Senin, 25 Juni 2012

RATAPAN SEORANG AYAH

Dulu..
Aku tak pernah berharap punya anak memalukan seperti kamu. Yang hanya menimpakan aib dan sampah ke muka ayahmu ini.
Harapanku, kau anak manis berakhlak dan berbudi seperti fatimah putri nabi.

... Dulu ku Gadang dan ku timang-timang kau layaknya seorang anak yang berbakti kepadaku dan ibumu. Harapan seorang ayah pada anaknya. Tapi kini... Semua harapan orang tua renta ini hancur berkeping-keping setelah kau hamil 2 Bulan.

Huh..
Mukaku hancur tanpa rupa, hatiku remuk tak terkira, dan kehormatanku pun tercabik-cabik oleh tingkahmu yang menjijikkan.
Kini.. Ayahmu ini tak layak lagi disebut manusia. Aku hanyalah najis dan sampah yang tak tahu kemana lagi harus menaruh muka. Harapanku menjadi ayah teladan, punah sudah, angan-angan menjadi ayah yang berbangga dengan prestasi anaknya, musnah diterpa kehancuran akhlak dan moralmu.

Ya robb..
Apa salah bundanya mengandung, apa kurang aku mendukung?
Anak yang ku damba sebagai kebanggaan di akhirat, kini nyatanya hanya jadi bahan tertawaan di tengah masyarakat.
Anak yang ku damba sebagai penerus keturunan dan pejuang agama, ternyata hanya akan jadi bahan bakar neraka.

Oh ya Allah..
Kini, aku dan ibunya, hanya mampu berdiri dengan satu kaki. Tubuh kami bergerak, tapi mati hakikatnya.
Aku hidup dan bernafas, tapi bangkai hakikatnya.
Ibunya menangis air mata, tapi darah hakikatnya.
Andai saja, ia masih kecil dan nakal, mungkin aku akan jewer kupingnya. Tapi kini, jewer pun tak akan mampu menjadikannya sebagai anak yang shalihah.

Jangan biarkan ayah jelek tak punya muka ini, lebih sengsara menahan luka. Kini, harapan hidup hanya sejengkal tanah, harapan sembuh dari duka hanya isapan jempol belaka.

Hai anakku,
Kenapa tak kau tancapkan saja pisau belati ke perut ibumu? Supaya dia tak menyesal melahirkan kamu.
Kenapa tak kau hancurkan kepala ayahmu ini dengan batu, supaya ia dapat mati dengan terhormat?

Biarlah..
Allah sendiri yang menghukummu di neraka, karena kau tak patuh pada ajaranNya dan Rasulnya.
Dan kini... Tinggalkan ayah dan ibumu ini, meratapi nasib sepanjang masa. Dan jangan kau tengok lagi kalau kami sakit, sebab kau sudah menyakiti kami.
Jangan pula kau layat jenazah ayah ibumu kalau kami mati, sebab kami telah mati sebelum waktunya...
Kau telah membunuhnya.


(Buah Kecil Kebahagiaan, Karya Jun Haris)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar