wong aku cuma kebetulan mampir kok. Ini kenalkan temanku waktu di pesantren dulu." kata mbah kyai sambil menunjuk lelaki di sampin
gnya.
"Muhammad Husain" sambil menjabat tangannya.
"Saya Pak Gunawan."

Setelah itu aku duduk di depan guru sambil terus menundukkan kepala, aku tak berani lama-lama menatap mata beliau yang lembut tapi penuh rahasia. Sementara mbah kyai berbincang dengan sahabatnya.

Menjelang jam 7 pagi, mbah kyai berkata,
"Kamu hari ini gak ada repot sin?"
"Tidak, kyai."
"Kalau begitu kamu ikut saya ke rumah pak Gun, di rumahnya ada kondangan."
"Baik Kyai."
"Selain itu, kang gunawan ini punya anak gadis yang baru pulang dari pesantren krapyak (jogjakarta), anaknya cantik lho, sin. Ya.. Siapa tahu aja dia berjodoh dengan kamu sin! Bukankah demikian kang gun?"
Pak gunawan tersenyum.

Kami pun berangkat, Pak gun dengan sepeda motor Suzuki 700 membonceng mbah kyai, sementara aku mengikutinya dengan sepeda ontel kesayanganku.

Sesampai di rumah pak gunawan, tampak olehku sejumlah warga berkumpul menghadiri acara kondangan. Sepulang warga, tinggal aku dan mbah kyai yang tersisa. Aku hanya duduk terdiam, hati berdebar tak karuan. Bayangan sosok manakah yang akan muncul kali ini. Akankah ia seorang mahasiswi yang berotak nasionalis, ataukah seorang gadis pesantren yang berasumsi materialis. Sejuta tanya tiada jawab, berkecamuk dalam kepala yang tertunduk. Andai ia gadis nasionalis, mungkin masih ada jalan searah yang bisa aku tempuh, sebab kepahamanku melaksanakan ajaran agama islam secara utuh dan menyeluruh, merupakan pengamalan pancasila secara real dan konsekwen, bukan sekedar orasi, slogan yang manis di bibir saja.

"Nak Husain.. Sebentar lagi Fatimah anak saya akan masuk ke sini. Silahkan lihat dan pandangi. Kami orang tua hanya bisa jadi saksi." suara pak gunawan membuyarkan lamunanku
"Tapi jangan lihat yang neko-neko lho sin.. Awas ada hansip di luar.. He he." kelakar mbah kyai.

Tak percayakah aku pada pandangan mataku sendiri?
Atau sudah lamur dan rabunkah keduanya?
Tampak nyata keluar dari kamar membawa minuman dalam nampan. Langkahnya terseok-seok, tersendat-sendat lambat. Gelas di nampanpun serasa terguncang mengikuti gerak kakinya yang naik turun.
Aku mengucek-ngucek mata, benarkah apa yang aku lihat, seorang gadis berkaki pincang sebelah. Datang kemudian menuangkan kopi di hadapanku. Pikiranku kacau balau, mulut tak mampu untuk meracau.

Buumm..
Belum selesai pikiranku terjerembab dalam ketidak-percayaan, Kulihat wajahnya, ketika duduk di samping ayahnya. Benjolan-benjolan kecil berwarna hitam menghiasi separuh wajahnya. Terlihat jelas wajah tak menarik di mukanya. Dipadu jilbab putih yang sangat bertolak belakang warna dan rona wajahnya.
Sangat kontras. Aku dengan cepat menundukkan wajah dan pandanganku..
Astagfirullahal adzim
Subhanaka la ilma lana illa ma allamtana innaka antal alimul hakim

Aku terduduk pasrah, bagai samudra tak berombak, tak ku perhatikan lagi gadis itu dengan langkah lenggang kangkungnya meninggalkan tempat duduknya. Terang dan gelap pandanganku. Otakku berontak, miris dan terlecut panasnya keragu-raguanan. Namun Hatiku tak kuasa menolak dinding tebal doa-doa ku, ANDAI PILIHANMU ADALAH GADIS BEKAS WTS, AKUPUN TAK KAN MENOLAK. Ku buang wajah yang penuh benjolan yang terbayang, ku ganti kurnia dan jawaban Allah. Ku sirnakan langkah pincang tertatih-tatih dengan bayangan hadirnya mata lentik bayi di pangkuanku. Was-was adalah iblis. Ragu-ragu adalah syetan. Kumantapkan dalam hati untuk menerima dia apa adanya. Innallaha la yandzuru ila shuwarikum, wala ila amwalikum, wala ila ahsabikum, walakin yandzuru ila qulubikum wa a'malikum
Hatinya... Dan amalnya, itulah kunci pandangan yang bayan dan haq.

"Bagaimana sin, fatimah. Kamu mau jadi suaminya?" Tanya mbah kyai.
Dengan mata yang mantap akupun menjawab dengan anggukan.
"Aku tanya sekali lagi, kamu sanggup jadi mantunya kang gunawan?"
"Sanggup kyai, bila dia adalah jodo saya, maka saya berjanji tak akan menyia-nyiakannya. Saya akan memikul amanat ini."
"Mantap kamu, sin?"
"Insya Allah, kyai."
"Kalau ijab qabul sekarang kamu siap?"
"Siap Kyai."
"Bagaimana kang gun, sampeyan bisa cari saksi dan menjemput orang tuanya husain di rumah?" Kata kyai pada pak gunawan
"Gak terlalu cepat tho kang?"
"Oh yo gak tho kang, justru aku rasa ini udah terlambat."

Selang 3-4 jam, orang suruhan pak gun datang membawa bapak ibu, mas hasan dan istrinya. Ibu menangis terisak sambil memelukku. Sementara bapak dan mas hasan menyalami mbah kyai.

Tak tahu siapa yang bikin skenario, lepas dzuhur arak-arakan manusia berbaju putih datang membawa rebana yang ternyata kawan-kawanku dan santri2 mas hasan. Aku hanya duduk di pojokan masjid depan rumah pak gunawan ditemani ibu dan mbak iparku.
"Sin, ini mak bawa uang seratus ribu, nanti kamu pake buat maskawin, mak tahu tadi kamu gak bawa uang sama sekali, ya tho le?"
"Injih mak."

Di masjid itu, dengan menjabat tangan mbah kyai, "Ankahtuka wa zawwajtuka Muhammad husain bin Muradji, bi fathimata binti gunawan bi mahri miati alfi rufiyatin hallan."
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bimahril madzkur, hallan."
Para saksi-saksipun mengangguk tanda suksesnya ijab qabul.

Alhamdulillah.. Itulah kata yang hampir serentak didengungkan. Masih tertancap janji, bila aku menikahi gadis pincang ini, maka akulah yang akan menyelesaikan tugasnya..

To be continue..

(Sumber: CAP Cerita Anak Pesantren, Jun Haris)

NAMAKU HUSAIN III

"Jangan anggap remeh kebajikan meski kecil nilainya, Tahu Diri, Percaya diri dan Mawas diri adalah langkah awal meraih Harga Diri", itulah motto hidupku tiap hari. Untuk meniti hari dan menata hatiku. Tak aku biark
an waktu sedikitpun terlewatkan kecuali untuk berbagi kemanfaatan melalui kebajikan meski hanya sekecil atom.

Bagi sebagian orang mungkin lucu. Aku punya kegiatan lucu, yach.. meski belum menikah tapi aku sering dimintai tolong tetangga atau teman, untuk urusan melamarkan dan menanyakan anak gadis orang yang berwali ruwet atau tak temu-temu ujung pembicaraan. Alhamdulillah, ternyata orang tua gadis akhirnya luluh juga ketika aku datang untuk berunding. Aku sering tersenyum sendirian mengingat aku sendiri belum pernah melamar untuk diri sendiri. Tapi sudah banyak teman sukses menikah lantaran izin Allah dan melalui husain yang bodo ini.
Tapi tak apalah... Yang penting aku bisa bermanfaat buat orang lain.

Dari kegagalan2 ta'aruf yang aku alami, ada banyak dapatkan hikmah yang tiada tara, pengalaman dan pengamalan yang jadi acuan langkah untuk memijak bumi masa depan, meski tiap malam air mata tak kunjung dingin. Ia masih selalu hangat menemani jerit malamku. Ia akan tetap selalu setia lembab untuk menghangatkan dinginnya air wudlu di mukaku. Ia akan senantiasa menghangatkan lembar sajadahku yang kedinginan di sepertiga malam. Doa-doa suci, munajat-munajat manis ku hantar tiap malam.

"Wahai Tuhanku, penguasa setiap Alam. Jiwa yang dhoif ini hadir menemui-Mu. Seuntai syukur hamba hatur, atas segala curahan nikmat yang tak pernah lelah menghujaniku. Syukurku masih hitungan jari namun kurnia-Mu luas tiada bertepi. Sembah sujudku selayang pandang, kasih sayang-Mu bak pasir tak terbilang.
Tuhanku.. Ribuan pintaan ampun atas semuanya, dzahir batin. Ku tahu dosa nistaku bagai seisi bumi langit yang tak bersisi, namun ku tahu bahwa ampunan-Mu melebihi atas semua dimensi.
Tuhanku.. aku tak tahu akan arti airmata ini, taubat ataupun sesal, insaf atau bengal aku tak tahu. Yang aku tahu, bahwa imanku teramat dangkal maka dalamkanlah, sabarku hanya segelas maka samudra kanlah, qanaahku sebatas keterbatasan maka sempurnakanlah.

Tuhanku, sebenarnya hamba malu ungkapkan ini semua, namun lebih tak tahu malu jika aku sok gengsi berlagak teguh atas segala cobaan-Mu. HambaMu ini tak kuasa lagi menanggung beban. Jodoh yg selama ini kunanti tak kunjung datang menepi, sementara diri yang lemah ini akan semakin lapuk dimakan usia. Pintaku...Bila dia jauh, mohon dekatkanlah dia. Bila dia dekat pertemukanlah kami. Bila dia hidup maka kumpulkan kami di bawah panji Rasulullah saw. Bila ia sudah mati maka kemana lagi hamba pergi mencari.
Aku hanya lembar hidup yang terserah hendak Kau lukis. Semua atas titahMu.
Bila hamba boleh bermohon, aku tak ingin mati sebelum menurunkan keturunan yang akan menggantikanku berjalan di jalanMu. Aku tak ingin mati tanpa mewarisi bumiMu dengan putra shalih shalihah.

Tuhan.. Segala jalan telah ku tempuh, untuk mencari dimana bumi yg akan kutitipi benih, segala cara terputus, segala usaha tak pernah mulus, semua datang pergi selalu pupus. Sementara ku sadar, tubuh dekil bersimbah nafsu dosa ini semakin aus. Hanya harapan dan keyakinan yang membuat ku untuk bertahan.

Tuhan .. Andai jodohku bukanlah gadis pilihanku, tapi Pilihan-Mu.. Maka serupa apapun aku terima. Entah Engkau pilihkan aku berupa janda pun aku terima. Bila Engkau pilihkan aku gadis bekas WTS pun aku tak kan menolak.

Andaikan gadis yang Kau pilih, semoga tak jauh beda dengan Aisyah, bila ia janda semoga tak beda jauh dari Khadijah. Semua atas TitahMu.
Semoga sholihah, Attoyyibatu lith thoyyibin..."

Malam semakin dekati pagi, dan di shubuh itu, tanpa kusadari, setelah wirid shubuh ku hadapkan wajah ke makmum.. Sesosok wajah yang tak asing ternyata diam-diam menjadi makmum, aku kaget alang kepalang, ku beranjak dari dudukku kuraih tangan dan kucium. Dialah Mbah kyai dari pesantrenku. Tempat dimana aku menimba ilmu. Terbersit dosa dan penyesalan dalam hatiku, enang husain itu siapa berani menjadi imam gurunya?

Aku malu, bersalah, berdosa dan segudang sesal tanpa hingga...

To be continue..

(Kisah Nyata Sahabat Penulis.
Sumber: CAP Cerita Anak Pesantren, Jun Haris)
 
Bersambung...

NAMAKU HUSAIN II

Semenjak kejadian itu, hatiku benar-benar terpukul, tapi bukanlah husain kalau berubah menjadi pemurung dan ciut hati. Kejadian tsb malah semakin membuat aku membuka lebar tentang dunia di luar pesantren dan pengaji
an. Bahkan aku semakin supel dan blater bergaul pada setiap orang, tak ada dendam dan permusuhan, tak ada iri dan dengki, yang ada hanya ayem, tentrem dan kedamaian.

Semua orang hanya tahu roman muka dan keceriaanku. Aku murah senyum pada semua orang, meski Tak tahu apa yang bergejolak dalam dadaku. Yang tiap malam selalu berdoa agar segera diberikan jodo yang kufu denganku. Aku teringat pada kata-kata nabi ya'kub, Innama asyku batsi wa huzni ilallah, Niscaya segala keluh kesah, gundah gulana, kesedihan dan kepedihan hanya patut kuadukan pada Allah semata, bukan pada manusia dan lainnya.

Ketika keluar rumah, tak jarang aku bersimpang dan berpapasan dengan cewek2 pelajar SMU dan mahasiswi, dan rata-rata mereka selalu menggoda aku, menanyakan aku sudah punya pacar atau belum. Hanya senyum yang kuberikan pada mereka. Bahkan tak segan-segan ada yang kirim surat. Aku tak punya hp jadi tak ada sms aku terima.

Otakku berontak manakala hatiku menolak dijadikan pacar, ingin punya tambatan hati, tapi aku takut dosa, sehingga peperangan batin yang berkecamuk antara hati dan akal, aku selalu memenangkan hati kecilku, bahwa hati kecil tak pernah bohong dan tak mau diajak maksiat, namun akal bisa teledor bahkan cenderung pada mengakali hukum. Pacaran bagi akal adalah boleh dan sah, namun hati mengatakan pacaran adalah dosa, sebab mendekati pada perbuatan zina.

Aku tak protes pada hukum Allah, untuk melarang pacaran. Dan akupun mesti berjuang keras untuk itu. Biarlah apa kata dunia, aku dianggap kolot, ndeso dan katrok, ketinggalan zaman.. Aku tak perduli.
Apa guna modern kalau aku melanggar perintah Allah?
Apa guna dicap cowok gaul, tapi pada kenyataannya harus menentang hukum?

Biarlah..
Ku terima dengan lapang dada semua kata mereka. Aku lebih bangga menyandang predikat jomblo abadi dari pada menghilangkan watak pribadi SANTRI yang selama ini aku jalani dan ugemi.
Aku lebih bahagia disebut perjaka tua tulen dan orisinil, dari pada menjadi laki-laki bekas, second dan mustakmal.

Semua kupasrahkan pada ilahi, aku tak ingin menyakiti Tuhan dengan memberontak hukumnya. Aku tak ingin disebut laku keras tapi berlabel pemberontak Allah, biarlah aku begini, aku tetap akan berusaha untuk menikah, tak tahu itu kapan, aku setia doa & usaha dan menyerahkan hasilnya dengan pasrah dan tawakal.

Kakakku, Hasan adalah pengasuh pesantren. Meski santrinya hanya puluhan saja, namun perjuangannya beserta istri untuk mencarikan jodo buat aku tak kurang-kurang. Pernah juga aku dipertemukan teman mbak iparku. Ia teman mbakku sewaktu mondok di pesantren khusus Hafidzoh (Penghafal Al quran wanita). Orangnya hafidzoh juga seperti mbak. Aku diperkenalkan padanya di pesantren milik kakak. Ia datang bersama keponakannya, dari lamongan ia tempuh dengan menaiki bus angkutan umum.
Jauh-jauh ia tempuh hanya ingin tahu, husain itu yang mana sih..

Selain hafidzoh, ia juga punya kegiatan lain yakni memberikan les pada anak2 pelajar di desanya. Sebab dia adalah guru honor SMP, di lamongan. Mungkin agar ilmu kuliahnya tak hilang dari ingatan, mengingat ia adalah S2 jurusan bahasa inggris. Pembawaannya kalem, tutur katanya indah. Wajah mungkin gak terlalu cantik. Hitam manis dan berpostur kecil 160cm.
Ini dia nih..Pikirku
Mungkin inilah jodoku..
Aku di tengah malam selalu berdoa untuk keselamatannya, kesehatan dan doa-doa kebaikan yang lain untuknya. Malah terkadang aku lupa untuk mendoakan diriku sendiri.

Sebulan berlalu, aku dipanggil mbak iparku, tanpa banyak bertanya dia langsung tunjukkan sms kepadaku, meski aku tak paham operasional hp tapi aku masih bisa untuk membaca,

"Mbak, maaf sebelumnya. Bukan aku tak mau dengan proses ta'aruf dan perjodohan ini, tapi IBUKU TAK MEMPERBOLEHKAN AKU DAPAT SUAMI YANG JAUH TEMPATNYA....
Sekali lagi, maaf. Sampaikan juga salam maaf saya buat mas husain."

Bummm...
Dadaku sesak seperti tertimpa bom hirosima nagasaki. Seluruh persendianku berasa rontok. Jantungku terasa berhenti berdenyut.. Doa-doaku kandas dilalap lokasi yang jauh.
Pikiranku tak tentu arah, APAKAH MUNGKIN JAUHNYA JARAK JADI ALASAN, kenapa juga melakukan ta'aruf jika sebelumnya telah ia ketahui rumahku jauh dari rumahnya?

Ohh.. Tuhan
Cerita apa lagi yang hendak hamba perankan, kisah sedih mana lagi yang bakal hamba jalani, balada tragedi mana lagi yang hendak Engkau skenario buatku, sehingga Engkau dengan menakjubkan menunjuk aku sebagai Tokoh utama yang penuh air mata?

Kulihat mbak iparku sesenggukan di pojok rumah. Sementara Mulutku menganga tak tahu harus bilang apa. Tersumpal balada hidup yang tak kunjung usai. Tertahan air mata disudut mata lemahku, namun tersungging senyum pahitku...
Allahu akbar
Innama asyku batsi wa huzni ilallah

Setetes air mata ku seka dengan La yukallifullohu nafsan illa wus-aha...

Kapankah kebahagiaan dapat ku genggam dalam rengkuhku?

(Kisah nyata sahabat penulis, Sumber: CAP Cerita Anak Pesantren, Jun Haris)

Bersambung...

NAMAKU HUSAIN

Aku terlahir dalam ruang lingkup keluarga dan lingkungan islami. Bapak dan ibuku alumni pondok pesantren besar di daerah kediri jawa timur. Sehingga kini, aku pun menjadi santri di pesantrennya. Itung-itung penerus perjuangan
.

Setelah menamatkan Imrithi, Alfiyah, Jauharul Maknun, balaghah, Mantiq dan pelajaran-pelajaran lain untuk kelas 3 tsanawiyah diniyah di pesantren, aku diangkat menjadi salah seorang musyawirin. 9 tahun lamanya kehidupan di pesantren aku jalani, kini aku pulang dan bertempat tinggal di rumah bersama bapak dan ibu.

Seminggu sekali aku tetap usahakan untuk ke mbah kyai pesantrenku. Dan sekaligus laporan atas tugas yang diembankan padaku, yaitu mendidik anak-anak TPA TPQ dan pengajian ibu-ibu desa serta pembelajaran shalat pada bapak2 dan ibu2 yang masih minim pengetahuan agama.

Ibu-ibu di pengajianku, terkadang nyeletuk tanya kenapa aku tidak segera menikah sementara usia sudah kepala 3. Aku hanya tersenyum meski dalam hatiku menangis mendengar celetukan mereka.

Jamaah di pengajianku pun makin bertambah, aku tak tahu sebabnya. Tapi salah satu ibu bilang bahwa selain ngajinya mudah dicerna, ustadz husain orangnya ganteng lho..
(Bukan riya lho ya, itu kata mereka, para ibu-ibu dan cewek2 desa.)

Orang boleh bilang apa saja, ganteng, tampan atau macho, aku tak perduli. Yang penting aku bisa mentasharufkan dan memanfaatkan ilmu di daerahku. Orang sekarang gak cukup modal ilmu dan tampang, buktinya sampai sekarang aku selalu tersisih dalam hal menikah.

Aku hanya anak desa di pinggiran gunung wilis, pagi aku ke tegal membantu ortu, entah itu Ngarit (cari rumput makanan sapi), atau kerja apapun aku gak gengsi. Lepas dzuhur aku ke pengajian yang berjarak 4 KM, ku tempuh dengan sepeda ontel.

Yach itulah kegiatanku sehari-hari. Hingga suatu hari akupun dipanggil untuk sowan kepada mbah Kyai.

"Husain, Kamu sudah pengin menikah?"
"Injih kyai."
"Begini Le.. Tadi malam ada sepasang suami istri datang kemari. Mereka minta tolong aku supaya mencarikan jodo buat anak gadisnya. Mereka mau calon mantunya anak pesantren yang pinter ngaji, dengan alasan supaya bisa membimbing putrinya. Putrinya itu kuliah di STAIN kediri, sudah skripsi lagi.
Setelah ku pikir-pikir, maka pilihanku jatuh kepadamu. Karena menurutku diantara kawan-kawan, kamulah yang paling Blater (supel), sumeh (murah senyum) dan tak gampang nesu (marah), sudah pasti kamu bisa bergaul dengan manapun, kalangan pelajar, mahasiswa dan orang umum."
"Kawula nderek kersa kemawon kyai (Saya menurut perintah kyai saja)."
"Lho ya jangan gitu tho Le.. Kamu juga harus tahu dulu siapa calonmu itu. Kamu ta'aruf aja dulu ke rumahnya. Sebab orang tuanya juga pengin tahu kamu, husain itu yang mana tho. Mereka sudah menunggu kamu sin. Ahad kamu berangkatlah ke rumahnya. Restu ku bersamamu."

Akupun pamitan, tak lupa mbah kyai memberikan secarik kertas berisikan alamat orang yang diceritakan mbah kyai tadi.

Esok hari, seusai dari tegalan. Aku pun berpakaian rapi, kopyah hitam, baju koko warna putih, celana hitam dan tak lupa minyak wangi kasturi favoritku. Dan dengan berbekal harapan, keyakinan dan restu dari guru, aku kayuh sepeda ontelku ke kota, mengingat alamat yang tertera berada di pusat kota. Besar harapanku untuk segera mengakhiri masa lajangku dgn menikah. Bapak ibu sudah tua, butuh hiburan hadirnya seorang cucu manis pelipur lara.

Bismillah..
Aku kayuh
Suara Kretek kretek.. Sebagai tasbih di jalanan yang mulai menyengat kulit. Shalawat nabi tak pernah lepas dari mulutku..
Allohumma sholli ala muhammad..

Setelah tanya kanan kiri, akhirnya sampai juga aku di tujuan. Aku terkejut setengah tak percaya, rumah itu begitu besar. Aku bingung di mana harus mengetuk pintu sebab rumahnya berpagar. Aku beranikan diri memencet bel di gapura. Tampak keluar lelaki setengah baya membuka pintu pagar.
Akupun uluk salam. Dan dijawabnya dengan pandangan curiga saat kusandarkan ke pagarnya.

"Hai mas.. Jangan di sandarkan di situ, nanti catnya rusak."
Akupun tersenyum sambil menyandarkan sepeda di bawah pohon akasia pinggiran aspal. Kemudian aku menghampirinya lagi.
"Apa benar ini rumah Pak...?"
"Ya betul saya sendiri, emang sampeyan siapa dan ada apa kemari mas?"
"Saya utusan dari mbah kyai..."
"Ooo.. Jadi kamu.."
Sambil dia mengamati aku, menyisir dari kaki sampai kepala. Kemudian beralih mengamati sepeda ontelku.
"Katakan apa yang di pesankan mbah kyai kepadamu?"
"Saya diperintahkan ke sini untuk memenuhi undangan bapak, katanya urusan ta'aruf dengan putri bapak. Bapak katanya mau cari mantu?"
"Iya sich... Tapi gak miskin kayak kamu tu.."

Brak..
Ia pun menutup pintu pagarnya. Aku tertegun di mulut pintu pagar. Aku putar sepeda dengan harapan hancur. Perasaanku amburadul di tolak mentah2 hanya alasan sepeda ontel dan kemiskinan. Kayuhan sepeda penuh linangan air mata. Aku tak tahu harus berbuat apa selain la haula wala quwwata illa billah...

Apakah orang miskin tak boleh menikah?

(Kisah nyata sahabat penulis.. Sumber: CAP Cerita Anak Pesantren, Jun Haris)

Bersambung..

Senin, 25 Juni 2012

DA'I TANPA NAMA

Ketika aku bicara tentang akhlak,
Beribu hati menggelegak menahan sesak
Hatinya terkoyak rusak menampung dahak
Menghimpit marah yang sudah menjadi kerak
... Satu kata terlontar "urus saja akhlakmu sendiri."

Ketika aku bicara soal moral,
Beribu wajah berpangkat binal
Tak kenal tobat tak kenal sesal
Menyeringai melotot kesal
Satu kata terlontar "Urus saja moralmu sendiri."

Ketika aku bicara soal agama,
Mencoba menambah daya gema
Lewat angin dan media
lewat semua dan segala warna
Lewat sms, twitter, facebook, blog juga
Banyak mulut berkomentar "Sok ngurusin orang lu!"

Ketika aku bicara soal keyakinan
Dalam diam dan segala karya
Dalam ikhlas siap sedia
Dalam kepedulian dan kebersahajaan
Beribu bibir tergetar "Sok alim Lu!"

Ketika aku bicara tentang dakwah,
Pada setiap umur jenis usia
Muda tua untuk berbenah
Satu kata terlontar "Carilah yang lain, Aku masih jauh dari tanah!"

Ketika aku bicara tentang tobat
Mengarah shirat jauh maksiat
Mengajak damai tinggalkan sesat
Satu kata terlontar "Orang gila mulai kumat."

Ketika aku bicara tentang ikhlas,
Ditutup atau yang jelas
Semua yang aku gagas
Datangkan senyum tak berbalas
Hanya ada mata berculas
Namun ku yakin satu saat nanti
Pada alir dunia deras
Dari lunak atau yang keras
Ada hati yang berbelas
Tak pandang elok dan paras
Meski Datang dari golongan tak berkelas
Satu mulut yang mampu tersenyum "Ikhlas"

(Buah Kecil Kebahagiaan, Karya Jun Haris)

RATAPAN SEORANG AYAH

Dulu..
Aku tak pernah berharap punya anak memalukan seperti kamu. Yang hanya menimpakan aib dan sampah ke muka ayahmu ini.
Harapanku, kau anak manis berakhlak dan berbudi seperti fatimah putri nabi.

... Dulu ku Gadang dan ku timang-timang kau layaknya seorang anak yang berbakti kepadaku dan ibumu. Harapan seorang ayah pada anaknya. Tapi kini... Semua harapan orang tua renta ini hancur berkeping-keping setelah kau hamil 2 Bulan.

Huh..
Mukaku hancur tanpa rupa, hatiku remuk tak terkira, dan kehormatanku pun tercabik-cabik oleh tingkahmu yang menjijikkan.
Kini.. Ayahmu ini tak layak lagi disebut manusia. Aku hanyalah najis dan sampah yang tak tahu kemana lagi harus menaruh muka. Harapanku menjadi ayah teladan, punah sudah, angan-angan menjadi ayah yang berbangga dengan prestasi anaknya, musnah diterpa kehancuran akhlak dan moralmu.

Ya robb..
Apa salah bundanya mengandung, apa kurang aku mendukung?
Anak yang ku damba sebagai kebanggaan di akhirat, kini nyatanya hanya jadi bahan tertawaan di tengah masyarakat.
Anak yang ku damba sebagai penerus keturunan dan pejuang agama, ternyata hanya akan jadi bahan bakar neraka.

Oh ya Allah..
Kini, aku dan ibunya, hanya mampu berdiri dengan satu kaki. Tubuh kami bergerak, tapi mati hakikatnya.
Aku hidup dan bernafas, tapi bangkai hakikatnya.
Ibunya menangis air mata, tapi darah hakikatnya.
Andai saja, ia masih kecil dan nakal, mungkin aku akan jewer kupingnya. Tapi kini, jewer pun tak akan mampu menjadikannya sebagai anak yang shalihah.

Jangan biarkan ayah jelek tak punya muka ini, lebih sengsara menahan luka. Kini, harapan hidup hanya sejengkal tanah, harapan sembuh dari duka hanya isapan jempol belaka.

