Dulu..
Aku tak pernah berharap punya anak memalukan seperti kamu.
Yang hanya menimpakan aib dan sampah ke muka ayahmu ini.
Harapanku,
kau anak manis berakhlak dan berbudi seperti fatimah putri nabi.
...
Dulu ku Gadang dan ku timang-timang kau layaknya seorang anak yang
berbakti kepadaku dan ibumu. Harapan seorang ayah pada anaknya. Tapi
kini... Semua harapan orang tua renta ini hancur berkeping-keping
setelah kau hamil 2 Bulan.
Huh..
Mukaku hancur tanpa rupa,
hatiku remuk tak terkira, dan kehormatanku pun tercabik-cabik oleh
tingkahmu yang menjijikkan.
Kini.. Ayahmu ini tak layak lagi disebut
manusia. Aku hanyalah najis dan sampah yang tak tahu kemana lagi harus
menaruh muka. Harapanku menjadi ayah teladan, punah sudah, angan-angan
menjadi ayah yang berbangga dengan prestasi anaknya, musnah diterpa
kehancuran akhlak dan moralmu.
Ya robb..
Apa salah bundanya
mengandung, apa kurang aku mendukung?
Anak yang ku damba sebagai
kebanggaan di akhirat, kini nyatanya hanya jadi bahan tertawaan di
tengah masyarakat.
Anak yang ku damba sebagai penerus keturunan dan
pejuang agama, ternyata hanya akan jadi bahan bakar neraka.
Oh
ya Allah..
Kini, aku dan ibunya, hanya mampu berdiri dengan satu
kaki. Tubuh kami bergerak, tapi mati hakikatnya.
Aku hidup dan
bernafas, tapi bangkai hakikatnya.
Ibunya menangis air mata, tapi
darah hakikatnya.
Andai saja, ia masih kecil dan nakal, mungkin aku
akan jewer kupingnya. Tapi kini, jewer pun tak akan mampu menjadikannya
sebagai anak yang shalihah.
Jangan biarkan ayah jelek tak punya
muka ini, lebih sengsara menahan luka. Kini, harapan hidup hanya
sejengkal tanah, harapan sembuh dari duka hanya isapan jempol belaka.
Hai anakku,
Kenapa tak kau tancapkan saja pisau belati ke
perut ibumu? Supaya dia tak menyesal melahirkan kamu.
Kenapa tak kau
hancurkan kepala ayahmu ini dengan batu, supaya ia dapat mati dengan
terhormat?
Biarlah..
Allah sendiri yang menghukummu di
neraka, karena kau tak patuh pada ajaranNya dan Rasulnya.
Dan
kini... Tinggalkan ayah dan ibumu ini, meratapi nasib sepanjang masa.
Dan jangan kau tengok lagi kalau kami sakit, sebab kau sudah menyakiti
kami.
Jangan pula kau layat jenazah ayah ibumu kalau kami mati,
sebab kami telah mati sebelum waktunya...
Kau telah membunuhnya.
(Buah Kecil Kebahagiaan, Karya Jun Haris)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar