Pada suatu hari Imam Asy-Syafi’i ra datang
berkunjung ke rumah al-Imam Ahmad bin Hambal. Seusai makan malam
bersama, Imam Asy-Syafi’i masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya,
dan beliau segera berbaring (tidur) hingga esok fajar.
Puteri Imam Ahmad yang mengamati Imam Syafi’i sejak awal kedatangannya
hingga masuk kamar tidur, terkejut melihat teman dekat ayahnya itu.
Dengan terheran-heran ia bertanya, “Ayah…, ayah selalu memuji dan
mengatakan bahwa Imam Syafi’i itu seorang ulama yang amat alim. Tapi
setelah kuperhatikan dengan seksama, pada dirinya banyak hal yang tidak
berkenan di hatiku, dan tidak sealim yang kukira.”
Imam Ahmad bin hambal agak terkejut mendengar perkataan puterinya. Ia balik bertanya,
“Ia seorang yang alim, anakku. Mengapa engkau berkata demikian?”
Sang putri berkata lagi, “Aku perhatikan ada tiga hal kekurangannya, Ayah.
Pertama, pada waktu disuguhi makanan, makannya lahap sekali. Kedua,
sejak masuk ke kamarnya, ia tidak shalat malam dan baru keluar dari
kamarnya sesudah tiba shalat subuh. Ketiga, ia shalat subuh tanpa
berwudhu lebih dahulu."
Imam Ahmad bin hambal merenungkan
perkataan puterinya itu, maka untuk mengetahui lebih jelasnya dia
menyampaikan pengamatan puterinya kepada Imam Syafi’i.
Maka
Imam Syafi’i tersenyum mendengar pengaduan puteri Imam Ahmad tersebut.
Lalu dia berkata, “Wahai Ahmad sahabatku, ketahuilah olehmu. Aku banyak
makan di rumahmu karena aku tahu makanan yang ada di rumahmu jelas halal
dan thoyib. Maka aku tidak meragukannya sama sekali. Karena itulah aku
bisa makan dengan tenang dan lahap. Lagi pula aku tahu engkau adalah
seorang pemurah.
Makanan orang yang pemurah itu adalah obat, sedangkan makanan orang kikir adalah penyakit.
Aku makan semalam bukan untuk kenyang, akan tetapi untuk berobat dengan makananmu itu, wahai Ahmad.
Sedangkan mengapa aku semalam tidak shalat malam, karena ketika aku
meletakkan kepalaku di atas bantal tidur, tiba-tiba seakan aku melihat
dihadapanku kitab Allah dan sunnah RasulNya. Dengan izin Allah, malam
itu aku dapat menyusun 72 masalah ilmu fiqih Islam sehingga aku tidak
sempat shalat malam lebih lama.
Sedangkan kenapa aku tidak
wudhu lagi ketika shalat subuh, karena aku pada malam itu tidak dapat
tidur sekejap pun. Aku semalam tidak tidur sehingga aku shalat fajar
dengan wudhu shalat Isya’. Karena kebiasaanku menggunakan wudlu shalat
isya'ku untuk shalat subuh. Dan itu sudah berlangsung lama semenjak aku
masuk akil baligh."
(Sumber: Manaqibus Syafi'i rahimahulloh)
Tampilkan postingan dengan label KISAH TELADAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH TELADAN. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Desember 2012
SECANGKIR KOPI DARI PESANTREN
Serombongan orang datang mengunjungi Kyai
Sepuh di sebuah pesantren kecil di sebuah desa. Meskipun dari pesantren
kecil dan di desa pula, Kyai Sepuh ini kerap sekali menerima tamu dari
berbagai kalangan untuk berbagai urusan.
Kyai Sepuh ini terkenal dengan kemampuannya memberikan berbagai solusi
persoalan yang rumit dengan caranya yang mudah – sederhana. Seperti
biasa Pak Kyai mendengarkan dahulu masalah para tamunya, baru kemudian
memberikan solusinya.
Maka satu demi satu rombongan tersebut mengutarakan problemnya masing masing. Ada yang mengeluhkan problem keluarganya yang seret ekonomi, ada yang meminta pengasihan supaya enteng jodoh, ada yang mengeluhkan anaknya yang bandel, ada yang meminta jampi-jampi untuk saudaranya yang sakit dlsb.
Setelah semua berkesempatan menyampaikan uneg-uneg mereka, Mbah Kyai minta ijin untuk mengambilkan kopi di belakang – saking sederhananya Kyai ini sampai tidak memiliki pembantu. Tidak lama kemudian Beliau datang dengan membawa teko berisi kopi, didampingi istrinya yang membawakan sejumlah cangkir.
Karena kesederhaannya pula diantara cangkir-cangkir tersebut tidak ada yang sama bentuk, model maupun ukurannya. Menyadari akan adanya rasa penasaran para tamunya, Mbah Kyai-pun menjelaskan : “Anu, itu cangkir-cangkir peninggalan para santri yang sudah lulus dari pesantren ini…”.
Kemudian dia mempersilahkan tamunya: “Silahkan ambil sendiri kopinya…”
Setengah berebut, tamunya memilih cangkir yang paling baik untuknya. Jumlah cangkir memang cukup dan semuanya mendapatkan cangkirnya, tetapi tentu saja yang duluan yang mendapatkan cangkir yang paling bagus.
Sambil memperhatikan tamu2nya menikmati kopi dari beraneka ragam cangkir, Mbah Kyai –pun siap memberikan SATU solusi untuk seluruh keluhan dan masalah yang disampaikan oleh tamu-tamunya.
“Dari yang saya dengarkan tadi, dan dari cangkir-cangkir kopi yang kalian pegang – masalah kalian sebenarnya sederhana”.
Dia melanjutkan:
“Selama ini terasa rumit, karena kalian fokus pada cangkirnya bukan pada kopinya. Yang kalian butuhkan kan kopi tho? – sedangkan cangkir hanyalah alat untuk bisa minum kopi. Bila kalian terlalu fokus pada alat, kalian tidak akan sampai pada tujuan…”
“Sekarang fokuslah pada kopi kalian, maka cangkir yang berwarna-warni beraneka bentuk tidak akan mengganggu kenikmatan kopi kalian…!”.
Lalu Mbah Kyai membacakan surat Ad Dzariyat – ayat 56, “Dan Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah menyembah-Ku.”
Lalu beliau menutup nasehatnya: “Selama kalian tidak kehilangan fokus pada tujuan hidup kalian yaitu menyembah kepadaNya, selama kalian hanya mengajak masyarakat untuk menyembah kepadaNya, insyaallah kalian tidak akan terganggu oleh aneka persoalan ekonomi dan keluarga, jodoh, kesehatan, sakit dan kematian dan sejenisnya.”
Para tamu hanya manggut-manggut sambil menginstrospeksi diri, mereka mengurai permasalahan masing-masing di dalam hati. Dalam hati pula sebagian mereka berkata: “Jadi selama ini kita cuma rebutan cangkir, sampai mengesampingkan kopinya.. Masyaalloh?”
Sebagian ada lagi yang tersenyum, tersenyum geli melihat betapa lucu tingkahnya selama ini.
Kita.. Terkadang menilai sesuatu berdasar dari dzohirnya. Menilai seseorang sebatas wajah dan fisiknya. Menilai buku dari sampulnya. Menghormati karena kekayaan, pangkat dan jabatannya. Penampilan tak selamanya menampilkan keaslian. Kita tertipu dan ditipu oleh mata kita sendiri.
Ingatlah satu peribahasa, "Dari jarum yang buruk bisa tersulam kain yang bagus. Dari pena yang jelek mampu tersusun syair yang indah."
(Sumber: CAP, Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)
Maka satu demi satu rombongan tersebut mengutarakan problemnya masing masing. Ada yang mengeluhkan problem keluarganya yang seret ekonomi, ada yang meminta pengasihan supaya enteng jodoh, ada yang mengeluhkan anaknya yang bandel, ada yang meminta jampi-jampi untuk saudaranya yang sakit dlsb.
Setelah semua berkesempatan menyampaikan uneg-uneg mereka, Mbah Kyai minta ijin untuk mengambilkan kopi di belakang – saking sederhananya Kyai ini sampai tidak memiliki pembantu. Tidak lama kemudian Beliau datang dengan membawa teko berisi kopi, didampingi istrinya yang membawakan sejumlah cangkir.
Karena kesederhaannya pula diantara cangkir-cangkir tersebut tidak ada yang sama bentuk, model maupun ukurannya. Menyadari akan adanya rasa penasaran para tamunya, Mbah Kyai-pun menjelaskan : “Anu, itu cangkir-cangkir peninggalan para santri yang sudah lulus dari pesantren ini…”.
Kemudian dia mempersilahkan tamunya: “Silahkan ambil sendiri kopinya…”
Setengah berebut, tamunya memilih cangkir yang paling baik untuknya. Jumlah cangkir memang cukup dan semuanya mendapatkan cangkirnya, tetapi tentu saja yang duluan yang mendapatkan cangkir yang paling bagus.
Sambil memperhatikan tamu2nya menikmati kopi dari beraneka ragam cangkir, Mbah Kyai –pun siap memberikan SATU solusi untuk seluruh keluhan dan masalah yang disampaikan oleh tamu-tamunya.
“Dari yang saya dengarkan tadi, dan dari cangkir-cangkir kopi yang kalian pegang – masalah kalian sebenarnya sederhana”.
Dia melanjutkan:
“Selama ini terasa rumit, karena kalian fokus pada cangkirnya bukan pada kopinya. Yang kalian butuhkan kan kopi tho? – sedangkan cangkir hanyalah alat untuk bisa minum kopi. Bila kalian terlalu fokus pada alat, kalian tidak akan sampai pada tujuan…”
“Sekarang fokuslah pada kopi kalian, maka cangkir yang berwarna-warni beraneka bentuk tidak akan mengganggu kenikmatan kopi kalian…!”.
Lalu Mbah Kyai membacakan surat Ad Dzariyat – ayat 56, “Dan Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah menyembah-Ku.”
Lalu beliau menutup nasehatnya: “Selama kalian tidak kehilangan fokus pada tujuan hidup kalian yaitu menyembah kepadaNya, selama kalian hanya mengajak masyarakat untuk menyembah kepadaNya, insyaallah kalian tidak akan terganggu oleh aneka persoalan ekonomi dan keluarga, jodoh, kesehatan, sakit dan kematian dan sejenisnya.”
Para tamu hanya manggut-manggut sambil menginstrospeksi diri, mereka mengurai permasalahan masing-masing di dalam hati. Dalam hati pula sebagian mereka berkata: “Jadi selama ini kita cuma rebutan cangkir, sampai mengesampingkan kopinya.. Masyaalloh?”
Sebagian ada lagi yang tersenyum, tersenyum geli melihat betapa lucu tingkahnya selama ini.
Kita.. Terkadang menilai sesuatu berdasar dari dzohirnya. Menilai seseorang sebatas wajah dan fisiknya. Menilai buku dari sampulnya. Menghormati karena kekayaan, pangkat dan jabatannya. Penampilan tak selamanya menampilkan keaslian. Kita tertipu dan ditipu oleh mata kita sendiri.
Ingatlah satu peribahasa, "Dari jarum yang buruk bisa tersulam kain yang bagus. Dari pena yang jelek mampu tersusun syair yang indah."
(Sumber: CAP, Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)
MASUK SURGA KARENA ANJING
Ada seseorang sedang berjalan-jalan, dan
ketika ia merasa kehausan, ia turun ke suatu sumur yang tidak jauh dari
situ. Setelah dahaganya hilang, ia segera naik lagi dan ia melihat
seekor anjing yang lidahnya terjulur ke tanah karena hausnya. Ia berkata dalam hati, “Anjing ini pasti kehausan seperti aku tadi!!”
Ia turun lagi ke dalam sumur, ia menciduk air dengan menggunakan sepatunya dan membawanya ke atas dengan menggigitnya. Sampai di atas, ia memberi minum anjing tersebut dengan air di dalam sepatunya.
Rasulullah SAW yang menceritakan kisah tersebut bersabda, “Allah SWT berterima kasih kepada lelaki itu dan mengampuni dosa-dosanya!!”
Salah seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, memangnya kita bisa memperoleh pahala sehubungan dengan (memberi makan/minum) pada binatang?”
Beliau bersabda, “Pada setiap yang berjantung lagi hidup ada pahala!!”
Pada riwayat lain yang hampir senada, Nabi SAW menceritakan bahwa seorang wanita pelacur melihat seekor anjing yang terengah-engah dan lidahnya terjulur, tampaknya ia hampir mati kehausan.
Pelacur itu melepas sepatunya dan diikatkan pada kain kerudungnya untuk menimba air dari sumur yang tidak jauh dari situ. Setelah itu ia memberi minum anjing itu sehingga ia segar kembali.
Nabi SAW menyatakan bahwa Allah mengampuni dosa-dosa wanita pelacur itu karena kepedulian dan sikap kasih sayangnya memberi minum pada anjing yang kehausan. Dan ia juga memperoleh hidayah sehingga meninggalkan perbuatan maksiatnya dan bertaubat kepada Allah.
(Sumber: CAP Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)
Ia turun lagi ke dalam sumur, ia menciduk air dengan menggunakan sepatunya dan membawanya ke atas dengan menggigitnya. Sampai di atas, ia memberi minum anjing tersebut dengan air di dalam sepatunya.
Rasulullah SAW yang menceritakan kisah tersebut bersabda, “Allah SWT berterima kasih kepada lelaki itu dan mengampuni dosa-dosanya!!”
Salah seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, memangnya kita bisa memperoleh pahala sehubungan dengan (memberi makan/minum) pada binatang?”
Beliau bersabda, “Pada setiap yang berjantung lagi hidup ada pahala!!”
Pada riwayat lain yang hampir senada, Nabi SAW menceritakan bahwa seorang wanita pelacur melihat seekor anjing yang terengah-engah dan lidahnya terjulur, tampaknya ia hampir mati kehausan.
Pelacur itu melepas sepatunya dan diikatkan pada kain kerudungnya untuk menimba air dari sumur yang tidak jauh dari situ. Setelah itu ia memberi minum anjing itu sehingga ia segar kembali.
Nabi SAW menyatakan bahwa Allah mengampuni dosa-dosa wanita pelacur itu karena kepedulian dan sikap kasih sayangnya memberi minum pada anjing yang kehausan. Dan ia juga memperoleh hidayah sehingga meninggalkan perbuatan maksiatnya dan bertaubat kepada Allah.
(Sumber: CAP Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)
WTS SABA PESANTREN
Malam itu, seorang wanita cantik datang ke
pesantren kami. Penampilan yang gemulai, kaos merah lengan pendek yang
pressbody, dibalut celana panjang pensil, kerudung putih menutupi rambut
bagian belakang. Hal ini menambah rasa penasaran.
Setelah salam dan masuk ke ruang tamu di rumah pak kyai, wanita cantik itupun mengutarakan maksud kedatangannya,
"Maaf pak kyai, nama saya Elvira, sowan saya kemari tiada lain mau minta PENGLARISAN. Karena dagangan saya akhir-akhir ini mulai sepi pembeli, sebab saya banyak mendapat saingan oleh para pedagang baru yang notabene umurnya lebih muda dari saya."
"Umur sampeyan?"
"23, pak!"
"Rumah sampeyan?"
"Surabaya, pak?"
"Oh.. Pantes. Dagang di kota besar emang banyak saingan, kalau kita gak pinter-pinter mengelola keuangan dan modal dobel bisa-bisa bangkrut."
"Tapi dagangan saya modalnya ya begini ini, pak kyai!"
"Emang Sampeyan dagang apa, mbak?"
"Dagang buah, pak kyai!"
"Sudah lama sampeyan menekuni pekerjaan itu?"
"Sejak kelas 2 SMA, ya sekitar 7 tahunan!"
"Emang buah apa saja yang sampeyan jual?"
"Cuma satu macam, pak!"
"Lho...?"
"Saya jualan buah dada, sekaligus tubuh saya. Untuk menyambung hidup keluarga dan sekolah adik-adik saya. Bapak sudah meninggal dan ibu saya adalah janda dengan 6 orang anak. Saya adalah anak yang pertama."
Astaghfirullah al adzim.. Bisik hati pak kyai. Apa gak nyasar ya orang ini, jual kesucian kok minta penglarisan. Tapi karena didorong oleh rasa kasihan, pak kyaipun kemudian hanya diam mendengar tangisan penuturan balada hidupnya, dan kisah hidup keluarga si gadis cantik itu yang ternyata adalah WTS (Wanita Tuna Susila)
"Jadi niat sampeyan melakukan pekerjaan ini adalah demi menghidupi ibu dan adik-adik sampeyan?"
"Betul pak kyai, selain itu KEBAHAGIAAN adalah tujuan utama saya, karena terus terang, hidup saya seakan tanpa arah dan tujuan. Sampai detik ini saya belum pernah merasakan apa itu kedamaian dan kebahagiaan dalam hati!"
"Kalau demikian niat dan tujuan sampeyan kemari.. Ok saya bantu. Tapi apa sampeyan bisa menepati syarat-syarat PENGLARISAN ini?"
"Apapun syarat yang pak kyai minta, akan saya tepati!"
"Persyaratan penglarisan ini berat, meski dibilang tak ada hubungannya sama sekali dengan uang atau materi, tapi WAKTU!"
"Saya akan berusaha menurut pada petunjuk kyai."
"Syarat pertama, Sampeyan harus MANDI JINABAT keramas sebanyak 41 hari. Dan dilakukan dini hari jam 12 ke atas. Bagaimana sanggup?"
Si gadis diam. Lalu menjawab, "Baik pak kyai, saya sanggup mandi malam keramas selama 41 malam!"
Saya kan tiap hari kerja malam, aih.. Gampang amat syaratnya, pikir si gadis.
"Bagus... Syarat kedua, sampeyan HARUS SELALU MENJAGA KESUCIAN selama 41 Hari. Selama itu badan sampeyan harus selalu SUCI. Sampeyan harus menjauhi segala hal yang membatalkan wudlu. Bila kentut atau buang air sampeyan harus langsung wudlu lagi. Mau tidur wudlu dulu, bangun tidur juga langsung wudlu!"
"Dengan begitu, pekerjaan saya gak terganggu kan, pak kyai?"
"Oh gak kok, mbak. Silahkan kerjakan pekerjaan sampeyan yang menurut sampeyan baik dan bermanfaat, tapi sampeyan harus selalu suci dan tak boleh batal. Apa sampeyan sanggup?"
Si gadis kali ini tersenyum. Dia berpikir, Saya pasti bisa melakukannya ... ini kan pekerjaan enteng dan mudah! Anak TK pun bisa. Setiap orang juga mampu melakukannya.. Ada ada aja pak kyai satu ini.
"Syarat ketiga.. Apa pak kyai..?"
"Syarat yang ketiga, ketika sampeyan selesai keramas malam, sampeyan harus melakukan SHALAT MALAM sebanyak 11 rakaat dan harus dilakukan rutin tiap malam.
2 rakaat shalat taubatan nasuha
2 rakaat shalat Meminta ridho Allah swt
2 rakaat shalat birrul walidain
2 rakaat shalat hajat
3 rakaat shalat witir
Setelah itu duduk membaca wirid ini." Kata pak kyai sambil menyodorkan tulisan yang ditulis dengan abc biasa, tidak ditulis dengan huruf arab.
"Tapi saya gak bisa shalat yang begitu-begituan, tolong minta ditulis sekalian!"
"Tapi sampeyan bisa shalat kan?"
"Bisa pak, di komplek juga ada pengajiannya juga kok!"
"Oo... Begitu." kata pak kyai. "Ya sudah saya tuliskan niat shalat-shalat itu sekalian."
Setelah selesai menulis dan menerima kertas dari pak kyai, si gadis pun pamitan pulang. Si gadis berniat memberikan amplop kepada pak kyai.
"Apa ini.. Bawa pulang saja. Berikan pada ibu dan adik-adik sampeyan. Sampeyan kan kesusahan, tak perlu saya menambah kesusahan sampeyan. Bukankah begitu?"
"Tapi pak kyai..?"
"Gak pakai tapi-tapian. Ibu dan adik-adik sampeyan lebih membutuhkan!"
Si gadis pun pulang ke surabaya malam itu.
Sampai di rumah, ia langsung ke kamar mandi wudlu. Ia ikuti petunjuk pak kyai. Dandan rapi, pakai minyak wangi, kosmetik ia masukkan dalam tas kecilnya. Tak lupa secarik kertas dari pak kyai ia selipkan di dalamnya. Ia pun berangkat kerja.
Tiba di komplek, ia langsung dapat job. Tak tanggung-tangung kali ini kontraktor apartemen membokingnya. Ih mujur amat gue malam ini dapat mangsa kelas kakap, bisiknya.
Setelah tawar menawar harga, akhirnya sepakat, ia dibawa ke sebuah apartemen. Masih di komplek, Dalam hati ia bingung, ketika si hidung belang meraih tangannya. Terpikir olehnya, laki-laki megang tangan saya kan.. waduh.. batal dong wudlu saya..
"Maaf mas, saya mau ke kamar mandi.. bentar saja!"
"Ok.." sahut hidung belang.
Di kamar mandi ia pun wudlu kembali. Sip.. Sekarang saya sudah suci.. Kerja lagi.
Dalam apartemen, ia berkata, "Mas jangan pegang-pegang atau ngapa-ngapain saya ya, nanti wudlu saya batal lagi, saya capek mas bolak-balik ke kamar mandi, nih udah 7 kali saya wudlu."
"Lho saya udah bayar kamu mahal untuk melayani saya. Bukan untuk lihat kamu wira-wiri ke kamar mandi."
"Ya udah.. saya layani mas. Mau kopi, teh atau apa aku buatin mas.."
"Aku mau kamu melayani aku!" Hidung belang mulai marah.
"Untuk yang begituan maaf aja mas, saya gak bisa, saya mau melayani mas, tapi saya gak disentuh, saya gak mau wudlu saya batal."
Akhirnya, berlalulah si hidung belang darinya. Tak sepeser pun uang ia dapatkan. Begitu juga hari-hari berikutnya, tak disangka dirinya begitu laris namun tak satupun lelaki mampu menaklukkannya membatalkan wudlu. Juga tak ada uang ia hasilkan. si gadis semakin bingung dengan dirinya sendiri. Di sisi lain ia butuh uang, tapi di sisi lain ia sudah berkata "SANGGUP" memenuhi persyaratan. Ini pilihan sulit, pilih uang atau menepati janji. Dan ia lebih memilih tidak mendapat uang daripada harus membatalkan wudlunya.
Malam-malam yang ia lewati, ia mandi keramas, shalat malam dan wirid. Dan anehnya, wirid yang ditulis pak kyai untuk ia amalkan cuma SYAHADAT, TASBIH, ISTIGHFAR, SHALAWAT DAN AYAT KURSI yang masing-masing dibaca 11x. Begitu besar pengaruhnya pada gadis WTS ini.
"Kalau tiap hari aku gak dapat uang, bagaimana aku menghidupi ibu dan adik-adikku?
Tapi meski aku gak dapat uang, hatiku bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan.
Sementara aku tak tega lihat ibu jualan sayur keliling...
Ya Allah beri hamba jalan terbaik...
Seminggu berlalu, si gadis kembali datang ke pesantren pak kyai. Ia utarakan semua yang telah ia lakukan.
"Pak kyai.. Apa tidak ada keringanan bagi saya, tentang syarat-syarat itu? Kalau begini saya gak bisa lagi menghidupi ibu dan adik-adik saya lagi..
Kini ibu saya malah jualan sayuran keliling, hati saya merintih dengan semua ini, sementara adik-adik saya mendapat teguran dari BP3 karena tunggakan SPP. Tolong pak kyai, beri saya solusi.."
"Baiklah, bila sampeyan mau, tinggallah di pesantren ini, pada siang hari. Dan sore hari sampeyan boleh pulang." Kata pak kyai
"Maksudnya, pak kyai?"
"Sampeyan bisa memasak kan?"
"Bisa pak!"
"Ya sudah, Sampeyan sementara di sini saja, masak sama santri-santri putri yang menetap di sini, bagaimana?"
"Apa saya gak merepotkan pak?"
"Ya Gak lah, sampeyan pulang dulu pamit sama ibu. Ini ada sangu buat sampeyan!" Pak kyai mengulurkan amplop berisi uang. Si gadis hanya menangis tak tahu harus berbuat apa.
"Kalau ibu sampeyan setuju, Mulai besok pagi, sampeyan memasak sama santri-santri putri di sini, sebab bu nyai repot sendirian ngurus semuanya. Apalagi lagi banyak tukang dan kuli bangunan yang lagi kerja."
"Kasihan ya bah.." kata ibu nyai saat melepas kepergian si gadis.
"Ya mudah-mudahan bu.. Allah membuka pintu hidayah kepadanya. Saya lihat anak itu sudah ada tanda-tanda mau berhenti dari kegiatan kotornya. Siapa tahu dia mau bertaubat kembali pada jalan yang benar, tetap dalam bakti pada orangtuanya, tanpa harus melakukan tindakan asusila."
"Amin. Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah pada kita semua."
Begitulah, akhirnya si gadis membantu memasak di pesantren itu di siang hari. Malam ia berada di rumah. Tak lupa ibu nyai membawakan sekedar oleh-oleh untuk ibunya. Alangkah terkejutnya si gadis, saat ibu nyai memberikan sebuah amplop kepadanya.
"Apa-apaan ini bu? Saya di sini cuma bantu-bantu saja, bukan kerja. Saya bisa bantu-bantu disini sudah senang jangan lagi memberati pikiran saya dengan menerima uang dari ibu nyai."
"Yang memberi uang sama sampeyan itu lho siapa? Aku cuma nitip ini, berikan pada ibumu! Saya memberi untuk ibumu, bukan untuk kamu!"
"Tapi saya gak bisa menerima itu bu!"
"Kalau kamu gak mau dititipi ya sudah gak apa-apa, nanti pak kyai dan saya sendiri yang akan datang pada ibumu!"
Door..
Hati gadis itu bagai disambar halilintar. Haru bercampur bahagia mengaduk-aduk perasaan dan batinnya. Suara tangisnya pun tak dapat dibendung. Tatkala dunia tak bersahabat dengannya, ternyata Allah masih menghargainya dengan mengirim penolong dalam hidupnya. Di saat dunia saling merebutkan untungnya masing-masing ternyata masih ada satu celah untuk menghargai kebersamaan.
"Ya Allah..." Teriak gadis itu sambil bersimpuh memeluk lutut bu nyai. Perasaannya meledak tanpa bisa ditahan. Gemuruh kekosongan jiwa ia tumpahkan sejadi-jadinya lewat tangisnya.
Perlahan bu nyai mengelus-elus kepalanya yang sekarang sudah berjilbab. Seperti usapan kasih sayang dari ibu untuk anaknya.
"Kamu sekarang sudah menjadi salah satu bagian dari warga pesantren. Jadi masalahmu adalah masalah kami juga. Kesusahanmu adalah kesusahan kami juga. Kami akan terus berusaha membantumu sebisanya. Jadi tolonglah.. Jangan buat pak kyai kecewa karenamu. Biarkanlah masa lalu yang kelam cuma jadi sejarah dan kenangan. Biarlah membusuk seiring berjalannya waktu.
Ingatlah.. Anakku.. Allah tak akan memberikan kesengsaraan pada hambaNya yang benar-benar bertaubat dan menyesali perbuatannya. Asal kita benar-benar dan sungguh-sungguh mengganti perbuatan buruk kita dengan perbuatan yang baik dan bermanfaat."
Nasehat bu nyai menancap dalam ke dasar sanubarinya. Di rumah, biasanya ia gunakan pergi kerja ke komplek kini perlahan ia tinggalkan. Semalaman ia hanya membaca Quran yang siang hari ia pelajari dari bu nyai. Kegiatan keramas malam, shalat malam dan wirid semakin ia perbanyak. Bahkan tak jarang ia tak tidur semalaman. Sementara itu, ibu dan adik-adiknya malah ikutan ngaji dan shalat bersamanya hingga ia pun mampu memenuhi persyaratan genap 41 hari.
Bulan-bulan berlalu, si gadis tampak betah di pesantren. Bahkan 2 adiknya, menyusul untuk menetap di sana. Perlaha tapi pasti, perubahan muncul dalam diri dan keluarganya. Hingga pada akhirnya, pak kyai menemukan seorang pemuda untuknya dan menikahkannya. Kabar terakhir suaminya menjadi seorang pejabat tinggi di daerah sumbawa. Ia kini dan suami yang shalih itu, menjadi donatur tetap pesantren. Tiap 3 bulan ia sekeluarga mengunjungi pak kyai dan bu nyai yang telah berjasa mengangkatnya dari dunia hitam.
Bahkan kesibukannya makin bertambah setelah kini juga menjadi guru ngaji dan guru PAUD.
Rahasia Allah siapa yang tahu. Yang pasti berbuat baik bagi sesama adalah tanda-tanda dari orang yang bermanfaat.
Tamat
(Sumber: CAP Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)
Setelah salam dan masuk ke ruang tamu di rumah pak kyai, wanita cantik itupun mengutarakan maksud kedatangannya,
"Maaf pak kyai, nama saya Elvira, sowan saya kemari tiada lain mau minta PENGLARISAN. Karena dagangan saya akhir-akhir ini mulai sepi pembeli, sebab saya banyak mendapat saingan oleh para pedagang baru yang notabene umurnya lebih muda dari saya."
"Umur sampeyan?"
"23, pak!"
"Rumah sampeyan?"
"Surabaya, pak?"
"Oh.. Pantes. Dagang di kota besar emang banyak saingan, kalau kita gak pinter-pinter mengelola keuangan dan modal dobel bisa-bisa bangkrut."
"Tapi dagangan saya modalnya ya begini ini, pak kyai!"
"Emang Sampeyan dagang apa, mbak?"
"Dagang buah, pak kyai!"
"Sudah lama sampeyan menekuni pekerjaan itu?"
"Sejak kelas 2 SMA, ya sekitar 7 tahunan!"
"Emang buah apa saja yang sampeyan jual?"
"Cuma satu macam, pak!"
"Lho...?"
"Saya jualan buah dada, sekaligus tubuh saya. Untuk menyambung hidup keluarga dan sekolah adik-adik saya. Bapak sudah meninggal dan ibu saya adalah janda dengan 6 orang anak. Saya adalah anak yang pertama."
Astaghfirullah al adzim.. Bisik hati pak kyai. Apa gak nyasar ya orang ini, jual kesucian kok minta penglarisan. Tapi karena didorong oleh rasa kasihan, pak kyaipun kemudian hanya diam mendengar tangisan penuturan balada hidupnya, dan kisah hidup keluarga si gadis cantik itu yang ternyata adalah WTS (Wanita Tuna Susila)
"Jadi niat sampeyan melakukan pekerjaan ini adalah demi menghidupi ibu dan adik-adik sampeyan?"
"Betul pak kyai, selain itu KEBAHAGIAAN adalah tujuan utama saya, karena terus terang, hidup saya seakan tanpa arah dan tujuan. Sampai detik ini saya belum pernah merasakan apa itu kedamaian dan kebahagiaan dalam hati!"
"Kalau demikian niat dan tujuan sampeyan kemari.. Ok saya bantu. Tapi apa sampeyan bisa menepati syarat-syarat PENGLARISAN ini?"
"Apapun syarat yang pak kyai minta, akan saya tepati!"
"Persyaratan penglarisan ini berat, meski dibilang tak ada hubungannya sama sekali dengan uang atau materi, tapi WAKTU!"
"Saya akan berusaha menurut pada petunjuk kyai."
"Syarat pertama, Sampeyan harus MANDI JINABAT keramas sebanyak 41 hari. Dan dilakukan dini hari jam 12 ke atas. Bagaimana sanggup?"
Si gadis diam. Lalu menjawab, "Baik pak kyai, saya sanggup mandi malam keramas selama 41 malam!"
Saya kan tiap hari kerja malam, aih.. Gampang amat syaratnya, pikir si gadis.
"Bagus... Syarat kedua, sampeyan HARUS SELALU MENJAGA KESUCIAN selama 41 Hari. Selama itu badan sampeyan harus selalu SUCI. Sampeyan harus menjauhi segala hal yang membatalkan wudlu. Bila kentut atau buang air sampeyan harus langsung wudlu lagi. Mau tidur wudlu dulu, bangun tidur juga langsung wudlu!"
"Dengan begitu, pekerjaan saya gak terganggu kan, pak kyai?"
"Oh gak kok, mbak. Silahkan kerjakan pekerjaan sampeyan yang menurut sampeyan baik dan bermanfaat, tapi sampeyan harus selalu suci dan tak boleh batal. Apa sampeyan sanggup?"
Si gadis kali ini tersenyum. Dia berpikir, Saya pasti bisa melakukannya ... ini kan pekerjaan enteng dan mudah! Anak TK pun bisa. Setiap orang juga mampu melakukannya.. Ada ada aja pak kyai satu ini.
"Syarat ketiga.. Apa pak kyai..?"
"Syarat yang ketiga, ketika sampeyan selesai keramas malam, sampeyan harus melakukan SHALAT MALAM sebanyak 11 rakaat dan harus dilakukan rutin tiap malam.
2 rakaat shalat taubatan nasuha
2 rakaat shalat Meminta ridho Allah swt
2 rakaat shalat birrul walidain
2 rakaat shalat hajat
3 rakaat shalat witir
Setelah itu duduk membaca wirid ini." Kata pak kyai sambil menyodorkan tulisan yang ditulis dengan abc biasa, tidak ditulis dengan huruf arab.
"Tapi saya gak bisa shalat yang begitu-begituan, tolong minta ditulis sekalian!"
"Tapi sampeyan bisa shalat kan?"
"Bisa pak, di komplek juga ada pengajiannya juga kok!"
"Oo... Begitu." kata pak kyai. "Ya sudah saya tuliskan niat shalat-shalat itu sekalian."
Setelah selesai menulis dan menerima kertas dari pak kyai, si gadis pun pamitan pulang. Si gadis berniat memberikan amplop kepada pak kyai.
"Apa ini.. Bawa pulang saja. Berikan pada ibu dan adik-adik sampeyan. Sampeyan kan kesusahan, tak perlu saya menambah kesusahan sampeyan. Bukankah begitu?"
"Tapi pak kyai..?"
"Gak pakai tapi-tapian. Ibu dan adik-adik sampeyan lebih membutuhkan!"
Si gadis pun pulang ke surabaya malam itu.
Sampai di rumah, ia langsung ke kamar mandi wudlu. Ia ikuti petunjuk pak kyai. Dandan rapi, pakai minyak wangi, kosmetik ia masukkan dalam tas kecilnya. Tak lupa secarik kertas dari pak kyai ia selipkan di dalamnya. Ia pun berangkat kerja.
Tiba di komplek, ia langsung dapat job. Tak tanggung-tangung kali ini kontraktor apartemen membokingnya. Ih mujur amat gue malam ini dapat mangsa kelas kakap, bisiknya.
Setelah tawar menawar harga, akhirnya sepakat, ia dibawa ke sebuah apartemen. Masih di komplek, Dalam hati ia bingung, ketika si hidung belang meraih tangannya. Terpikir olehnya, laki-laki megang tangan saya kan.. waduh.. batal dong wudlu saya..
"Maaf mas, saya mau ke kamar mandi.. bentar saja!"
"Ok.." sahut hidung belang.
Di kamar mandi ia pun wudlu kembali. Sip.. Sekarang saya sudah suci.. Kerja lagi.
Dalam apartemen, ia berkata, "Mas jangan pegang-pegang atau ngapa-ngapain saya ya, nanti wudlu saya batal lagi, saya capek mas bolak-balik ke kamar mandi, nih udah 7 kali saya wudlu."
"Lho saya udah bayar kamu mahal untuk melayani saya. Bukan untuk lihat kamu wira-wiri ke kamar mandi."
"Ya udah.. saya layani mas. Mau kopi, teh atau apa aku buatin mas.."
"Aku mau kamu melayani aku!" Hidung belang mulai marah.
"Untuk yang begituan maaf aja mas, saya gak bisa, saya mau melayani mas, tapi saya gak disentuh, saya gak mau wudlu saya batal."
Akhirnya, berlalulah si hidung belang darinya. Tak sepeser pun uang ia dapatkan. Begitu juga hari-hari berikutnya, tak disangka dirinya begitu laris namun tak satupun lelaki mampu menaklukkannya membatalkan wudlu. Juga tak ada uang ia hasilkan. si gadis semakin bingung dengan dirinya sendiri. Di sisi lain ia butuh uang, tapi di sisi lain ia sudah berkata "SANGGUP" memenuhi persyaratan. Ini pilihan sulit, pilih uang atau menepati janji. Dan ia lebih memilih tidak mendapat uang daripada harus membatalkan wudlunya.
Malam-malam yang ia lewati, ia mandi keramas, shalat malam dan wirid. Dan anehnya, wirid yang ditulis pak kyai untuk ia amalkan cuma SYAHADAT, TASBIH, ISTIGHFAR, SHALAWAT DAN AYAT KURSI yang masing-masing dibaca 11x. Begitu besar pengaruhnya pada gadis WTS ini.
"Kalau tiap hari aku gak dapat uang, bagaimana aku menghidupi ibu dan adik-adikku?
Tapi meski aku gak dapat uang, hatiku bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan.
Sementara aku tak tega lihat ibu jualan sayur keliling...
Ya Allah beri hamba jalan terbaik...
Seminggu berlalu, si gadis kembali datang ke pesantren pak kyai. Ia utarakan semua yang telah ia lakukan.
"Pak kyai.. Apa tidak ada keringanan bagi saya, tentang syarat-syarat itu? Kalau begini saya gak bisa lagi menghidupi ibu dan adik-adik saya lagi..
Kini ibu saya malah jualan sayuran keliling, hati saya merintih dengan semua ini, sementara adik-adik saya mendapat teguran dari BP3 karena tunggakan SPP. Tolong pak kyai, beri saya solusi.."
"Baiklah, bila sampeyan mau, tinggallah di pesantren ini, pada siang hari. Dan sore hari sampeyan boleh pulang." Kata pak kyai
"Maksudnya, pak kyai?"
"Sampeyan bisa memasak kan?"
"Bisa pak!"
"Ya sudah, Sampeyan sementara di sini saja, masak sama santri-santri putri yang menetap di sini, bagaimana?"
"Apa saya gak merepotkan pak?"
"Ya Gak lah, sampeyan pulang dulu pamit sama ibu. Ini ada sangu buat sampeyan!" Pak kyai mengulurkan amplop berisi uang. Si gadis hanya menangis tak tahu harus berbuat apa.
"Kalau ibu sampeyan setuju, Mulai besok pagi, sampeyan memasak sama santri-santri putri di sini, sebab bu nyai repot sendirian ngurus semuanya. Apalagi lagi banyak tukang dan kuli bangunan yang lagi kerja."
"Kasihan ya bah.." kata ibu nyai saat melepas kepergian si gadis.
"Ya mudah-mudahan bu.. Allah membuka pintu hidayah kepadanya. Saya lihat anak itu sudah ada tanda-tanda mau berhenti dari kegiatan kotornya. Siapa tahu dia mau bertaubat kembali pada jalan yang benar, tetap dalam bakti pada orangtuanya, tanpa harus melakukan tindakan asusila."
"Amin. Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah pada kita semua."
Begitulah, akhirnya si gadis membantu memasak di pesantren itu di siang hari. Malam ia berada di rumah. Tak lupa ibu nyai membawakan sekedar oleh-oleh untuk ibunya. Alangkah terkejutnya si gadis, saat ibu nyai memberikan sebuah amplop kepadanya.
"Apa-apaan ini bu? Saya di sini cuma bantu-bantu saja, bukan kerja. Saya bisa bantu-bantu disini sudah senang jangan lagi memberati pikiran saya dengan menerima uang dari ibu nyai."
"Yang memberi uang sama sampeyan itu lho siapa? Aku cuma nitip ini, berikan pada ibumu! Saya memberi untuk ibumu, bukan untuk kamu!"
"Tapi saya gak bisa menerima itu bu!"
"Kalau kamu gak mau dititipi ya sudah gak apa-apa, nanti pak kyai dan saya sendiri yang akan datang pada ibumu!"
Door..
Hati gadis itu bagai disambar halilintar. Haru bercampur bahagia mengaduk-aduk perasaan dan batinnya. Suara tangisnya pun tak dapat dibendung. Tatkala dunia tak bersahabat dengannya, ternyata Allah masih menghargainya dengan mengirim penolong dalam hidupnya. Di saat dunia saling merebutkan untungnya masing-masing ternyata masih ada satu celah untuk menghargai kebersamaan.
"Ya Allah..." Teriak gadis itu sambil bersimpuh memeluk lutut bu nyai. Perasaannya meledak tanpa bisa ditahan. Gemuruh kekosongan jiwa ia tumpahkan sejadi-jadinya lewat tangisnya.
Perlahan bu nyai mengelus-elus kepalanya yang sekarang sudah berjilbab. Seperti usapan kasih sayang dari ibu untuk anaknya.
"Kamu sekarang sudah menjadi salah satu bagian dari warga pesantren. Jadi masalahmu adalah masalah kami juga. Kesusahanmu adalah kesusahan kami juga. Kami akan terus berusaha membantumu sebisanya. Jadi tolonglah.. Jangan buat pak kyai kecewa karenamu. Biarkanlah masa lalu yang kelam cuma jadi sejarah dan kenangan. Biarlah membusuk seiring berjalannya waktu.
Ingatlah.. Anakku.. Allah tak akan memberikan kesengsaraan pada hambaNya yang benar-benar bertaubat dan menyesali perbuatannya. Asal kita benar-benar dan sungguh-sungguh mengganti perbuatan buruk kita dengan perbuatan yang baik dan bermanfaat."
Nasehat bu nyai menancap dalam ke dasar sanubarinya. Di rumah, biasanya ia gunakan pergi kerja ke komplek kini perlahan ia tinggalkan. Semalaman ia hanya membaca Quran yang siang hari ia pelajari dari bu nyai. Kegiatan keramas malam, shalat malam dan wirid semakin ia perbanyak. Bahkan tak jarang ia tak tidur semalaman. Sementara itu, ibu dan adik-adiknya malah ikutan ngaji dan shalat bersamanya hingga ia pun mampu memenuhi persyaratan genap 41 hari.
Bulan-bulan berlalu, si gadis tampak betah di pesantren. Bahkan 2 adiknya, menyusul untuk menetap di sana. Perlaha tapi pasti, perubahan muncul dalam diri dan keluarganya. Hingga pada akhirnya, pak kyai menemukan seorang pemuda untuknya dan menikahkannya. Kabar terakhir suaminya menjadi seorang pejabat tinggi di daerah sumbawa. Ia kini dan suami yang shalih itu, menjadi donatur tetap pesantren. Tiap 3 bulan ia sekeluarga mengunjungi pak kyai dan bu nyai yang telah berjasa mengangkatnya dari dunia hitam.
Bahkan kesibukannya makin bertambah setelah kini juga menjadi guru ngaji dan guru PAUD.
Rahasia Allah siapa yang tahu. Yang pasti berbuat baik bagi sesama adalah tanda-tanda dari orang yang bermanfaat.
Tamat
(Sumber: CAP Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)
Rabu, 17 Oktober 2012
MATEMATIKA SAHABAT
Seorang lelaki shalih yang mempunyai 3 orang
anak lelaki, istrinya telah meninggal dunia. Suatu saat sang bapak
memanggil anak-anaknya dan berkata,
“Wahai anak-anakku, kalau kelak aku meninggal, hendaknya kalian tetap ru
“Wahai anak-anakku, kalau kelak aku meninggal, hendaknya kalian tetap ru
kun
berkasih sayang dan saling membantu seperti saat ini. Harta
peninggalanku, hendaknya engkau bagi sesuai pesanku. Engkau yang tertua,
karena telah mapan dan mempunyai penghasilan yang mencukupi, maka
memperoleh seper-sembilannya. Engkau yang nomor dua memperoleh
seper-tiganya. Dan engkau terkecil memperoleh seper-duanya.
Tetapi ingatlah, kalian harus tetap rukun berkasih sayang dan saling menolong satu sama lainnya. Janganlah bermusuhan hanya karena berebut harta dunia, sesungguhnya kehidupan di dunia itu hanya sesaat…!!”
Beberapa waktu kemudian lelaki tersebut meninggal dunia. Karena anak-anaknya juga shalih sebagaimana didikan ayahnya, maka setelah pemakaman ayahnya, mereka menyelesaikan segala tanggungan orang tuanya tersebut. Setelah tidak ada lagi hutang dan tanggungan lainnya, tugas mereka selanjutnya adalah membagi harta sisa peninggalan (warisan) yang memang menjadi hak mereka bertiga, seperti wasiat ayahnya sebelum meninggal dunia.
Mereka menghitung dan ternyata harta yang masih tersisa berupa 17 (tujuh belas) ekor unta untuk mereka bertiga. Tentu saja mereka kesulitan untuk membaginya sesuai dengan wasiat ayahnya, sebab harta sisa bukan berupa uang yang mudah dibagi, melainkan berupa unta.
Mereka kesana-kemari mendatangi beberapa orang pintar dan bijaksana untuk bisa membagi sesuai wasiat ayahnya, tetapi mereka tetap menemui jalan buntu.
Sampai akhirnya seseorang menyarankan untuk meminta tolong kepada khalifah Ali bin Abu Thalib radiyallahu anhu. Mereka mengirim utusan kepada Khalifah Ali dan beliau bersedia membantu kesulitan saudaranya sesama kaum muslim. Didikan Rasulullah SAW sebagai orang yang zuhud dan tawadhu, membuat Khalifah Ali dengan senang hati mendatangi tempat tinggal mereka dengan menunggangi untanya.
Setibanya di sana, mereka menceritakan permasalahannya, dan Khalifah Ali dengan tersenyum berkata,
“Bawalah unta-unta itu kemari!!”
Setelah unta-unta dikumpulkan di hadapan Khalifah Ali, beliau berkata,
“Aku tambahkan untaku dalam harta warisan ini, sehingga jumlahnya menjadi 18 (delapan belas) ekor. Wahai engkau yang tertua, ambillah bagianmu, seper-sembilannya, berarti dua ekor unta!!”
Anak yang tertua pun kemudian mengambil bagiannya dua ekor unta dengan gembira.
Kemudian Khalifah Ali berkata lagi, “Wahai engkau anak yang nomor dua, ambillah bagianmu. Sepertiganya, berarti sebanyak enam ekor unta!!”
Anak kedua pun kemudian mengambil bagiannya sebanyak enam ekor unta dengan ikhlas dan terharu.
Dan beliau berkata lagi, “Dan engkau, wahai anak yang termuda, ambillah bagianmu seper-duanya, berarti kamu mendapatkan sembilan ekor unta!!”
Anak termuda pun kemudian mengambil bagiannya sebanyak sembilan ekor unta, dan ternyata masih tersisa satu ekor lagi, dan Khalifah Ali berkata,
“Masih tersisa satu ekor, dan ini memang unta milikku tadi, maka aku mengambilnya kembali!!’
Coba anda perhatikan,
18 x 1/9 = 2
18 x 1/3 = 6
18 x 1/2 = 9
Jumlah dari 2+6+9=17
Sahabat Ali meminjamkan 1 ekor untanya supaya berjumlah 18 dan memudahkan dalam pembagian tanpa harus menyembelih unta. Karena angka 17 tak bisa buat membagi pecahan 1/9, 1/3 dan 1/2, yang dalam pembagian unta hidup dan setelah dibagipun unta supaya tetap dalam keadaan hidup. Remeh memang, tapi itu benar-benar tindakan yang luar biasa, yang luput dari pemikiran manusia manapun.
Sungguh benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, “Ana madinatul ‘ilmi, wa aliyyun
baabuuha!!” (Sesungguhnya saya ini kotanya ilmu, dan Ali adalah pintu gerbangnya).
Tetapi ingatlah, kalian harus tetap rukun berkasih sayang dan saling menolong satu sama lainnya. Janganlah bermusuhan hanya karena berebut harta dunia, sesungguhnya kehidupan di dunia itu hanya sesaat…!!”
Beberapa waktu kemudian lelaki tersebut meninggal dunia. Karena anak-anaknya juga shalih sebagaimana didikan ayahnya, maka setelah pemakaman ayahnya, mereka menyelesaikan segala tanggungan orang tuanya tersebut. Setelah tidak ada lagi hutang dan tanggungan lainnya, tugas mereka selanjutnya adalah membagi harta sisa peninggalan (warisan) yang memang menjadi hak mereka bertiga, seperti wasiat ayahnya sebelum meninggal dunia.
Mereka menghitung dan ternyata harta yang masih tersisa berupa 17 (tujuh belas) ekor unta untuk mereka bertiga. Tentu saja mereka kesulitan untuk membaginya sesuai dengan wasiat ayahnya, sebab harta sisa bukan berupa uang yang mudah dibagi, melainkan berupa unta.
Mereka kesana-kemari mendatangi beberapa orang pintar dan bijaksana untuk bisa membagi sesuai wasiat ayahnya, tetapi mereka tetap menemui jalan buntu.
Sampai akhirnya seseorang menyarankan untuk meminta tolong kepada khalifah Ali bin Abu Thalib radiyallahu anhu. Mereka mengirim utusan kepada Khalifah Ali dan beliau bersedia membantu kesulitan saudaranya sesama kaum muslim. Didikan Rasulullah SAW sebagai orang yang zuhud dan tawadhu, membuat Khalifah Ali dengan senang hati mendatangi tempat tinggal mereka dengan menunggangi untanya.
Setibanya di sana, mereka menceritakan permasalahannya, dan Khalifah Ali dengan tersenyum berkata,
“Bawalah unta-unta itu kemari!!”
Setelah unta-unta dikumpulkan di hadapan Khalifah Ali, beliau berkata,
“Aku tambahkan untaku dalam harta warisan ini, sehingga jumlahnya menjadi 18 (delapan belas) ekor. Wahai engkau yang tertua, ambillah bagianmu, seper-sembilannya, berarti dua ekor unta!!”
Anak yang tertua pun kemudian mengambil bagiannya dua ekor unta dengan gembira.
Kemudian Khalifah Ali berkata lagi, “Wahai engkau anak yang nomor dua, ambillah bagianmu. Sepertiganya, berarti sebanyak enam ekor unta!!”
Anak kedua pun kemudian mengambil bagiannya sebanyak enam ekor unta dengan ikhlas dan terharu.
Dan beliau berkata lagi, “Dan engkau, wahai anak yang termuda, ambillah bagianmu seper-duanya, berarti kamu mendapatkan sembilan ekor unta!!”
Anak termuda pun kemudian mengambil bagiannya sebanyak sembilan ekor unta, dan ternyata masih tersisa satu ekor lagi, dan Khalifah Ali berkata,
“Masih tersisa satu ekor, dan ini memang unta milikku tadi, maka aku mengambilnya kembali!!’
Coba anda perhatikan,
18 x 1/9 = 2
18 x 1/3 = 6
18 x 1/2 = 9
Jumlah dari 2+6+9=17
Sahabat Ali meminjamkan 1 ekor untanya supaya berjumlah 18 dan memudahkan dalam pembagian tanpa harus menyembelih unta. Karena angka 17 tak bisa buat membagi pecahan 1/9, 1/3 dan 1/2, yang dalam pembagian unta hidup dan setelah dibagipun unta supaya tetap dalam keadaan hidup. Remeh memang, tapi itu benar-benar tindakan yang luar biasa, yang luput dari pemikiran manusia manapun.
Sungguh benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, “Ana madinatul ‘ilmi, wa aliyyun
baabuuha!!” (Sesungguhnya saya ini kotanya ilmu, dan Ali adalah pintu gerbangnya).
AKU TERPESONA KEJUJURANMU
“Wahai ibu, serahkanlah aku kepada Allah dan
ijinkanlah aku pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu mukim di pesantren
dan berziarah kepada orang-orang shalih di sana…!!” ungkap Abdul qadir
kecil, yang kala itu berus
ia 9 tahunan.
Tentu saja sang ibu terkejut dengan sikap dan permintaan anaknya yang begitu tiba-tiba, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Sang ibu berkata,
“Wahai anakku, kamu masih kecil, kenapa engkau tiba-tiba berkata seperti itu!!”
Abdul qadir menjawab, "Ketika saya bermaksud untuk menggembala sapi kita, aku berjalan mengiringinya yang berjalan di depanku. Saat itu pagi hari tepat tanggal 9 Dzulhijjah, hari Arafah yang mulia di mana kaum muslimin sedang beribadah haji bersiap-siap untuk wuquf di Padang Arafah. Tanpa saya duga, tiba-tiba sapi itu menoleh kepadaku yang berjalan mengikutinya, dan berkata,
“Wahai Abdul Qadir, engkau tidak dijadikan untuk ini, dan engkau tidak diperintahkan untuk mengerjakan ini, kau harus menuntut ilmu dan beribadah kepada-Nya!!”
Sang ibu menangis penuh haru sekaligus pilu mendengarnya, tangisan bahagia dan sedih.
Bahagia, karena ia yakin anaknya akan memperoleh derajad yang mulia di sisi Allah, sebagaimana “isyarat” yang dikandung dari peristiwa yang diceritakan anaknyanya.
Sedih, karena ia harus berpisah dengan putra kesayangannya, dan belum tentu akan bertemu di kemudian hari.
Tetapi sebagai seorang ibu yang sholihah, ia merasa bahwa sudah merupakan kehendak Allah anaknya akan menjalani kehidupan terpisah dengan dirinya, karena itu ia harus merelakan dan meridhoinya.
Pada waktu yang ditentukan, sang ibu menitipkannya pada kafilah yang akan berangkat ke Baghdad, ibunya berpesan, "Anakku, selalu berkatalah benar dan berlaku jujurlah dalam keadaan
apapun dan kepada siapapun. Berangkatlah wahai anakku, aku telah menitipkan engkau kepada Allah. Mungkin wajahmu takkan pernah kulihat lagi hingga datangnya hari kiamat!!”
Sang ibu sebelumnya memberi bekal anaknya 40 dinar dan menaruhnya pada SAKU RAHASIA di bawah ketiak anaknya.
Di tengah perjalanan, sekelompok perampok berjumlah enam puluh orang mengepung kafilah tersebut. Tak ada seorangpun luput dari penjarahan kecuali diambil dan dikuras hartanya. Tetapi Abdul Qadir kecil dibiarkan begitu saja karena ia tampak miskin dan tidak membawa apa-apa. Ternyata ada salah seorang perampok yang secara iseng bertanya, “Wahai bocah miskin, apakah kamu membawa sesuatu?”
Abdul Qadir menjawab,
“Saya memiliki empat puluh dinar!!”
“Di mana?” Tanya perampok itu.
“Terjahit di dalam saku rahasia di bawah ketiakku!!”
Tampaknya perampok itu menganggap Abdul Qadir bergurau atau hanya mengejek, karena itu ia tidak menanggapinya secara serius. Beberapa orang perampok lain yang melihatnya sempat menanyakan hal yang sama, dan Abdul Qadir kecil tidak pernah merubah jawabannya.
Ketika para perampok berkumpul di depan pimpinannya, mengumpulkan hasil jarahannya, sang pemimpin berkata, “Apakah harta mereka sudah kalian ambil semuanya?”
“Sudah semua Boss, hanya saja ada bocah miskin yang mengaku memiliki empat puluh dinar, tetapi saya tidak mempercayainya!!”
Dengan penasaran, maka sang pemimpin memerintahkan agar mendatangkan bocah itu. Abdul Qadir dihadapkan kepada sang pemimpin perampok, ia langsung berkata, “Hai bocah.. Kamu punya apa?”
Abdul Qadir menjawab,
“Saya memiliki empat puluh dinar yang dijahit di dalam saku di bawah ketiakku!!”
Sang pemimpin segera menggeledah ketiak abdul qadir, dan menemukan uang 40 dinar di bawah ketiaknya. Tapi kemudian ia tampak tercenung tak percaya melihat anak kecil di depannya. Ia berkata,
“Wahai bocah, mengapa kamu mengakui memilikinya dan tidak berbohong agar hartamu tidak kami rampas?”
Abdul Qadir kecil berkata, “Ibuku berwasiat agar aku selalu berkata benar dan berlaku jujur dalam keadaan apapun dan siapapun, dan aku tidak akan pernah mengingkari janjiku kepada beliau!!”
Pemimpin perampok itu langsung menangis mendengar kejujuran Abdul Qadir, dan berkata sambil terisak-isak, “Hai bocah, kamu tidak pernah sekalipun mengingkari janjimu kepada ibumu, sedang aku telah bertahun-tahun ‘mengingkari’ Allah, selalu menyalahi dan melanggar laranganNya!! Mulai saat ini aku bertaubat kepada Allah dan tidak akan merampok lagi, aku akan ikut kamu saja!!”
Para anak buahnya yang ikut terperangah kagum dengan kejujuran Abdul Qadir berkata kepada pimpinannya, “Engkau adalah pemimpin kami dalam kejahatan, maka engkau adalah pemimpin kami pula dalam bertaubat, kalau engkau ikut bocah ini, kami pun akan turut serta mengikutinya!!”
Para perompak yang bertaubat itu mengembalikan hasil jarahannya kepada kafilah, dan mengakui Abdul Qadir yang masih kecil sebagai guru mereka, bahkan mereka ikut menuntut ilmu di pesantren yang sama dengan abdul qadir.
(Sumber : CAP Cerita Anak Pesantren, Jun Haris)
Tentu saja sang ibu terkejut dengan sikap dan permintaan anaknya yang begitu tiba-tiba, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Sang ibu berkata,
“Wahai anakku, kamu masih kecil, kenapa engkau tiba-tiba berkata seperti itu!!”
Abdul qadir menjawab, "Ketika saya bermaksud untuk menggembala sapi kita, aku berjalan mengiringinya yang berjalan di depanku. Saat itu pagi hari tepat tanggal 9 Dzulhijjah, hari Arafah yang mulia di mana kaum muslimin sedang beribadah haji bersiap-siap untuk wuquf di Padang Arafah. Tanpa saya duga, tiba-tiba sapi itu menoleh kepadaku yang berjalan mengikutinya, dan berkata,
“Wahai Abdul Qadir, engkau tidak dijadikan untuk ini, dan engkau tidak diperintahkan untuk mengerjakan ini, kau harus menuntut ilmu dan beribadah kepada-Nya!!”
Sang ibu menangis penuh haru sekaligus pilu mendengarnya, tangisan bahagia dan sedih.
Bahagia, karena ia yakin anaknya akan memperoleh derajad yang mulia di sisi Allah, sebagaimana “isyarat” yang dikandung dari peristiwa yang diceritakan anaknyanya.
Sedih, karena ia harus berpisah dengan putra kesayangannya, dan belum tentu akan bertemu di kemudian hari.
Tetapi sebagai seorang ibu yang sholihah, ia merasa bahwa sudah merupakan kehendak Allah anaknya akan menjalani kehidupan terpisah dengan dirinya, karena itu ia harus merelakan dan meridhoinya.
Pada waktu yang ditentukan, sang ibu menitipkannya pada kafilah yang akan berangkat ke Baghdad, ibunya berpesan, "Anakku, selalu berkatalah benar dan berlaku jujurlah dalam keadaan
apapun dan kepada siapapun. Berangkatlah wahai anakku, aku telah menitipkan engkau kepada Allah. Mungkin wajahmu takkan pernah kulihat lagi hingga datangnya hari kiamat!!”
Sang ibu sebelumnya memberi bekal anaknya 40 dinar dan menaruhnya pada SAKU RAHASIA di bawah ketiak anaknya.
Di tengah perjalanan, sekelompok perampok berjumlah enam puluh orang mengepung kafilah tersebut. Tak ada seorangpun luput dari penjarahan kecuali diambil dan dikuras hartanya. Tetapi Abdul Qadir kecil dibiarkan begitu saja karena ia tampak miskin dan tidak membawa apa-apa. Ternyata ada salah seorang perampok yang secara iseng bertanya, “Wahai bocah miskin, apakah kamu membawa sesuatu?”
Abdul Qadir menjawab,
“Saya memiliki empat puluh dinar!!”
“Di mana?” Tanya perampok itu.
“Terjahit di dalam saku rahasia di bawah ketiakku!!”
Tampaknya perampok itu menganggap Abdul Qadir bergurau atau hanya mengejek, karena itu ia tidak menanggapinya secara serius. Beberapa orang perampok lain yang melihatnya sempat menanyakan hal yang sama, dan Abdul Qadir kecil tidak pernah merubah jawabannya.
Ketika para perampok berkumpul di depan pimpinannya, mengumpulkan hasil jarahannya, sang pemimpin berkata, “Apakah harta mereka sudah kalian ambil semuanya?”
“Sudah semua Boss, hanya saja ada bocah miskin yang mengaku memiliki empat puluh dinar, tetapi saya tidak mempercayainya!!”
Dengan penasaran, maka sang pemimpin memerintahkan agar mendatangkan bocah itu. Abdul Qadir dihadapkan kepada sang pemimpin perampok, ia langsung berkata, “Hai bocah.. Kamu punya apa?”
Abdul Qadir menjawab,
“Saya memiliki empat puluh dinar yang dijahit di dalam saku di bawah ketiakku!!”
Sang pemimpin segera menggeledah ketiak abdul qadir, dan menemukan uang 40 dinar di bawah ketiaknya. Tapi kemudian ia tampak tercenung tak percaya melihat anak kecil di depannya. Ia berkata,
“Wahai bocah, mengapa kamu mengakui memilikinya dan tidak berbohong agar hartamu tidak kami rampas?”
Abdul Qadir kecil berkata, “Ibuku berwasiat agar aku selalu berkata benar dan berlaku jujur dalam keadaan apapun dan siapapun, dan aku tidak akan pernah mengingkari janjiku kepada beliau!!”
Pemimpin perampok itu langsung menangis mendengar kejujuran Abdul Qadir, dan berkata sambil terisak-isak, “Hai bocah, kamu tidak pernah sekalipun mengingkari janjimu kepada ibumu, sedang aku telah bertahun-tahun ‘mengingkari’ Allah, selalu menyalahi dan melanggar laranganNya!! Mulai saat ini aku bertaubat kepada Allah dan tidak akan merampok lagi, aku akan ikut kamu saja!!”
Para anak buahnya yang ikut terperangah kagum dengan kejujuran Abdul Qadir berkata kepada pimpinannya, “Engkau adalah pemimpin kami dalam kejahatan, maka engkau adalah pemimpin kami pula dalam bertaubat, kalau engkau ikut bocah ini, kami pun akan turut serta mengikutinya!!”
Para perompak yang bertaubat itu mengembalikan hasil jarahannya kepada kafilah, dan mengakui Abdul Qadir yang masih kecil sebagai guru mereka, bahkan mereka ikut menuntut ilmu di pesantren yang sama dengan abdul qadir.
(Sumber : CAP Cerita Anak Pesantren, Jun Haris)
NABI MUSA AS BERTEMU IBLIS
Suatu ketika Nabi Musa AS sedang duduk
sendirian di muka rumah, tiba-tiba datang seorang lelaki dengan
penampilan nyentrik dan aneh memakai topi yang berwarna-warni.
Saat tiba di hadapan Nabi Musa, lelaki it
Saat tiba di hadapan Nabi Musa, lelaki it
u
membuka topinya yang aneh dan mengucap salam, tetapi beliau tidak serta
merta menjawab salamnya. Ada firasat tak enak dalam hati sehingga
beliau tidak menjawab salamnya.
Karena terlihat aneh dan mencurigakan maka Nabi Musa pun bertanya,
“Siapakah engkau ini?”
Lelaki aneh itu pun menjawab,
“Aku iblis!!”
Benarlah apa yang dirasakan Nabi Musa sembari mengernyitkan dahi beliau berkata, “Kenapa kamu datang kemari??”
Iblis menjawab, “Untuk memberi ucapan selamat kepadamu atas terpilihnya kamu sebagai kalamullah dan atas kedudukan muliamu di sisi Allah!!”
Nabi Musa tidak mau terjebak dengan perangkap iblis yang bernada pujian tersebut, dan beliau mengalihkan pembicaraan pada hal lainnya, beliau berkata, “Untuk apa topi yang kamu bawa itu, aneh sekali bentuknya?”
“Untuk mengelabuhi manusia!!” Jawab Iblis.
“Beritahukanlah kepadaku, dosa apakah yang bila dilakukan seorang manusia, yang membuat dirimu akan mudah menguasai manusia tersebut?” Tanya Nabi Musa.
Maka iblis menjawab, “Apabila manusia itu merasa bangga bercampur sombong atas dirinya sendiri. Merasa amalnya telah banyak dan melupakan dosa-dosanya. Maka saat itulah saya dengan mudah dapat menguasainya tanpa kesulitan!!”
Karena terlihat aneh dan mencurigakan maka Nabi Musa pun bertanya,
“Siapakah engkau ini?”
Lelaki aneh itu pun menjawab,
“Aku iblis!!”
Benarlah apa yang dirasakan Nabi Musa sembari mengernyitkan dahi beliau berkata, “Kenapa kamu datang kemari??”
Iblis menjawab, “Untuk memberi ucapan selamat kepadamu atas terpilihnya kamu sebagai kalamullah dan atas kedudukan muliamu di sisi Allah!!”
Nabi Musa tidak mau terjebak dengan perangkap iblis yang bernada pujian tersebut, dan beliau mengalihkan pembicaraan pada hal lainnya, beliau berkata, “Untuk apa topi yang kamu bawa itu, aneh sekali bentuknya?”
“Untuk mengelabuhi manusia!!” Jawab Iblis.
“Beritahukanlah kepadaku, dosa apakah yang bila dilakukan seorang manusia, yang membuat dirimu akan mudah menguasai manusia tersebut?” Tanya Nabi Musa.
Maka iblis menjawab, “Apabila manusia itu merasa bangga bercampur sombong atas dirinya sendiri. Merasa amalnya telah banyak dan melupakan dosa-dosanya. Maka saat itulah saya dengan mudah dapat menguasainya tanpa kesulitan!!”
TERSESAT DALAM KUBUR
Seorang anak terkena penyakit cukup ganas,
banyak tabib, dokter dihadirkan namun penyakit tak kunjung sembuh, tidak
tahan melihat kondisi anaknya sang ibu bernadzar,
"Ya Allah.. Segala ikhtiar segala usaha telah hamba
"Ya Allah.. Segala ikhtiar segala usaha telah hamba
tempuh,
berbagai doa telah hamba panjatkan, bermacam cara telah hamba lakukan,
tumpukan harta telah hamba korbankan demi kesembuhan buah hatiku.
Ya Allah..
Kini tak tahu kemana hamba harus melangkah, hamba tak tentu arah. Tolong hambaMu ya Allah. Tiada tali tempat bergantung kecuali taliMu, tak ada pintu yang pantas diketuk kecuali pintuMu.
Jika hamba boleh memilih, maka ambillah nyawa hamba sebagai gantinya. Namun jika hamba tak diperkenankan untuk memilih, maka sembuhkanlah dia. Apabila Engkau beri anak hamba sembuh, maka sebagai bukti kesungguhanku, hamba akan keluar dari alam dunia selama seminggu. Semoga Engkau kabulkan doa hamba."
Tak lama kemudian, Allah berikan kesembuhan pada si anak dari penyakitnya, kini ia bisa bermain-main lagi dengan temannya, tidak cacat dan normal seperti lainnya. Namun anehnya sang ibu tidak segera memenuhi apa yang telah ia nadzarkan pada Allah.
Pada suatu malam ketika ibu tidur, ia bermimpi salah seorang menegurnya agar menepati janji yang telah ia ikrarkan, dan jika ia mengingkarinya maka siksaan pedih akan ditimpakan padanya, keluarga dan anaknya. Sambil terengah-engah ia bangun dari tidur, ia berfikir bagaimana caranya untuk memenuhi janjinya.
Pada pagi hari ia bercerita kepada keluarganya tentang nadzarnya, setelah berembug, maka semua keluarga ternyata mendukung agar nadzar tsb segera dilaksanakan.
Keluarga akhirnya menggali lubang kuburan di belakang rumah untuk ibu muda yang baru beranak satu, setelah selesai semuanya sang ibu masuk ke dalam liang kubur lengkap dengan accesoris mayat, mata, hidung, telinga dan jumlah 9 lubang dalam tubuhnya ditempel dengan kapas dan hanya mengenakan kain kafan.
Tak lama setelah sempurna proses penguburan, si ibu duduk bersila menghadap kiblat. Mulutnya komat-kamit membaca tahlil, tahmid, tasbih, takbir dan shalawat. Jari-jarinya bergerak-gerak seperti memutar tasbih, tubuhnya meliuk ke kanan ke kiri mengikuti irama dzikirnya.
Mendadak wajahnya seperti menangkap cahaya dari arah depan. Cahaya itu makin lama semakin menambah penasaran. Segera ia membuka kapas penutup matanya. Ia melihat lubang kecil yang semakin lama semakin membesar, menampilkan pemandangan luas hingga tak nampak lagi bahwa ia berada dalam lubang ukuran 2 meter.
Lalu ia mencoba melangkah ke pemandangan indah itu dan di sana ia mendapati sebuah kebun yang indah, luas tanpa batas yang hanya dihuni oleh dua orang
wanita berpakaian dan berkerudung putih-putih.
Dengan hati-hati ibu muda itu menyapa sambil mengucapkan
salam kepada keduanya.
"Assalamu 'alaikum."
Mereka berdua diam tidak menjawab salamnya, mereka hanya tersenyum.
Sang ibu muda bertanya:
"Maaf bu.. Kenapa kalian berdua tidak menjawab salam saya?"
Mereka menyalami tangan sambil menjawab: "Kita sudah tidak dituntut untuk menjawab salam (di akherat sudah tidak ada kewajiban sebagaimana di dunia).
Lalu si ibu bertanya lagi, "Memang di sini daerah mana bu, masuk kabupaten apa?"
Lagi-lagi mereka berdua tersenyum melihat ibu muda itu takjub melihat pemandangan di situ.
"Kamu lupa sama aku, perhatikan baik-baik. Aku ini istrinya mbah abdullah, yang ini istri mbah hadi, teman jamaah di masjid. Kamu pangling ya?" Tanya mereka
Sejenak jantung ibu muda ini berdetak, "Lho kalian berdua kan sudah mati. Lagian kok lebih muda kalian dibanding aku. Padahal jamaah di masjid dulu sampean udah tua-tua banget?
Lalu kenapa ada perbedaan antara kalian berdua, istri mbah abdullah memakai mahkota dan istri mbah hadi di atas kepala ada seekor burung yang terus menerus mematuk kepala?"
Wanita pertama istri mbah abdullah menjawab: "Aku di dunia adalah wanita solihah dan ketika aku meninggal dunia suamiku rela denganku karena aku selalu taat kepadanya."
Wanita yang kedua menjawab: "Sementara aku adalah wanita sholihah di dunia namun ketika aku meninggal dunia, suamiku dalam keadaan murka kepadaku karena aku sering membantah perkataannya dan tidak taat kepadanya, maka tolonglah aku. Jika kamu kembali ke dunia mintakan maaf kepada suamiku, katakan kepadanya keadaanku yang sebenarnya di sini."
Tak lama si ibu mendengar panggilan suami dan anaknya yang telah menjemputnya untuk keluar dari liang kubur setelah 7 hari ia di sana, maka si ibu keluar dan kembali ke rumahnya, banyak sekali yang mengunjunginya dan diantaranya tetangga ada pula hadir mbah hadi suami wanita yang meminta tolong untuk dimintakan kerelaan suaminya.
Mendengar cerita sang ibu muda, mbah hadi menangis sambil berkata: "Memang benar, aku dulu sempat murka kepada dia bahkan sampai ia meninggal, akan tetapi sekarang aku telah merelakannya."
Pada malam harinya si ibu bermimpi bahwa wanita yang semula dipatuk kepalanya oleh burung sekarang telah bebas dari siksaan itu berkah kerelaan suaminya.
(Sumber: CAP Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)
Ya Allah..
Kini tak tahu kemana hamba harus melangkah, hamba tak tentu arah. Tolong hambaMu ya Allah. Tiada tali tempat bergantung kecuali taliMu, tak ada pintu yang pantas diketuk kecuali pintuMu.
Jika hamba boleh memilih, maka ambillah nyawa hamba sebagai gantinya. Namun jika hamba tak diperkenankan untuk memilih, maka sembuhkanlah dia. Apabila Engkau beri anak hamba sembuh, maka sebagai bukti kesungguhanku, hamba akan keluar dari alam dunia selama seminggu. Semoga Engkau kabulkan doa hamba."
Tak lama kemudian, Allah berikan kesembuhan pada si anak dari penyakitnya, kini ia bisa bermain-main lagi dengan temannya, tidak cacat dan normal seperti lainnya. Namun anehnya sang ibu tidak segera memenuhi apa yang telah ia nadzarkan pada Allah.
Pada suatu malam ketika ibu tidur, ia bermimpi salah seorang menegurnya agar menepati janji yang telah ia ikrarkan, dan jika ia mengingkarinya maka siksaan pedih akan ditimpakan padanya, keluarga dan anaknya. Sambil terengah-engah ia bangun dari tidur, ia berfikir bagaimana caranya untuk memenuhi janjinya.
Pada pagi hari ia bercerita kepada keluarganya tentang nadzarnya, setelah berembug, maka semua keluarga ternyata mendukung agar nadzar tsb segera dilaksanakan.
Keluarga akhirnya menggali lubang kuburan di belakang rumah untuk ibu muda yang baru beranak satu, setelah selesai semuanya sang ibu masuk ke dalam liang kubur lengkap dengan accesoris mayat, mata, hidung, telinga dan jumlah 9 lubang dalam tubuhnya ditempel dengan kapas dan hanya mengenakan kain kafan.
Tak lama setelah sempurna proses penguburan, si ibu duduk bersila menghadap kiblat. Mulutnya komat-kamit membaca tahlil, tahmid, tasbih, takbir dan shalawat. Jari-jarinya bergerak-gerak seperti memutar tasbih, tubuhnya meliuk ke kanan ke kiri mengikuti irama dzikirnya.
Mendadak wajahnya seperti menangkap cahaya dari arah depan. Cahaya itu makin lama semakin menambah penasaran. Segera ia membuka kapas penutup matanya. Ia melihat lubang kecil yang semakin lama semakin membesar, menampilkan pemandangan luas hingga tak nampak lagi bahwa ia berada dalam lubang ukuran 2 meter.
Lalu ia mencoba melangkah ke pemandangan indah itu dan di sana ia mendapati sebuah kebun yang indah, luas tanpa batas yang hanya dihuni oleh dua orang
wanita berpakaian dan berkerudung putih-putih.
Dengan hati-hati ibu muda itu menyapa sambil mengucapkan
salam kepada keduanya.
"Assalamu 'alaikum."
Mereka berdua diam tidak menjawab salamnya, mereka hanya tersenyum.
Sang ibu muda bertanya:
"Maaf bu.. Kenapa kalian berdua tidak menjawab salam saya?"
Mereka menyalami tangan sambil menjawab: "Kita sudah tidak dituntut untuk menjawab salam (di akherat sudah tidak ada kewajiban sebagaimana di dunia).
Lalu si ibu bertanya lagi, "Memang di sini daerah mana bu, masuk kabupaten apa?"
Lagi-lagi mereka berdua tersenyum melihat ibu muda itu takjub melihat pemandangan di situ.
"Kamu lupa sama aku, perhatikan baik-baik. Aku ini istrinya mbah abdullah, yang ini istri mbah hadi, teman jamaah di masjid. Kamu pangling ya?" Tanya mereka
Sejenak jantung ibu muda ini berdetak, "Lho kalian berdua kan sudah mati. Lagian kok lebih muda kalian dibanding aku. Padahal jamaah di masjid dulu sampean udah tua-tua banget?
Lalu kenapa ada perbedaan antara kalian berdua, istri mbah abdullah memakai mahkota dan istri mbah hadi di atas kepala ada seekor burung yang terus menerus mematuk kepala?"
Wanita pertama istri mbah abdullah menjawab: "Aku di dunia adalah wanita solihah dan ketika aku meninggal dunia suamiku rela denganku karena aku selalu taat kepadanya."
Wanita yang kedua menjawab: "Sementara aku adalah wanita sholihah di dunia namun ketika aku meninggal dunia, suamiku dalam keadaan murka kepadaku karena aku sering membantah perkataannya dan tidak taat kepadanya, maka tolonglah aku. Jika kamu kembali ke dunia mintakan maaf kepada suamiku, katakan kepadanya keadaanku yang sebenarnya di sini."
Tak lama si ibu mendengar panggilan suami dan anaknya yang telah menjemputnya untuk keluar dari liang kubur setelah 7 hari ia di sana, maka si ibu keluar dan kembali ke rumahnya, banyak sekali yang mengunjunginya dan diantaranya tetangga ada pula hadir mbah hadi suami wanita yang meminta tolong untuk dimintakan kerelaan suaminya.
Mendengar cerita sang ibu muda, mbah hadi menangis sambil berkata: "Memang benar, aku dulu sempat murka kepada dia bahkan sampai ia meninggal, akan tetapi sekarang aku telah merelakannya."
Pada malam harinya si ibu bermimpi bahwa wanita yang semula dipatuk kepalanya oleh burung sekarang telah bebas dari siksaan itu berkah kerelaan suaminya.
(Sumber: CAP Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)
MISIK DARI SURGA
Ketika Nabi Adam alaihi salam diturunkan oleh
Allah dari surga ke permukaan bumi, maka lepaslah segala accesoris,
perhiasan dan mahkota tubuhnya dan dari tubuh hawa istrinya. Mereka
kemudian telanjang dan dikarenakan malu,
maka pada saat turun itu juga mereka berdua menutupi auratnya dengan
menggunakan beberapa daun-daunan yang tumbuh di surga. Hingga turun ke
dunia pun, daun-daunan itu tetap menempel menutupi auratnya.
Mendengar kabar bahwa seorang khalifah diturunkan ke bumi, sepasang kijang datang mengunjungi berharap keberkahan dan ingin mengabdi sepenuhnya pada beliau. Namun mereka terkejut melihat sang junjungan hanya berpakaian dari daun, hingga akhirnya diutarakanlah maksud kedatangan mereka, yakni menyambut suka cita kedatangan nabi Adam dan istrinya. Sepasang kijang tsb berjanji akan mengabdi pada mereka.
"Wahai Nabiyullah adam, hamba berdua ingin menanyakan satu hal, bila itu diperkenankan! Kata kijang jantan.
"Katakanlah hai kijang!"
"Hamba mohon maaf atas kelancangan hamba dengan pertanyaan ini. Menurut firasat dan insting hamba, Anda adalah seorang nabiyullah, khalifatullah, kekasih Allah dan penghuni surga. Yang mana penghuni surga seharusnya memakai perhiasan yang indah, pakaian yang indah dan mengapa Anda berdua bahkan hanya memakai daun sebagai penutup aurat."
Kemudian nabiyullah Adam alaihi salam menceritakan awal mula mereka digoda iblis hingga akhirnya mereka harus di hukum pembuangan ke bumi.
Tanpa sadar, air mata kedua kijang itu menetes tak kuasa menahan haru. Siti hawa memeluk keduanya untuk melerai tangis mereka. Sedalam-dalamnya mereka ungkapkan rasa bela sungkawa kepada Siti hawa dan suaminya karena turun dari surga akibat tipu daya iblis laknatullah.
Atas segala niat yang terpuji dari sepasang kijang tsb, Nabi Adam alaihis salam kemudian memberikan hadiah sehelai daun yang dari surga sebagai rasa terima kasih atas perhatian dan belas asihnya mau mengunjungi dengan niat yang solihah. Dengan linangan air mata, kedua kijang itu memakan daun surga hadiah nabi adam dan istrinya.
Setelah berpamitan, sepasang kijang tsb berangkat pergi ke hutan dengan harapan sore nanti bisa membawakan nabi adam dan istrinya buah-buahan segar dari hutan.
Namun hal aneh terjadi, setelah memakan daun surga tubuh kedua kijang mengeluarkan bau dan aroma yang wangi atau biasa disebut "misik".
Melihat kijang punya keistimewaan, para hewan yang lain menjadi iri dan ingin memiliki seperti yang dimiliki kijang lalu mereka datang menuju Nabi Adam dan meminta daun penutup auratnya, mereka datang bukan dengan niat yang baik seperti kijang, akan tetapi dengan niat ingin berkulit indah dan wangi seperti kijang.
Melihat niat mereka yang tidak baik, maka Nabi Adam pun mengusir mereka dan tidak memberikan mereka sehelai daun pun.
Niat yang baik akan dibalas Allah dengan kebaikan dan keberkahan hidup. Maka jangan ragu-ragu untuk berniat baik kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun meskipun anda belum bisa melakukannya.
(Qishasul Anbiya')
Mendengar kabar bahwa seorang khalifah diturunkan ke bumi, sepasang kijang datang mengunjungi berharap keberkahan dan ingin mengabdi sepenuhnya pada beliau. Namun mereka terkejut melihat sang junjungan hanya berpakaian dari daun, hingga akhirnya diutarakanlah maksud kedatangan mereka, yakni menyambut suka cita kedatangan nabi Adam dan istrinya. Sepasang kijang tsb berjanji akan mengabdi pada mereka.
"Wahai Nabiyullah adam, hamba berdua ingin menanyakan satu hal, bila itu diperkenankan! Kata kijang jantan.
"Katakanlah hai kijang!"
"Hamba mohon maaf atas kelancangan hamba dengan pertanyaan ini. Menurut firasat dan insting hamba, Anda adalah seorang nabiyullah, khalifatullah, kekasih Allah dan penghuni surga. Yang mana penghuni surga seharusnya memakai perhiasan yang indah, pakaian yang indah dan mengapa Anda berdua bahkan hanya memakai daun sebagai penutup aurat."
Kemudian nabiyullah Adam alaihi salam menceritakan awal mula mereka digoda iblis hingga akhirnya mereka harus di hukum pembuangan ke bumi.
Tanpa sadar, air mata kedua kijang itu menetes tak kuasa menahan haru. Siti hawa memeluk keduanya untuk melerai tangis mereka. Sedalam-dalamnya mereka ungkapkan rasa bela sungkawa kepada Siti hawa dan suaminya karena turun dari surga akibat tipu daya iblis laknatullah.
Atas segala niat yang terpuji dari sepasang kijang tsb, Nabi Adam alaihis salam kemudian memberikan hadiah sehelai daun yang dari surga sebagai rasa terima kasih atas perhatian dan belas asihnya mau mengunjungi dengan niat yang solihah. Dengan linangan air mata, kedua kijang itu memakan daun surga hadiah nabi adam dan istrinya.
Setelah berpamitan, sepasang kijang tsb berangkat pergi ke hutan dengan harapan sore nanti bisa membawakan nabi adam dan istrinya buah-buahan segar dari hutan.
Namun hal aneh terjadi, setelah memakan daun surga tubuh kedua kijang mengeluarkan bau dan aroma yang wangi atau biasa disebut "misik".
Melihat kijang punya keistimewaan, para hewan yang lain menjadi iri dan ingin memiliki seperti yang dimiliki kijang lalu mereka datang menuju Nabi Adam dan meminta daun penutup auratnya, mereka datang bukan dengan niat yang baik seperti kijang, akan tetapi dengan niat ingin berkulit indah dan wangi seperti kijang.
Melihat niat mereka yang tidak baik, maka Nabi Adam pun mengusir mereka dan tidak memberikan mereka sehelai daun pun.
Niat yang baik akan dibalas Allah dengan kebaikan dan keberkahan hidup. Maka jangan ragu-ragu untuk berniat baik kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun meskipun anda belum bisa melakukannya.
(Qishasul Anbiya')
SUSAHNYA SAAT ISTRI NGIDAM
Wuhaib bin Al-Warrad menceritakan, “Kami mendengar kalau ‘Umar bin Abdul Aziz telah mendirikan rumah penyimpan bahan makanan yang khusus diperuntukkan bagi fakir miskin dan ibnu Sabil.
Lalu, pada suatu hari, ‘Umar melakukan inspeksi ke rumah bahan makanan tersebut dan ternyata di situ dia bertemu dengan seorang pelayan wanitanya yang sedang membawa mangkuk beirisi secangkir air susu.
‘Umar bertanya kepadanya, “Apa ini?”
Pelayannya menjawab, “Istrimu, Fathimah, sedang hamil dan dia menginginkan secangkir air susu. Jika perempuan yang sedang hamil menginginkan sesuatu, tetapi tidak dituruti, dikhawatirkan janin yang dikandungnya akan keguguran. Oleh karena itu, saya mengambil secangkir air susu dari sini.”
Kemudian, ‘Umar mengambil mangkuk itu dari pelayannya, lalu berjalan menuju istrinya sambil berkata dengan suara keras, “Seandainya yang ada dalam perutnya (janinnya) itu tidak mau makan kecuali dari makanan orang-orang miskin dan fakir… Demi Allah saya tidak akan memberi dia makanan!!!
Kemudian, ‘Umar masuk ke kamar istrinya. Istrinya pun bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?”
‘Umar menjawab, “Dia (pembantu itu) menyangka kalau bayi yang kau kandung itu tidak mau makan kecuali hanya dari makanan orang-orang fakir dan miskin. Seandainya dia tidak mau makan kecuali hanya dari makanan itu… Demi Allah, saya tidak akan memberikan makan kepadanya.”
Istrinya berkata kepada pelayan tadi, “Celaka kamu, kembalikan air susu itu ke tempatnya. Demi Allah, saya tidak akan mencicipinya.”
Wuhaib bin Al-Warrad berkata, “Kemudian, pembantunya mengembalikan airu susu itu ke tempat penyimpanan makanan bagi kaum fakir dan miskin.”
(Sumber Hilyatul Auliya')
Lalu, pada suatu hari, ‘Umar melakukan inspeksi ke rumah bahan makanan tersebut dan ternyata di situ dia bertemu dengan seorang pelayan wanitanya yang sedang membawa mangkuk beirisi secangkir air susu.
‘Umar bertanya kepadanya, “Apa ini?”
Pelayannya menjawab, “Istrimu, Fathimah, sedang hamil dan dia menginginkan secangkir air susu. Jika perempuan yang sedang hamil menginginkan sesuatu, tetapi tidak dituruti, dikhawatirkan janin yang dikandungnya akan keguguran. Oleh karena itu, saya mengambil secangkir air susu dari sini.”
Kemudian, ‘Umar mengambil mangkuk itu dari pelayannya, lalu berjalan menuju istrinya sambil berkata dengan suara keras, “Seandainya yang ada dalam perutnya (janinnya) itu tidak mau makan kecuali dari makanan orang-orang miskin dan fakir… Demi Allah saya tidak akan memberi dia makanan!!!
Kemudian, ‘Umar masuk ke kamar istrinya. Istrinya pun bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?”
‘Umar menjawab, “Dia (pembantu itu) menyangka kalau bayi yang kau kandung itu tidak mau makan kecuali hanya dari makanan orang-orang fakir dan miskin. Seandainya dia tidak mau makan kecuali hanya dari makanan itu… Demi Allah, saya tidak akan memberikan makan kepadanya.”
Istrinya berkata kepada pelayan tadi, “Celaka kamu, kembalikan air susu itu ke tempatnya. Demi Allah, saya tidak akan mencicipinya.”
Wuhaib bin Al-Warrad berkata, “Kemudian, pembantunya mengembalikan airu susu itu ke tempat penyimpanan makanan bagi kaum fakir dan miskin.”
(Sumber Hilyatul Auliya')
Kamis, 20 September 2012
MASUK SURGA KARENA KENTUT
Mungkin hal yang satu ini menurut sebagian
orang adalah hal tabu atau juga menjijikkan. Bukan hanya bau dan
suaranya saja yang bikin perkara, tapi mengenai adab dan sopan santun
bergaul dan bermasyarakat. Cowok ke
ntut
itu adalah hal yang memalukan, lebih malu lagi bila cewek kentut,
apalagi di muka umum atau sempat terdengar suaranya atau tercium
aromanya... Malu setengah mati, cantiknya wajahpun terasa hilang lenyap
diterpa bau yang menyengat.
Percaya tidak ada orang bisa masuk surga karena kentut?
Seorang gadis cantik berjilbab pink, berjalan masuk menghampiri sebuah toko baju. Langkahnya santai lemah gemulai, hiasan gadis muslimah tinggi semampai. Segera ia memilah-milih baju yang ia anggap cocok, serasi dan wellgromed dengan warna kulitnya dan mampu menjadi penunjang penampilannya.
Tanpa berlama-lama ia memilih baju, sebab tampaknya perutnya mulai mules. Tengak tengok kiri kanan ternyata dalam toko tersebut tak disediakan toilet. Sambil terburu-buru ia pun takut muatan perutnya ambrol di dalam toko, maka ia pun membawa baju pilihannya menuju kasir.
Ketika di depan kasir, Belum sempat ia bicara pada kasir... Tiba-tiba keluar suara tanpa rupa dari dirinya..
Duuuut...
Duuuut...
"Waduh... Mampus gue.." pikir si gadis.
Mukanya yang cantik hilang lenyap manakala sang bayu busuk menyengat hidungnya. Raut muka yang anggun merona berubah merah pucat kekuning-kuningan menahan malu. Belum pernah ia dipermalukan seperti ini, tapi kali ini ia malu bukan alang kepalang akibat angin malang yang terjepit ikat pinggang.
"Waduh...Udah bunyi bau lagi lu... Mau ditaruh dimana muka gue... Bikin malu aja sih lu."
Sang kasir hanya melongo. Kupingnya yang masih waras mendengar suara angin itu, hidungnya yang masih normal masih dapat menerima bau yang tak sedap itu. Ia memandang si gadis penuh tanda tanya keheranan. Sementara si gadis hanya blingsatan malu yang tiada batas.
"Mbak bilang apa, kalau nawar baju ngomongnya yang keras dong!" Pinta sang kasir seolah-olah tak mendengar dan tak membau angin si gadis. Ia tak mau gadis tsb semakin bertambah malu di hadapannya, makanya ia berpura-pura sbg orang tuli yang kurang pendengaran.
"Alhamdulillah... Ternyata dia tuli.. Aman deh gue.. Kagak jadi malu. ihiirrr.." Bisik hati si gadis bersorak kegirangan.
Mukanya yang tadi pucat pasi kini kembali berseri lagi. Aib seorang cewek tertutupi berkat sang kasir yang pura-pura tuli.
Siapakah dia sang kasir yang berhati mulia, yang mampu menyembunyikan aib pembelinya?
Dialah Hatim, dan sejak kejadian itu ia terkenal dengan julukan Hatim Al Asom (Hatim si manusia tuli). Dan ia pun dengan senang hati menerima julukan tsb melekat pada dirinya.
Sekitar 1 bulan kematian, seorang teman hatim bermimpi seolah-olah ia bertemu dengan hatim al asom.
"Wahai hatim, apa yang telah kau dapatkan dari Allah, dan bagaimana pula DIA memperlakukan dirimu?"
"Allah memperlakukan aku dengan baik, bahkan aku mendapat nikmat kubur yang begitu besar, nikmat awal bagi para penghuni surga." Jawab hatim.
"Amalan apakah yang membuat dirimu mendapat perlakuan istimewa seperti itu?"
"Semua itu ku dapatkan, hanya karena perkara kentut. Seorang gadis membeli pakaian di tokoku. Tanpa sengaja ia kentut, namun aku pura-pura tak mendengarnya. Aku berlagak tuli. Bila aku tak berpura-pura tuli, maka bisa saja aku akan terjerumus memasyhurkan aibnya. Padahal sesama muslim harus saling menutupi aib dan cela antar sesama, bukan diobral kemana-mana. Jangan pula kau kabarkan rahasia orang lain kesana kemari, karena itulah rahasiamu juga ditutupi oleh Allah."
(Sumber: Elegi Kristal Pagi, Karya Raden Ratemin)
Percaya tidak ada orang bisa masuk surga karena kentut?
Seorang gadis cantik berjilbab pink, berjalan masuk menghampiri sebuah toko baju. Langkahnya santai lemah gemulai, hiasan gadis muslimah tinggi semampai. Segera ia memilah-milih baju yang ia anggap cocok, serasi dan wellgromed dengan warna kulitnya dan mampu menjadi penunjang penampilannya.
Tanpa berlama-lama ia memilih baju, sebab tampaknya perutnya mulai mules. Tengak tengok kiri kanan ternyata dalam toko tersebut tak disediakan toilet. Sambil terburu-buru ia pun takut muatan perutnya ambrol di dalam toko, maka ia pun membawa baju pilihannya menuju kasir.
Ketika di depan kasir, Belum sempat ia bicara pada kasir... Tiba-tiba keluar suara tanpa rupa dari dirinya..
Duuuut...
Duuuut...
"Waduh... Mampus gue.." pikir si gadis.
Mukanya yang cantik hilang lenyap manakala sang bayu busuk menyengat hidungnya. Raut muka yang anggun merona berubah merah pucat kekuning-kuningan menahan malu. Belum pernah ia dipermalukan seperti ini, tapi kali ini ia malu bukan alang kepalang akibat angin malang yang terjepit ikat pinggang.
"Waduh...Udah bunyi bau lagi lu... Mau ditaruh dimana muka gue... Bikin malu aja sih lu."
Sang kasir hanya melongo. Kupingnya yang masih waras mendengar suara angin itu, hidungnya yang masih normal masih dapat menerima bau yang tak sedap itu. Ia memandang si gadis penuh tanda tanya keheranan. Sementara si gadis hanya blingsatan malu yang tiada batas.
"Mbak bilang apa, kalau nawar baju ngomongnya yang keras dong!" Pinta sang kasir seolah-olah tak mendengar dan tak membau angin si gadis. Ia tak mau gadis tsb semakin bertambah malu di hadapannya, makanya ia berpura-pura sbg orang tuli yang kurang pendengaran.
"Alhamdulillah... Ternyata dia tuli.. Aman deh gue.. Kagak jadi malu. ihiirrr.." Bisik hati si gadis bersorak kegirangan.
Mukanya yang tadi pucat pasi kini kembali berseri lagi. Aib seorang cewek tertutupi berkat sang kasir yang pura-pura tuli.
Siapakah dia sang kasir yang berhati mulia, yang mampu menyembunyikan aib pembelinya?
Dialah Hatim, dan sejak kejadian itu ia terkenal dengan julukan Hatim Al Asom (Hatim si manusia tuli). Dan ia pun dengan senang hati menerima julukan tsb melekat pada dirinya.
Sekitar 1 bulan kematian, seorang teman hatim bermimpi seolah-olah ia bertemu dengan hatim al asom.
"Wahai hatim, apa yang telah kau dapatkan dari Allah, dan bagaimana pula DIA memperlakukan dirimu?"
"Allah memperlakukan aku dengan baik, bahkan aku mendapat nikmat kubur yang begitu besar, nikmat awal bagi para penghuni surga." Jawab hatim.
"Amalan apakah yang membuat dirimu mendapat perlakuan istimewa seperti itu?"
"Semua itu ku dapatkan, hanya karena perkara kentut. Seorang gadis membeli pakaian di tokoku. Tanpa sengaja ia kentut, namun aku pura-pura tak mendengarnya. Aku berlagak tuli. Bila aku tak berpura-pura tuli, maka bisa saja aku akan terjerumus memasyhurkan aibnya. Padahal sesama muslim harus saling menutupi aib dan cela antar sesama, bukan diobral kemana-mana. Jangan pula kau kabarkan rahasia orang lain kesana kemari, karena itulah rahasiamu juga ditutupi oleh Allah."
(Sumber: Elegi Kristal Pagi, Karya Raden Ratemin)
BIARKANLAH TIKUS KRASAN DI RUMAHKU
Dalam sebuah riwayat dikisahkan,
Imam malik rahimahullah adalah guru besar sang Imam Syafi'i rahimahullah, beliau banyak menimba ilmu dari gurunya, mulai ilmu nahwu shorof, tafsir quran, hadits dan mustha
Imam malik rahimahullah adalah guru besar sang Imam Syafi'i rahimahullah, beliau banyak menimba ilmu dari gurunya, mulai ilmu nahwu shorof, tafsir quran, hadits dan mustha
lah hadits. Tak lupa akhlak dari imam malik sangatlah mengagumkan dimata imam syafi'i.
Pernah suatu hari imam malik tak makan gara-gara makanannya dimakan tikus dan cecurut di rumahnya. Bahkan kejadian tersebut berbulan-bulan ia alami.
"Guru, kenapa anda tidak makan?" tanya syafi'i muda.
"Aku selalu kalah start dari tikus dan cecurut di rumah. Tapi tiada apa, mungkin itu sudah menjadi rejeki tikus."
"Kenapa guru tidak pelihara kucing untuk menakutinya, kenapa pula guru tidak menjebak atau mengusirnya? Bukankah hal itu bisa menjadikan masalah bila tikus beranak pinak bertambah banyak?" tanya syafi'i muda.
Imam malik tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak santrinya, "Kamu benar muridku. Tapi setidaknya sebelum bertindak kita harus melihat masalah dari berbagai sudut dan sisi, jangan menilik dari satu sisi saja. Sebab orang yang menyimpulkan masalah dari satu sudut pandang saja maka ia terjatuh dalam ketidak-adilan. Bila jatuh dalam ketidak-adilan maka ia akan terjatuh dalam tindak kesewenang-wenangan dan kedzaliman. Bila jatuh pada kedzaliman maka ia jatuh dalam dosa dan permusuhan."
Syafi'i muda mendengar petuah gurunya dengan penuh takdzim dan pemahaman. Ilmu bagi syafi'i muda tak hanya didapat melalui bangku sekolah dan pengajian yang formal saja, justru ilmu terkadang harus didapatkan melalui kegiatan non-formal, penerapan dan bukan teori belaka. Ia manggut-manggut takjub dan terkagum-kagum atas jawaban gurunya.
Imam malik menambahkan, "Aku bisa saja mengusir dan memberantas tikus dan cecurut dari rumahku. Tapi ketahuilah, ketika aku melakukan itu maka tikus dan cecurut tersebut justru akan lari dan ganti mengganggu rumah-rumah tetanggaku. Dan kamu tahu, bahwa ketidak-nyamanan tetanggaku adalah berasal dari tikus dan cecurut yang melarikan diri dari rumahku. Itu semua berarti akulah sumber ketidak-nyamanan itu.
Jadi, biarkanlah tikus dan cecurut itu krasan di rumahku."
Subhanallah...
Imam syafi'i muda tercengang atas definisi gurunya tentang menjaga perasaan tetangga, sikap dan sifat rela berkorban demi menjaga kerukunan dan silaturrahim dalam kehidupan bertetangga.
(Sumber: Nashaihud Diniyyah Wa Washayal Imaniyyah)
Pernah suatu hari imam malik tak makan gara-gara makanannya dimakan tikus dan cecurut di rumahnya. Bahkan kejadian tersebut berbulan-bulan ia alami.
"Guru, kenapa anda tidak makan?" tanya syafi'i muda.
"Aku selalu kalah start dari tikus dan cecurut di rumah. Tapi tiada apa, mungkin itu sudah menjadi rejeki tikus."
"Kenapa guru tidak pelihara kucing untuk menakutinya, kenapa pula guru tidak menjebak atau mengusirnya? Bukankah hal itu bisa menjadikan masalah bila tikus beranak pinak bertambah banyak?" tanya syafi'i muda.
Imam malik tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak santrinya, "Kamu benar muridku. Tapi setidaknya sebelum bertindak kita harus melihat masalah dari berbagai sudut dan sisi, jangan menilik dari satu sisi saja. Sebab orang yang menyimpulkan masalah dari satu sudut pandang saja maka ia terjatuh dalam ketidak-adilan. Bila jatuh dalam ketidak-adilan maka ia akan terjatuh dalam tindak kesewenang-wenangan dan kedzaliman. Bila jatuh pada kedzaliman maka ia jatuh dalam dosa dan permusuhan."
Syafi'i muda mendengar petuah gurunya dengan penuh takdzim dan pemahaman. Ilmu bagi syafi'i muda tak hanya didapat melalui bangku sekolah dan pengajian yang formal saja, justru ilmu terkadang harus didapatkan melalui kegiatan non-formal, penerapan dan bukan teori belaka. Ia manggut-manggut takjub dan terkagum-kagum atas jawaban gurunya.
Imam malik menambahkan, "Aku bisa saja mengusir dan memberantas tikus dan cecurut dari rumahku. Tapi ketahuilah, ketika aku melakukan itu maka tikus dan cecurut tersebut justru akan lari dan ganti mengganggu rumah-rumah tetanggaku. Dan kamu tahu, bahwa ketidak-nyamanan tetanggaku adalah berasal dari tikus dan cecurut yang melarikan diri dari rumahku. Itu semua berarti akulah sumber ketidak-nyamanan itu.
Jadi, biarkanlah tikus dan cecurut itu krasan di rumahku."
Subhanallah...
Imam syafi'i muda tercengang atas definisi gurunya tentang menjaga perasaan tetangga, sikap dan sifat rela berkorban demi menjaga kerukunan dan silaturrahim dalam kehidupan bertetangga.
(Sumber: Nashaihud Diniyyah Wa Washayal Imaniyyah)
KUNCI SURGA
Sewaktu berjalan di
tepian sungai, Abu Yazid Al Busthami rahimahullah yang tatkala itu masih
muda menjadi santri di sebuah pesantren, ia tak sengaja bertemu dengan
Rahib beserta para biarawan muda. Mengetahui ia seorang muslim,
maka rahib pun bermaksud mengujinya.
RAHIB: Anak muda, aku hendak bertanya tentang agamamu, bolehkah?
ABU YAZID: InsyaAllah, saya dengan lapang hati menjawabnya
RAHIB: Apa ciptaan Tuhan yang dicelanya sendiri?
ABU YAZID: Suara keledai, sebagaimana tersebut dalam ayat-NYA: "...Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara
keledai." (Luqman 19)
RAHIB: Apa ciptaan Allah yang tidak berayah dan tidak beribu?
ABU YAZID: Mereka adalah malaikat yang tidak berayah dan tidak beribu. Tubuhnya nur,
tidak makan dan tidak minum, tidak dilahirkan dan tidak melahirkan, tidak pernah tidur dan beristirahat. Dia bertasbih siang dan malam, seperti halnya kita bernapas setiap saat.
RAHIB: Siapa pula ciptaan Allah yang tidak berayah dan tidak beribu?
ABU YAZID: Nabi Adam, sebagaimana dalam firman-Nya: "Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia." (Ali
Imran 59)
RAHIB: Pohon apa yang yang terdiri dari 12 ranting, dan setiap ranting terdiri dari 30 daun. Pada tiap daun ada 5 buahnya, 3 buah diantaranya ada teduhnya, dan 2 diantaranya ada di panasnya?
ABU YAZID:: Pohon yang terdiri dari 12 ranting itu yang pada tiap rantingnya ada 30 daun, dan pada tiap daun ada 5 buah, 2 buah diantaranya ada di panasnya dan 3 buah lagi ada di teduhnya. Yang dimaksud dengan pohon itu adalah tahun, tiap-tiap tahun ada 12 bulan, tiap-tiap bulan ada 30 hari, pada tiap-tiap hari terdapat 5 kewajiban menunaikan shalat, 2 shalat ditunaikan di siang hari(Dhuhur dan Ashar), dan 3 shalat lainnya ditunaikan pada waktu matahari terbenam, yakni Maghrib, Isya', dan Subuh.
RAHIB: Mengagumkan..
ABU YAZID: Kini perkenankan saya bertanya, wahai tuan Rahib.
RAHIB: Ok. Pertanyaanmu pasti dengan mudah dapat ku jawab
ABU YAZID: Apakah kunci surga itu?
RAHIB: ...(Diam dan tidak segera menjawab)
Para biarawan muda pun menjadi gusar kepada gurunya. Mereka pun berkata, "Bagaimana ini guru? Dia (Abu Yazid) dapat menjawab semua pertanyaan Sampeyan, sedangkan Guru sendiri tidak mampu menjawab SATU pertanyaan pun?"
Maka Rahib menjelaskan, "Wahai anak-anakku! Aku tahu jawabannya, akan tetapi aku takut kepada kalian semua...."
Para biarawan muda serentak
berkata, "Silakan Sampeyan jawab! Tidak usah takut dan ragu-ragu kepada kami."
Sang Rahib pun kemudian menjawab dengan suara keras.
"Kunci surga itu ialah: Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasululullah (Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah)".
Setelah Rahib mengucapkan kalimat tauhid tsb, kontan seluruh biarawan muda pun mengikuti ucapan gurunya, berharap mereka semua dapat meraih surga, walau mereka tak tahu maknanya.
Mereka serempak "Laa
ilaaha illallah, Muhammad Rasululullah".
ABU YAZID: Tahukah kalian, bahwa dengan mengucapkan kalimat tsb kalian sudah menjadi muslim?
RAHIB: Ya Aku tahu. Tapi aku takut menjelaskannya, aku ikhlas memuslimkan diriku
ABU YAZID: Lalu bagaimana nasib mereka para biarawan muda tsb?
RAHIB: Biarkan mereka yang memutuskan sendiri nasib mereka, meski aku gurunya namun agama dan keyakinan mereka tergantung orang tuanya bukan gurunya.
Buat murid-muridku, mulai saat ini kubebaskan kalian semua, pulanglah, bila kalian tetap mengikutiku dengan wajah dan nuansa baru yakni sbg muslim, maka kalian akan bermasalah dengan orang tua kalian di rumah.
"Kami sudah mengatakan kalimat tsb, jadi kamipun akan bersedia menanggung apapun resikonya. Biarlah keyakinan urusan hati kami, dan biarlah yang akan terjadi, terjadilah." jawab mereka.
(Sumber: CAP, Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)
RAHIB: Anak muda, aku hendak bertanya tentang agamamu, bolehkah?
ABU YAZID: InsyaAllah, saya dengan lapang hati menjawabnya
RAHIB: Apa ciptaan Tuhan yang dicelanya sendiri?
ABU YAZID: Suara keledai, sebagaimana tersebut dalam ayat-NYA: "...Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara
keledai." (Luqman 19)
RAHIB: Apa ciptaan Allah yang tidak berayah dan tidak beribu?
ABU YAZID: Mereka adalah malaikat yang tidak berayah dan tidak beribu. Tubuhnya nur,
tidak makan dan tidak minum, tidak dilahirkan dan tidak melahirkan, tidak pernah tidur dan beristirahat. Dia bertasbih siang dan malam, seperti halnya kita bernapas setiap saat.
RAHIB: Siapa pula ciptaan Allah yang tidak berayah dan tidak beribu?
ABU YAZID: Nabi Adam, sebagaimana dalam firman-Nya: "Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia." (Ali
Imran 59)
RAHIB: Pohon apa yang yang terdiri dari 12 ranting, dan setiap ranting terdiri dari 30 daun. Pada tiap daun ada 5 buahnya, 3 buah diantaranya ada teduhnya, dan 2 diantaranya ada di panasnya?
ABU YAZID:: Pohon yang terdiri dari 12 ranting itu yang pada tiap rantingnya ada 30 daun, dan pada tiap daun ada 5 buah, 2 buah diantaranya ada di panasnya dan 3 buah lagi ada di teduhnya. Yang dimaksud dengan pohon itu adalah tahun, tiap-tiap tahun ada 12 bulan, tiap-tiap bulan ada 30 hari, pada tiap-tiap hari terdapat 5 kewajiban menunaikan shalat, 2 shalat ditunaikan di siang hari(Dhuhur dan Ashar), dan 3 shalat lainnya ditunaikan pada waktu matahari terbenam, yakni Maghrib, Isya', dan Subuh.
RAHIB: Mengagumkan..
ABU YAZID: Kini perkenankan saya bertanya, wahai tuan Rahib.
RAHIB: Ok. Pertanyaanmu pasti dengan mudah dapat ku jawab
ABU YAZID: Apakah kunci surga itu?
RAHIB: ...(Diam dan tidak segera menjawab)
Para biarawan muda pun menjadi gusar kepada gurunya. Mereka pun berkata, "Bagaimana ini guru? Dia (Abu Yazid) dapat menjawab semua pertanyaan Sampeyan, sedangkan Guru sendiri tidak mampu menjawab SATU pertanyaan pun?"
Maka Rahib menjelaskan, "Wahai anak-anakku! Aku tahu jawabannya, akan tetapi aku takut kepada kalian semua...."
Para biarawan muda serentak
berkata, "Silakan Sampeyan jawab! Tidak usah takut dan ragu-ragu kepada kami."
Sang Rahib pun kemudian menjawab dengan suara keras.
"Kunci surga itu ialah: Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasululullah (Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah)".
Setelah Rahib mengucapkan kalimat tauhid tsb, kontan seluruh biarawan muda pun mengikuti ucapan gurunya, berharap mereka semua dapat meraih surga, walau mereka tak tahu maknanya.
Mereka serempak "Laa
ilaaha illallah, Muhammad Rasululullah".
ABU YAZID: Tahukah kalian, bahwa dengan mengucapkan kalimat tsb kalian sudah menjadi muslim?
RAHIB: Ya Aku tahu. Tapi aku takut menjelaskannya, aku ikhlas memuslimkan diriku
ABU YAZID: Lalu bagaimana nasib mereka para biarawan muda tsb?
RAHIB: Biarkan mereka yang memutuskan sendiri nasib mereka, meski aku gurunya namun agama dan keyakinan mereka tergantung orang tuanya bukan gurunya.
Buat murid-muridku, mulai saat ini kubebaskan kalian semua, pulanglah, bila kalian tetap mengikutiku dengan wajah dan nuansa baru yakni sbg muslim, maka kalian akan bermasalah dengan orang tua kalian di rumah.
"Kami sudah mengatakan kalimat tsb, jadi kamipun akan bersedia menanggung apapun resikonya. Biarlah keyakinan urusan hati kami, dan biarlah yang akan terjadi, terjadilah." jawab mereka.
(Sumber: CAP, Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)
Senin, 25 Juni 2012
PILIH TETANGGA APA MUSUH?
Setelah menuntut ilmu di pesantren, seorang santri pulang ke daerahnya
di pedesaan, dan kini ia berprofesi sbg petani. Di samping rumahnya dia
mempunyai seorang tetangga yang berlainan agama dan berprofesi sebagai...
pemburu yang memelihara anjing-anjing galak dan kurang terlatih.
Karena kurang terlatih, Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba si Santri.
Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa anak kambing sehingga terluka parah. Si santri itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk menegur, tapi ia tak enak hati untuk melukai hati tetangganya, maka pergilah si santri tsb ke pesantrennya dahulu untuk mengkonsultasikan masalahnya pada sang kyai, gurunya.
Sang kyai itu mendengarkan kisah santrinya dengan seksama dan beliau berkata,
“Saya bisa saja membantumu untuk menghukum tetanggamu yang bekerja sbg pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi di lain sisi, Kamu akan kehilangan seorang Tetangga dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kamu inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?”
Sambil memandang wajah sang kyai dgn tawadu', si santri itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.
“Baik, saya akan menawari Kamu sebuah solusi, yang mana domba-dombamu akan tetap aman dan ini akan membuat tetanggamu tetap sebagai teman.”
Mendengar solusi pak Kyai,
kang santri itu setuju.
Ketika sampai di rumah, Santri itu segera melaksanakan solusi Sang kyai. Dia mengambil sepasang anak domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tetangganya yang berlainan agama itu, yang mana tetangganya tsb menerima dan berterima kasih dan sukacita atas hadiah berupa anak domba.
Untuk menjaga dombanya yang masih cempe, si pemburu itu mengkerangkeng anjing-anjingnya. Sejak saat itu anjing-anjingnya tidak pernah menggangu domba-domba kang santri lagi.
Di samping rasa terima kasihnya atas kedermawanan kang santri,
pemburu itu sering membagi hasi buruannya berupa daging kancil, rusa dan burung kepada kang santri.
Sewaktu menerima daging yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, si santri pun bingung, mau nolak gak enak hati sama tetangga nanti dikatakan sok suci, padahal islam kan diturunkan sbg RAHMATAN LIL ALAMIN, tp mau dimakan kok haram.
Dalam kebingungan maka dimasaklah daging pemberian tsb dan dicampur dgn daging domba miliknya sendiri, dan kemudian dihadiahkanlah daging pemberian pemburu tsb kepada keluarga pemburu tanpa tersisa sedikitpun, dalam keadaan matang dan siap makan. Dan keluarga pemburu tak mengetahui bahwa daging yang mereka makan tsb adalah daging pemberian mereka sendiri.
Dan dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik meskipun berbeda agama dan keyakinan.
“Cara Terbaik untuk mengalahkan dan mempengaruhi orang adalah dengan kebajikan dan belas kasih.”
(CAP: Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)
Karena kurang terlatih, Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba si Santri.
Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa anak kambing sehingga terluka parah. Si santri itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk menegur, tapi ia tak enak hati untuk melukai hati tetangganya, maka pergilah si santri tsb ke pesantrennya dahulu untuk mengkonsultasikan masalahnya pada sang kyai, gurunya.
Sang kyai itu mendengarkan kisah santrinya dengan seksama dan beliau berkata,
“Saya bisa saja membantumu untuk menghukum tetanggamu yang bekerja sbg pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi di lain sisi, Kamu akan kehilangan seorang Tetangga dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kamu inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?”
Sambil memandang wajah sang kyai dgn tawadu', si santri itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.
“Baik, saya akan menawari Kamu sebuah solusi, yang mana domba-dombamu akan tetap aman dan ini akan membuat tetanggamu tetap sebagai teman.”
Mendengar solusi pak Kyai,
kang santri itu setuju.
Ketika sampai di rumah, Santri itu segera melaksanakan solusi Sang kyai. Dia mengambil sepasang anak domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tetangganya yang berlainan agama itu, yang mana tetangganya tsb menerima dan berterima kasih dan sukacita atas hadiah berupa anak domba.
Untuk menjaga dombanya yang masih cempe, si pemburu itu mengkerangkeng anjing-anjingnya. Sejak saat itu anjing-anjingnya tidak pernah menggangu domba-domba kang santri lagi.
Di samping rasa terima kasihnya atas kedermawanan kang santri,
pemburu itu sering membagi hasi buruannya berupa daging kancil, rusa dan burung kepada kang santri.
Sewaktu menerima daging yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, si santri pun bingung, mau nolak gak enak hati sama tetangga nanti dikatakan sok suci, padahal islam kan diturunkan sbg RAHMATAN LIL ALAMIN, tp mau dimakan kok haram.
Dalam kebingungan maka dimasaklah daging pemberian tsb dan dicampur dgn daging domba miliknya sendiri, dan kemudian dihadiahkanlah daging pemberian pemburu tsb kepada keluarga pemburu tanpa tersisa sedikitpun, dalam keadaan matang dan siap makan. Dan keluarga pemburu tak mengetahui bahwa daging yang mereka makan tsb adalah daging pemberian mereka sendiri.
Dan dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik meskipun berbeda agama dan keyakinan.
“Cara Terbaik untuk mengalahkan dan mempengaruhi orang adalah dengan kebajikan dan belas kasih.”
(CAP: Cerita Anak Pesantren, Karya Jun Haris)
Senin, 06 Februari 2012
PESAN TERAKHIR IMAM GHAZALI
Imam Ghazali terbangun pada dini hari
dan sebagaimana biasanya melakukan shalat dan kemudian beliau bertanya
pada adiknya, “Hari apakah sekarang ini?”
Adiknya pun menjawab, “Hari senin.”Beliau kemudian memintanya untuk mengambilkan sajadah putihnya, lalu beliau menciumnya, Menggelarnya dan kemudian berbaring diatasnya s…ambil berkata lirih, “Ya Allah, hamba mematuhi perintahMu,”
… dan beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya.Di bawah bantalnya mereka menemukan bait-bait berikut, ditulis oleh Al-Ghazali ra., barangkali pada malam sebelumnya.
“Katakan pada para sahabatku, ketika mereka melihatku, mati Menangis untukku dan berduka bagiku
Janganlah mengira bahwa jasad yang kau lihat ini adalah aku
Dengan nama Allah, kukatakan padamu, ini bukanlah aku,
Aku adalah jiwa, sedangkan ini hanyalah seonggok daging
Ini hanyalah rumah dan pakaian ku sementara waktu.
Aku adalah harta karun, jimat yang tersembunyi,
Dibentuk oleh debu ,yang menjadi singgasanaku,
Aku adalah mutiara, yang telah meninggalkan rumahnya,
Aku adalah burung, dan badan ini hanyalah sangkar ku
Dan kini aku lanjut terbang dan badan ini kutinggal sbg kenangan
Puji Tuhan, yang telah membebaskan aku
Dan menyiapkan aku tempat di surga tertinggi,
Hingga hari ini , aku sebelumnya mati, meskipun hidup diantara mu.
Kini aku hidup dalam kebenaran, dan pakaian kubur ku telah ditanggalkan.
Kini aku berbicara dengan para malaikat diatas,
Tanpa hijab, aku bertemu muka dengan Tuhanku.
Aku melihat Lauh Mahfuz, dan didalamnya ku membaca
Apa yang telah, sedang dan akan terjadi.
Biarlah rumahku runtuh, baringkan sangkarku di tanah,
Buanglah sang jimat, itu hanyalah sebuah kenang2an, tidak lebih
Sampingkan jubahku, itu hanyalah baju luar ku,
Letakkan semua itu dalam kubur, biarkanlah terlupakan
Aku telah melanjutkan perjalananku dan kalian semua tertinggal.
Rumah kalian bukanlah tempat ku lagi.
Janganlah berpikir bahwa mati adalah kematian, tapi itu adalah kehidupan,
Kehidupan yang melampaui semua mimpi kita disini,
Di kehidupan ini, kita diberikan tidur,
Kematian adalah tidur, tidur yang diperpanjang
Janganlah takut ketika mati itu mendekat,
Itu hanyalah keberangkatan menuju rumah yang terberkati ini
Ingatlah akan ampunan dan cinta Tuhanmu,
Bersyukurlah pada KaruniaNya dan datanglah tanpa takut.
Aku yang sekarang ini, kau pun dapat menjadi
Karena aku tahu kau dan aku adalah sama
Jiwa-jiwa yang datang dari Tuhannya
Badan badan yang berasal sama
Baik atapun jahat, semua adalah milik kita
Aku sampaikan pada kalian sekarang pesan yang menggembirakan
Semoga kedamaian dan kegembiraan Allah menjadi milikmu selamanya.
KESETIAAN SEORANG ISTRI
Teguh dengan kesetiaan
yang jujur merupakan sifat wanita yang paling utama.
Foote Note
[1]. Thabaqaat Ibni Sa’ad (II/2080), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (II/36), Siyar A’laamin Nubalaa’ (II/286); al-Ishaabah (VII/491).
[2]. Thabaqaat Ibni Sa’ad (VIII/208).
[3]. Audatul Hijaab (II/533), dan dinisbatkan kepada ad-Durrul Mantsuur fii Thabaqaat Rabaatil Khuduur (hal. 517).
[4]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (VII/343).
[5]. ‘Audatul Hijaab (II/534).
[6]. As-Silsilah ash-Shahiihah, Syaikh al-Albani (no. 1281), shahih.
[7]. As-Silsilah ash-Shahiihah, Syaikh al-Albani (III/276), shahih.
[8]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (IV/278).
[9]. Akhbarun Nisaa’ (hal. 138), dan kitab ini dinisbatkan secara keliru kepada Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Yang benar bahwa beliau tidak pernah menulis kitab ini.
[10]. ‘Audatul Hijaab (II/538)
Ibroh:
Sebuah kisah menyebutkan, bahwasanya Asma’ binti ‘Umais adalah isteri Ja’far bin Abi Thalib, lalu menjadi isteri Abu Bakar sepeninggalnya, kemudian setelah itu dinikahi oleh ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu. Suatu kali kedua puteranya, Muhammad bin Ja’far dan Muhammad bin Abi Bakar saling membanggakan. Masing-masing mengatakan, “Aku lebih baik dibandingkan dirimu, ayahku lebih baik dibandingkan ayahmu.” Mendengar hal itu, ‘Ali berkata, “Putuskan perkara di antara keduanya, wahai Asma’.” Ia mengatakan, “Aku tidak melihat pemuda Arab yang lebih baik dibandingkan Ja’far dan aku tidak melihat pria tua yang lebih baik dibandingkan Abu Bakar.” ‘Ali mengatakan, “Engkau tidak menyisakan untuk kami sedikit pun. Seandainya engkau mengatakan selain yang engkau katakan, niscaya aku murka kepadamu.” Asma’ berkata, “Dari ketiganya, engkaulah yang paling sedikit dari mereka untuk dipilih” [1]
Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berwasiat agar Asma’ binti ‘Umais Radhiyallahu ‘anhuma memandikannya (saat kematiannya). Ia pun melakukannya, sedangkan ia dalam keadaan berpuasa. Lalu ia bertanya kepada kaum Muhajirin yang datang, “Aku berpuasa dan sekarang adalah hari yang sangat dingin, apakah aku wajib (harus) mandi?” Mereka menjawab, “Tidak.” Sebelumnya Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu menekankan kepadanya agar (ketika memandikannya) dia tidak dalam keadaan berpuasa, seraya mengatakan, “Itu membuatmu lebih kuat.” Kemudian ia teringat sumpah Abu Bakar pada akhir siang, maka ia meminta air lalu meminumnya seraya mengatakan, “Demi Allah, aku tidak ingin mengiringi sumpahnya pada hari ini dengan melanggarnya” [2]
Ketika kaum pendosa lagi fasik mengepung pemimpin yang berbakti dan “sang korban pembunuhan” kaum berdosa, ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu dan mereka menyerangnya dengan pedang, maka isterinya (Na’ilah binti al-Furafishah) maju ke hadapan beliau sehingga menjadi pelindung baginya dari kematian. Para pembunuh yang bengis ini tidak menghiraukan kehormatan wanita ini dan mereka terus menebas ‘Utsman dengan pedang, (namun sang isteri menangkisnya) dengan mengepalkan jari-jari tangannya, hingga jari-jarinya terlepas dari tangannya. Isterinya menggandengnya lalu terjatuh bersamanya, kemudian mereka membunuh ‘Utsman [3].
Ketika Amirul Mukminin Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu melamarnya, ia menolak seraya mengatakan, “Demi Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan kedudukan ‘Utsman (sebagai suamiku) selamanya.”[4]
Di antara tanda-tanda kesetiaan banyak wanita shalihah kepada suami mereka setelah kematiannya bahwa mereka tidak menikah lagi. Tidak ada yang dituju melainkan agar tetap menjadi isteri mereka di dalam Surga”[5]
Dari Maimun bin Mihran, ia mengatakan: “Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu meminang Ummud Darda’, tetapi ia menolak menikah dengannya seraya mengatakan, ‘Aku mendengar Abud Darda’ mengatakan: ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda.“ Artinya : Wanita itu bersama suaminya yang terakhir,’ atau beliau mengatakan, ‘untuk suaminya yang terakhir”[6]
Dari ‘Ikrimah bahwa Asma’ binti Abi Bakar menjadi isteri az-Zubair bin al-‘Awwam, dan dia keras terhadapnya. Lalu Asma’ datang kepada ayahnya untuk mengadukan hal itu kepadanya, maka dia mengatakan, “Wahai puteriku, bersabarlah! Sebab, jika wanita memiliki suami yang shalih, kemudian dia mati meninggalkannya, lalu ia tidak menikah sepeninggalnya, maka keduanya dikumpulkan di dalam Surga” [7]
Dari Jubair bin Nufair, dari Ummud Darda’ bahwa dia berkata kepada Abud Darda’, “Sesungguhnya engkau telah meminangku kepada kedua orang tuaku di dunia, lalu mereka menikahkanmu denganku. Dan sekarang, aku meminangmu kepada dirimu di akhirat.” Abud Darda’ mengatakan, “Kalau begitu, janganlah menikah sepeninggalku.” Ketika Mu’awiyah meminangnya, lalu ia menceritakan tentang apa
yang telah terjadi, maka Mu’awiyah mengatakan, “Berpuasalah! [8]
Ketika Sulaiman bin ‘Abdil Malik keluar dan dia disertai Sulaiman bin al-Muhlib bin Abi Shafrah dari Damaskus untuk melancong, keduanya melewati sebuah pekuburan. Tiba-tiba terdapat seorang wanita sedang duduk di atas pemakaman dengan keadaan menangis. Lalu angin berhembus sehingga menyingkap cadar dari wajahnya, maka ia seolah-olah mendung yang tersingkap matahari. Maka kami berdiri dalam keadaan tercengang. Kami memandangnya, lalu Ibnul Muhlib berkata kepadanya, “Wahai wanita hamba Allah, apakah engkau mau menjadi isteri Amirul Mukminin?” Ia memandang keduanya, kemudian memandang kuburan, dan mengatakan: “Jangan engkau bertanya tentang keinginanku Sebab keinginan itu pada orang yang dikuburkan ini, wahai pemuda Sesungguhnya aku malu kepadanya sedangkan tanah ada di antara kita Sebagaimana halnya aku malu kepadanya ketika dia melihatku” Maka, kami pergi dalam keadaan tercengang.[9]
Di antara teladan yang pantas disebutkan sebagai teladan utama dari para wanita tersebut adalah Fathimah binti ‘Abdil Malik bin Marwan. Fathimah binti Amirul Mukminin ‘Abdil Malik bin Marwan ini pada saat menikah, ayahnya memiliki kekuasaan yang sangat besar atas Syam, Irak, Hijaz, Yaman, Iran, Qafqasiya, Qarim dan wilayah di balik sungai hingga Bukhara dan Janwah bagian timur, juga Mesir, Sudan, Libya, Tunisia, Aljazair, Barat jauh, dan Spanyol bagian Barat. Fathimah ini bukan hanya puteri Khalifah Agung, bahkan dia juga saudara empat khalifah Islam terkemuka: al-Walid bin ‘Abdil Malik, Sulaiman bin ‘Abdil Malik, Yazid bin ‘Abdil Malik dan Hisyam bin ‘Abdil Malik. Lebih dari itu dia adalah isteri Khalifah terkemuka yang dikenal Islam setelah empat khalifah di awal Islam, yaitu Amirul Mukminin ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz. Puteri khalifah, dan khalifah adalah kakeknya Saudara khalifah, dan khalifah adalah suaminya Wanita mulia yang merupakan puteri khalifah dan saudara empat khalifah ini keluar dari rumah ayahnya menuju rumah suami-nya pada hari dia diboyong kepadanya dengan membawa harta termahal yang dimiliki seorang wanita di muka bumi ini berupa perhiasan. Konon, di antara perhiasan ini adalah dua liontin Maria yang termasyhur dalam sejarah dan sering disenandungkan para penya’ir. Sepasang liontin ini saja setara dengan harta karun. Ketika suaminya, Amirul Mukminin, memerintahkannya agar membawa semua perhiasannya ke Baitul Mal, dia tidak menolak dan tidak membantahnya sedikitpun. Wanita agung ini -lebih dari itu- ketika suaminya, Amirul Mukminin ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz wafat meninggalkannya tanpa meninggalkan sesuatu pun untuk diri dan anak-anaknya, kemudian pengurus Baitul Mal datang kepadanya dan mengatakan, “Perhiasanmu, wahai sayyidati, masih tetap seperti sedia kala, dan aku menilainya sebagai amanat (titipan) untukmu serta aku memeliharanya untuk hari tersebut. Dan sekarang, aku datang meminta izin kepadamu untuk membawa (kembali) perhiasan tersebut (kepadamu).” Fathimah memberi jawaban bahwa perhiasan tersebut telah dihibahkannya untuk Baitul Mal bagi kepentingan kaum muslimin, karena mentaati Amirul Mukminin. Kemudian dia mengatakan, “Apakah aku akan mentaatinya semasa hidupnya, dan aku mendurhakainya setelah kematiannya?” [10]
[Disalin dari kitab Isyratun
Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A
Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq,
Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]
__________Foote Note
[1]. Thabaqaat Ibni Sa’ad (II/2080), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (II/36), Siyar A’laamin Nubalaa’ (II/286); al-Ishaabah (VII/491).
[2]. Thabaqaat Ibni Sa’ad (VIII/208).
[3]. Audatul Hijaab (II/533), dan dinisbatkan kepada ad-Durrul Mantsuur fii Thabaqaat Rabaatil Khuduur (hal. 517).
[4]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (VII/343).
[5]. ‘Audatul Hijaab (II/534).
[6]. As-Silsilah ash-Shahiihah, Syaikh al-Albani (no. 1281), shahih.
[7]. As-Silsilah ash-Shahiihah, Syaikh al-Albani (III/276), shahih.
[8]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (IV/278).
[9]. Akhbarun Nisaa’ (hal. 138), dan kitab ini dinisbatkan secara keliru kepada Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Yang benar bahwa beliau tidak pernah menulis kitab ini.
[10]. ‘Audatul Hijaab (II/538)
Ibroh:
Subhanallah, Allah telah memberikan kita tauladan yang begitu mulia, yang begitu Agung… Semoga kita menjadi wanita sholehah, menjadi istri sholehah yang senantiasa taat terhadap suami kita, semoga Allah membuka pintu ridhoNya dan pintu surgaNya untuk kita semuanya.. Amin
Teruntuk Saudariku yang dicintai Allah, semoga Allah mengampuni seluruh kaum muslimin dan mukminin di dunia ini, dan menjadikan kita semua menjadi hamba2 yang selalu bertakwa dan berjuang untuk ridhoNya..
Teruntuk suamiku tercinta,
Jazakallah khoiron katsir suamiku, semoga Allah menjadikan keluarga kita sebagaimana keinginanmu, semoga Bunda bisa mendidik putra kita menjadi putra yang sholeh, qurrota’ayyun, dan pemimpin bagi orang2 yang bertakwa. Dan semoga Allah mengumpulkan kita sebagai keluarga dalam surgaNya Allah, sebagaimana pesanmu untukku wahai suamiku, Amin..
Ya Rabbi, kabulkanlah doa kami… Amin…
Salam rinduku untukmu suamiku, Semoga engkau ditempat yang lebih indah
BILA IBU BOLEH MEMILIH
Anakku…
Bila ibu boleh memilih…
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah Sembilan bulan nak…
Engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemana pun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata
Anakku…
Bila ibu boleh memilih…
Apakah ibu harus operasi caesar atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum di antara peluh dan erangan rasa sakit
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah…saat paling membahagiakan
Segala sakit dan derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu
Anakku…
Bila ibu boleh memilih…
Apakah ibu berdada indah atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu…
Maka ibu memilih menyusuimu
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu di dada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan
Anakku…
Bila ibu boleh memilih…
Duduk berlama-lama di ruang rapat atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu keping pun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…
MEMULIAKAN TAMU
Suatu hari Rasulullah kedatangan seorang tamu di rumahnya. Dari penampilan tamu itu bisa langsung ditebak, bahwa ia orang yang sangat miskin. Waktu itu Rasulullah sedang bercakap-cakap dengan tamunya. “Saya sedang dalam kesempitan, ya Rasulullah. Tak ada sesuatu pun yang aku punyai,” jelas tamu itu ketika ia dipersilahkan masuk ke dalam rumah oleh Rasulullah. Begitu tamu itu duduk, Rasulullah langsung beranjak ke belakang menemui istrinya. Kepada istrinya dikatakannya bahwa ada tamu yang dalam kesusahan datang, “Kita sendiri tidak mempunyai apa-apa yang bisa kita berikan, yang ada hanya air putih saja.”
Mendengar penjelasan istrinya itu, Rasulullah sedikit kecewa karena ia tak berkesempatan menjamu tamunya yang sedang dalam kesulitan. Rasulullah balik ke ruang tamu menemui para sahabatnya. “Siapa diantara kalian yang bersedia menjamu tamu malam ini ? Ia akan beroleh rahmat Allah S.W.T.” “Saya, ya Rasulullah. Biarlah tamu itu menginap di rumahku saja.” Salah satu diantara para sahabat Nabi itu menawarkan diri, yaitu orang Anshar.
Orang Anshar itu pulanglah. Sesampai di rumah ia menemui istrinya dan bertanya kepadanya tentang apa yang mereka miliki hari itu. “Ya, istriku. Tadi aku menyanggupi tawaran Rasulullah untuk menjamu tamunya yang sedang dalam kesulitan malam ini. Adakah makanan yang dapat kita jamukan untuk tamu kita itu ?”
“Sesungguhnya yang kita miliki cuma nasi untuk anak kita saja. Kalau ini kita sajikan, maka anak kita tidak dapat makanan malam ini.”
“Kalau begitu bujuklah anak kita untuk segera tidur agar ia tidak merasa kelaparan.”
“Tapi bagaimana ya, Nasi itu tinggal sedikit saja, tidak cukup untuk berdua.”
“Begini saja, waktu tamu itu sudah datang, dan pada saat saya persilahkan makan, kamu pura-pura tidak sengaja mengibaskan lilin itu sehingga padam. Nanti, tamu itu kita persilahkan makan pada waktu gelap. Saya akan menemaninya sambil berpura – pura makan juga. Bila selesai ia makan, maka usahakan lilin sudah bisa dinyalakan.”
“Baiklah ya suamiku, aku akan melakukan hal yang seperti itu.”
Pada waktu tamu itu datang, maka dilaksanakanlah sandiwara tersebut. Esok harinya ketika orang Anshar dan istrinya bertemu Nabi, sebelum sempat berkata apa – apa. Nabi langsung tersenyum sambil berkata kepda mereka, “Aku benar-benar kagum dan hormat terhadap usaha kalian berdua kepada tamumu semalam itu.”
Mendengar penjelasan istrinya itu, Rasulullah sedikit kecewa karena ia tak berkesempatan menjamu tamunya yang sedang dalam kesulitan. Rasulullah balik ke ruang tamu menemui para sahabatnya. “Siapa diantara kalian yang bersedia menjamu tamu malam ini ? Ia akan beroleh rahmat Allah S.W.T.” “Saya, ya Rasulullah. Biarlah tamu itu menginap di rumahku saja.” Salah satu diantara para sahabat Nabi itu menawarkan diri, yaitu orang Anshar.
Orang Anshar itu pulanglah. Sesampai di rumah ia menemui istrinya dan bertanya kepadanya tentang apa yang mereka miliki hari itu. “Ya, istriku. Tadi aku menyanggupi tawaran Rasulullah untuk menjamu tamunya yang sedang dalam kesulitan malam ini. Adakah makanan yang dapat kita jamukan untuk tamu kita itu ?”
“Sesungguhnya yang kita miliki cuma nasi untuk anak kita saja. Kalau ini kita sajikan, maka anak kita tidak dapat makanan malam ini.”
“Kalau begitu bujuklah anak kita untuk segera tidur agar ia tidak merasa kelaparan.”
“Tapi bagaimana ya, Nasi itu tinggal sedikit saja, tidak cukup untuk berdua.”
“Begini saja, waktu tamu itu sudah datang, dan pada saat saya persilahkan makan, kamu pura-pura tidak sengaja mengibaskan lilin itu sehingga padam. Nanti, tamu itu kita persilahkan makan pada waktu gelap. Saya akan menemaninya sambil berpura – pura makan juga. Bila selesai ia makan, maka usahakan lilin sudah bisa dinyalakan.”
“Baiklah ya suamiku, aku akan melakukan hal yang seperti itu.”
Pada waktu tamu itu datang, maka dilaksanakanlah sandiwara tersebut. Esok harinya ketika orang Anshar dan istrinya bertemu Nabi, sebelum sempat berkata apa – apa. Nabi langsung tersenyum sambil berkata kepda mereka, “Aku benar-benar kagum dan hormat terhadap usaha kalian berdua kepada tamumu semalam itu.”
IBLIS VS SEORANG SUAMI
Suami isteri itu hidup tenteram mula-mula. Meskipun melarat, mereka taat kepada perintah Tuhan. Segala yang dilarang Allah dihindari, dan ibadah mereka tekun sekali.
“Ini harus diberantas habis. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menyembah serta meminta selain Allah.” Maka pulanglah dia terburu.
Isterinya heran, mengapa secepat itu suaminya kembali. Lebih heran lagi waktu dilihatnya si suami mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam. Lantas lelaki alim tadi bergegas keluar. Isterinya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki keledainya dan dipacu cepat-cepat ke pohon itu.
Sebelum sampai di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompat sesosok tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis yang menyerupai sebagai manusia.
“Hai, mau ke mana kamu?” tanya si iblis.
Orang alim tersebut menjawab,
“Saya mau menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang roboh pohon syirik itu.”
“Kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah pulang saja.”
“Tidak boleh, kemungkaran mesti diberantas,” jawab si alim bersikap tegas.
“Berhenti, jangan teruskan!” bentak iblis marah.
“Akan saya teruskan!”
Karena masing-masing tegas pada pendirian, akhirnya terjadilah perkelahian antara orang alim tadi dengan iblis. Kalau melihat perbedaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah boleh dibinasakan. Namun ternyata iblis menyerah kalah, meminta-minta ampun. Kemudian dengan berdiri menahan kesakitan dia berkata,
“Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani lagi mengganggu tuan. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, apabila Tuan selesai menunaikan sembahyang Subuh, di bawah tikar sembahyang Tuan saya sediakan uang emas empat dinar. Pulang saja, jangan teruskan niat Tuan itu dulu,”
Mendengar janji iblis dengan uang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Ia teringatkan isterinya yang hidup berkekurangan. Ia teringat akan tuntutan isterinya setiap hari. Setiap pagi empat dinar, dalam sebulan saja dia sudah bisa menjadi orang kaya. Mengingatkan desakan-desakan isterinya itu maka pulanglah dia. Patah niatnya yang semula hendak memberantas kemungkaran.
Demikianlah, semenjak pagi itu isterinya tidak pernah marah lagi.
Hari pertama, ketika si alim selesai sembahyang, dibukanya tikar sembahyangnya. Betul di situ tergeletak empat benda berkilat, empat dinar uang emas. Dia meloncat riang, isterinya gembira.
Begitu juga hari yang kedua. Empat dinar emas. Ketika pada hari yang ketiga, matahari mulai terbit dan dia membuka tikar sembahyang, masih didapatinya uang itu. Tapi pada hari keempat dia mulai kecewa. Di bawah tikar sembahyangnya tidak ada apa-apa lagi keculai tikar pandan yang rapuh. Isterinya mulai marah karena uang yang kemarin sudah dihabiskan sama sekali. Si alim dengan lesu menjawab,
“Jangan kuatir, esok barangkali kita bakal dapat delapan dinar sekaligus.”
Keesokkan harinya, harap-harap cemas suami-isteri itu bangun pagi-pagi. Selesai sembahyang dibuka tikar sejadahnya kosong.
“Kurang ajar. Penipu,” teriak si isteri.
“Ambil kapak, tebanglah pohon itu.”
“Ya, memang dia telah menipuku. Akan aku habiskan pohon itu semuanya hingga ke ranting dan daun-daunnya,” sahut si alim itu.
Maka segera ia mengeluarkan keledainya. Sambil membawa kapak yang tajam dia memacu keledainya menuju ke arah pohon yang syirik itu. Di tengah jalan iblis yang berbadan tinggi besar tersebut sudah menghalang. Katanya menyorot tajam,
“mau ke mana kamu?” herdiknya menggegar.
“mau menebang pohon,” jawab si alim dengan gagah berani.
“Berhenti, jangan lanjutkan.”
“Bagaimanapun juga tidak boleh, sebelum pohon itu tumbang.”
Maka terjadilah kembali perkelahian yang hebat. Tetapi kali ini bukan iblis yang kalah, tapi si alim yang terkulai. Dalam kesakitan, si alim tadi bertanya penuh heran,
“Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?” Iblis itu dengan angkuh menjawab,
“Tentu saja engkau dahulu bisa menang, karena waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh belantaraku menyerangmu sekalipun, aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya karena tidak ada uang di bawah tikar sajadahmu. Maka biarpun kau keluarkan seluruh kemampuanmu, tidak mungkin kamu mampu menjatuhkan aku. Pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu.”
Mendengar penjelasan iblis ini si alim tadi termangu-mangu.
Ia merasa bersalah, dan niatnya memang sudah tidak ikhlas karena Allah lagi. Dengan terhuyung-hayang ia pulang ke rumahnya. Dibatalkan niat semula untuk menebang pohon itu.
Ia sadar bahwa perjuangannya yang sekarang adalah tanpa keikhlasan karena Allah, dan ia sadar perjuangan yang semacam itu tidak akan menghasilkan apa-apa selain dari kesia-siaan yang berkelanjutan . Sebab tujuannya adalah karena harta benda, mengatasi keutamaan Allah dan agama. Bukankah berarti ia menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsu semata-mata ?
“Barangsiapa di antaramu melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah (berusaha) memperbaikinya dengan tangannya (kekuasaan), bila tidak mungkin hendaklah berusaha memperbaikinya dengan lidahnya (nasihat), bila tidak mungkin pula, hendaklah mengingkari dengan hatinya (tinggalkan). Itulah selemah-lemah iman.” [Hadith Riwayat Muslim]
Si Suami adalah seorang yang alim yang taqwa dan tawakkal. Tetapi sudah beberapa lama isterinya mengeluh terhadap kemiskinan yang tiada habis-habisnya itu. Ia memaksa suaminya agar mencari jalan keluar. Ia membayangkan alangkah senangnya hidup jika segala-galanya serba cukup.
Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, mau mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan ia melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Ia mendekat. Ternyata orang-orang itu sedang memuja-muja pohon yang konon keramat dan sakti itu. Banyak juga kaum wanita dan pedagang-pedagang yang meminta-minta agar suami mereka setia atau dagangnya laris.
“Ini syirik,” fikir lelaki yang alim tadi.Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, mau mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan ia melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Ia mendekat. Ternyata orang-orang itu sedang memuja-muja pohon yang konon keramat dan sakti itu. Banyak juga kaum wanita dan pedagang-pedagang yang meminta-minta agar suami mereka setia atau dagangnya laris.
“Ini harus diberantas habis. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menyembah serta meminta selain Allah.” Maka pulanglah dia terburu.
Isterinya heran, mengapa secepat itu suaminya kembali. Lebih heran lagi waktu dilihatnya si suami mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam. Lantas lelaki alim tadi bergegas keluar. Isterinya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki keledainya dan dipacu cepat-cepat ke pohon itu.
Sebelum sampai di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompat sesosok tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis yang menyerupai sebagai manusia.
“Hai, mau ke mana kamu?” tanya si iblis.
Orang alim tersebut menjawab,
“Saya mau menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang roboh pohon syirik itu.”
“Kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah pulang saja.”
“Tidak boleh, kemungkaran mesti diberantas,” jawab si alim bersikap tegas.
“Berhenti, jangan teruskan!” bentak iblis marah.
“Akan saya teruskan!”
Karena masing-masing tegas pada pendirian, akhirnya terjadilah perkelahian antara orang alim tadi dengan iblis. Kalau melihat perbedaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah boleh dibinasakan. Namun ternyata iblis menyerah kalah, meminta-minta ampun. Kemudian dengan berdiri menahan kesakitan dia berkata,
“Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani lagi mengganggu tuan. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, apabila Tuan selesai menunaikan sembahyang Subuh, di bawah tikar sembahyang Tuan saya sediakan uang emas empat dinar. Pulang saja, jangan teruskan niat Tuan itu dulu,”
Mendengar janji iblis dengan uang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Ia teringatkan isterinya yang hidup berkekurangan. Ia teringat akan tuntutan isterinya setiap hari. Setiap pagi empat dinar, dalam sebulan saja dia sudah bisa menjadi orang kaya. Mengingatkan desakan-desakan isterinya itu maka pulanglah dia. Patah niatnya yang semula hendak memberantas kemungkaran.
Demikianlah, semenjak pagi itu isterinya tidak pernah marah lagi.
Hari pertama, ketika si alim selesai sembahyang, dibukanya tikar sembahyangnya. Betul di situ tergeletak empat benda berkilat, empat dinar uang emas. Dia meloncat riang, isterinya gembira.
Begitu juga hari yang kedua. Empat dinar emas. Ketika pada hari yang ketiga, matahari mulai terbit dan dia membuka tikar sembahyang, masih didapatinya uang itu. Tapi pada hari keempat dia mulai kecewa. Di bawah tikar sembahyangnya tidak ada apa-apa lagi keculai tikar pandan yang rapuh. Isterinya mulai marah karena uang yang kemarin sudah dihabiskan sama sekali. Si alim dengan lesu menjawab,
“Jangan kuatir, esok barangkali kita bakal dapat delapan dinar sekaligus.”
Keesokkan harinya, harap-harap cemas suami-isteri itu bangun pagi-pagi. Selesai sembahyang dibuka tikar sejadahnya kosong.
“Kurang ajar. Penipu,” teriak si isteri.
“Ambil kapak, tebanglah pohon itu.”
“Ya, memang dia telah menipuku. Akan aku habiskan pohon itu semuanya hingga ke ranting dan daun-daunnya,” sahut si alim itu.
Maka segera ia mengeluarkan keledainya. Sambil membawa kapak yang tajam dia memacu keledainya menuju ke arah pohon yang syirik itu. Di tengah jalan iblis yang berbadan tinggi besar tersebut sudah menghalang. Katanya menyorot tajam,
“mau ke mana kamu?” herdiknya menggegar.
“mau menebang pohon,” jawab si alim dengan gagah berani.
“Berhenti, jangan lanjutkan.”
“Bagaimanapun juga tidak boleh, sebelum pohon itu tumbang.”
Maka terjadilah kembali perkelahian yang hebat. Tetapi kali ini bukan iblis yang kalah, tapi si alim yang terkulai. Dalam kesakitan, si alim tadi bertanya penuh heran,
“Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?” Iblis itu dengan angkuh menjawab,
“Tentu saja engkau dahulu bisa menang, karena waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh belantaraku menyerangmu sekalipun, aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya karena tidak ada uang di bawah tikar sajadahmu. Maka biarpun kau keluarkan seluruh kemampuanmu, tidak mungkin kamu mampu menjatuhkan aku. Pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu.”
Mendengar penjelasan iblis ini si alim tadi termangu-mangu.
Ia merasa bersalah, dan niatnya memang sudah tidak ikhlas karena Allah lagi. Dengan terhuyung-hayang ia pulang ke rumahnya. Dibatalkan niat semula untuk menebang pohon itu.
Ia sadar bahwa perjuangannya yang sekarang adalah tanpa keikhlasan karena Allah, dan ia sadar perjuangan yang semacam itu tidak akan menghasilkan apa-apa selain dari kesia-siaan yang berkelanjutan . Sebab tujuannya adalah karena harta benda, mengatasi keutamaan Allah dan agama. Bukankah berarti ia menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsu semata-mata ?
“Barangsiapa di antaramu melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah (berusaha) memperbaikinya dengan tangannya (kekuasaan), bila tidak mungkin hendaklah berusaha memperbaikinya dengan lidahnya (nasihat), bila tidak mungkin pula, hendaklah mengingkari dengan hatinya (tinggalkan). Itulah selemah-lemah iman.” [Hadith Riwayat Muslim]
Langganan:
Postingan (Atom)


