Hai anakku,
Kenapa tak kau tancapkan saja pisau belati ke perut ibumu? Supaya dia tak menyesal melahirkan kamu.
Kenapa tak kau hancurkan kepala ayahmu ini dengan batu, supaya ia dapat mati dengan terhormat?

Biarlah..
Allah sendiri yang menghukummu di neraka, karena kau tak patuh pada ajaranNya dan Rasulnya.
Dan kini... Tinggalkan ayah dan ibumu ini, meratapi nasib sepanjang masa. Dan jangan kau tengok lagi kalau kami sakit, sebab kau sudah menyakiti kami.
Jangan pula kau layat jenazah ayah ibumu kalau kami mati, sebab kami telah mati sebelum waktunya...
Kau telah membunuhnya.


(Buah Kecil Kebahagiaan, Karya Jun Haris)

NING ANNA

Suara iqamat dari masjid mulai mengumandang, tanda shalat shubuh akan segera dimulai. Tampak sepasang kaki dalam kegelapan bergegas memakai bakiak, berlari-lari kecil ke arah masjid, itulah kaki Ning Ana putri pak kyai, yang telah... 3 tahun telah dinikahkan dengan salah satu murid abahnya sendiri. Namun dalam 3 tahun ini, pak kyai belum ada tanda-tanda mau menimang seorang cucu.

Setelah salam dan dzikir sehabis shalat, pak kyai memberi pelajaran kepada santri-santrinya, hingga matanya tertuju pada pojokan masjid, tempat favorit di mana menantunya mendengar pengajian darinya.
Menantunya adalah santri yang pendiam, alim dan tenang dalam bicara. Berwajah biasa tak ada yang istimewa.

"Suamimu ke mana An, kok tidak hadir?" tanya pak kyai pada anaknya.
"Sakit perut kali, bah!" jawab Ning Ana yang disambut cekikikan para santri putra putri di dalam masjid.
"Ya sudah, kamu panggil sana!" perintah pak kyai pada salah satu santri putra.

Dan segera santri tsb berangkat ke rumah ning Ana yang hanya 35 meteran dari masjid. Hanya dalam waktu 5 menit, sang menantunya datang ke masjid diiringi santri suruhan pak kyai. Namun anehnya, sang menantu hanya mendengar pengajian dari luar majelis, ia terlihat duduk seksama di tangga masjid.

Ketika pengajian usai dan para santri sudah bubar, sebelum pulang pak kyai dan Ning ana, berdua menghampiri menantunya.
"Kenapa kamu gak masuk ke dalam masjid saja, Le. Kamu sakit?" tanyanya.
"Tidak kok, abah!"
"Lalu kenapa gak ikut jamaah subuh, gak biasanya kamu telat, kamu ketiduran? Istrimu aja ikut jamaah, tapi kamu malah enak-enakan ngorok! Malas amat jadi lelaki."
"Tidak kok, abah?" jawab sang menantu sambil menundukkan muka.
"Dari tadi jawaban kamu, tidak tidak melulu. Lalu kenapa? Jawab yang bener?"

Ning Ana hanya diam, sekali waktu membuang muka melihat suaminya dimarah oleh abahnya, ada perasaan puas melihat suaminya diam tak berkutik di depan mertuanya.

"Anu, abah... Bakiak saya dipakai Ning Ana!" jawab sang menantu sambil menunjuk kaki ning ana.

Jawaban singkat itu membuat ning ana tak berdaya, raut mukanya merona merah menahan malu. Belum pernah ia malu seperti ini, apalagi ini gara-gara bakiak.

"Kenapa kamu gak pakai bakiaknya ana saja?"
"Maaf, abah. Sebenarnya mau saya begitu, tapi saya belum izin sama yang punya. Jadi, dari pada dosa ghosob mending saya begini saja." jawab menantunya sambil memandang kakinya yang nyeker tanpa serandal.

Jawaban yang kedua kali ini membuat ning ana tambah malu, matanya mulai merah seperti hendak menangis.

Pak kyai bertambah bingung melihat Ning ana yang mulai menangis, "Apa-apaan sih kalian berdua ini, sama barang istri sendiri pakai izin segala? Ada apa ana?"

"Maafkan ana, abah! Selama 3 tahun ini, meski kami serumah, tapi kami tak pernah bertegur sapa. Sejak akad nikah aku berkata padanya, bahwa dia tak layak bagiku. Karena berbagai alasan aku menolaknya. Dia ku suruh diam, pura-pura diantara kami tidak ada apa-apa, Supaya abah tidak tahu akan hal ini. Dan itulah kata-kata pertama dan terakhirku pada mas aris." kata ana sesenggukan

"Jadi, diam-diam kamu menolak dengan pernikahan ini? Kamu gak mau bersuamikan dia, gitu?"

"Awalnya sih gitu, abah. Dulu ana menganggap bahwa mas aris adalah takdir buruk yang ana terima. Mengingat ana adalah tamatan perguruan tinggi islam dan bertitel S2 bahasa arab, sedangkan mas aris hanya tamatan pesantren desa. Namun baru hari ini ana menyadari, bahwa pilihan abah benar. Dia benar-benar lelaki yang bertanggung jawab dan setia, tak pernah membuat malu dan sakit hati aku, meski aku sangat jijik melihatnya. Aku benar-benar bersalah dan minta maaf atas kelakuan ana selama ini pada abah, ana menxesal abah, telah mengecewakan abah dan mas aris!"

Singkat cerita, mas aris sang suamipun dengan ikhlas memaafkannya, setahun kemudian ning ana mulai hamil. Dan ketika aku tulis kisah ini, mereka sudah dikaruniai 5 orang anak yang manis-manis.

Semoga kita mengambil hikmah kisah ini.

(CAP: Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)

Senin, 06 Februari 2012

JEBAKAN UNTUK SEEKOR TIKUS

Sepasang suami dan isteri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan gelagat sambil menggumam
“hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar ?”.
Ternyata yang dibeli oleh petani hari adalah perangkap tikus. Sang tikus naik panik bukan kepalang. Ia bergegas lari ke sarang dan berteriak,
” Ada perangkap tikus di rumah….di rumah. Sekarang ada perangkap tikus….”
Ia pun mengadu kepada ayam dan berteriak,
” Ada perangkap tikus !”
Sang Ayam berkata,
” Tuan Tikus ! Aku turut bersedih tapi ia tak ada hubungannya dengan aku.”
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak seperti tadi.  Sang Kambing pun menjawab,
“Aku pun turut bersimpati…tapi tidak ada yang bisa aku perbuat Lagi pula tidak ada hubunganya dengan aku. “
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama.
” Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali. Hewan sebesar aku tak kan bisa masuk perangkap tikus. “
Dengan rasa kecewa ia pun berlari ke hutan menemui Ular. Sang ular berkata
” Eleh engkau ini…Perangkap Tikus yang sekecil itu takkan bisa membahayakan aku.”
Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah karena mengetahui ia akan menghadapi bahaya seorang diri. Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara berdetak perangkap tikusnya berbunyi menandakan umpan dah mengena.
Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa yang jadi mangsa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang isteri pemilik rumah. Walaupun si Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, isterinya tidak sempat diselamatkan. Si suami pun membawa isterinya ke rumah sakit.
Beberapa hari kemudian isterinya sudah boleh pulang namun tetap saja demam. Isterinya lalu minta dibuatkan sup cakar ayam oleh suaminya kerana percaya sup cakar ayam bisa mengurangi demam. Tanpa fikir panjang si Suami pun dengan segera menyembelih ayamnya untuk membuat sup cakar ayam.
Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.Masih juga isterinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Banyak sungguh orang datang melawat jenazahnya. Karena rasa sayang suami pada isterinya, tak sampai hati pula dia melihat orang ramai tak dijamu apa-apa. Tanpa berfikir panjang dia pun menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang berziarah.
Dari kejauhan…
Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan.
Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.
Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a yang artinya: “Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling memutuskan hubungan dan janganlah sebagian kamu menyerobot transaksi sebagian yang lain, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim yang lain, tidak boleh mendhaliminya, membiarkannya (tidak memberikan pertolongan kepadanya), dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu berada di sini, beliau (Rasulullah) menunjuk dadanya tiga kali. Cukuplah seorang (muslim) dianggap (melakukan) kejahatan karena melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas muslim yang lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”. (Hadis Arba’in : 25)
Saudaraku ….sesungguhnya Ukhuwah (persaudaraan ) dalam Islam dibangun di atas landasan iman, bukan berdasarkan pertalian darah, suku, hubungan kekerabatan, apalagi nasionalisme kebangsaan yang semu.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujarat : 10 )
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, “ ukhuwah (persaudaraan) Islamiyah dibangun di atas landasan persamaan agama bukan nasab ( hubungan darah)”, karena itu dapat dikatakan bahwa persaudaraan berdasarkan agama lebih kokoh dan tsabit (tetap) dibanding persaudaraan yang dibangun di atas landasan nasab atau hubungan darah, karena sesungguhnya persaudaraan karena nasab akan terputus dengan sendirinya karena perbedaan agama, sementara persaudaraan karena agama tidak terputus dengan terputusnya nasab.
Sementara itu Rasulullah SAW bersabda, artinya:
”Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, muslim itu saudara bagi muslim yang lain. ( H.R. Bukhari-Muslim )
Jelaslah sekarang bahwa setiap muslim pada asalnya adalah saudara bagi muslim yang lain. Oleh karena itu hak-hak ukhuwah diantara mereka harus dijaga dengan baik agar tidak menimbulkan kesalah fahaman yang dapat menumbuhkan benih-benih perpecahan yang sekaligus melemahkan barisan perjuangan kaum muslimin.